Beranda
>
Gagasan
>
Artikel

Analytical Thinking: Definisi, Manfaat, dan Cara Meningkatkannya


16 May 2024
cover-artikel-putih.jpg

Kemampuan analytical thinking adalah salah satu skill yang krusial untuk Anda miliki dalam dunia kerja. 

Mulai dari masa mencari pekerjaan atau job seeker, mencantumkan kemampuan analytical bisa menjadi value atau nilai tersendiri untuk Anda. 

Kemampuan ini termasuk dalam soft skill yang bisa didapatkan dan dikembangkan dari pengalaman yang beragam serta refleksi diri terhadap pekerjaan. 

Memiliki kemampuan analytical thinking di dunia kerja tentu akan memberikan keuntungan dan membantu Anda mencapai tujuan profesional dengan lebih baik. 

Apa sebenarnya analytical thinking dan bagaimana meningkatkan kemampuan ini? Dalam artikel ini, akan dijelaskan mengenai definisi analytical thinking, manfaat yang diberikan, hingga cara meningkatkannya. 

Definisi Analytical Thinking

Dikutip Indeed, analytical skills atau kemampuan analitik adalah kemampuan yang membuat Anda dapat melakukan observasi, riset, dan menginterpretasikan sebuah subjek untuk mengembangkan ide yang kompleks dan solusi. 

Sementara itu, apa yang dimaksud dengan analytical thinking adalah saat Anda menggunakan kemampuan-kemampuan ini secara bersamaan untuk menyelesaikan sesuatu.

Ada banyak sekali pekerjaan yang menuntut Anda untuk mampu berpikir secara analitik. Bukan hanya profesional, kemampuan ini juga akan menguntungkan untuk digunakan dalam kehidupan pribadi. 

Anda juga tidak bisa begitu saja mendapatkan kemampuan analytical thinking. Perlu trial dan error serta proses yang tidak sebentar untuk akhirnya Anda dapat memberikan suatu solusi untuk permasalahan tertentu.

Melalui pengalaman serta trial dan error, Anda yang memiliki analytical thinking adalah orang-orang yang bisa menganalisis situasi, topik, dan masalah dengan cepat yang umumnya terjadi dalam dunia kerja.

Itulah mengapa memiliki kemampuan ini akan membantu Anda meraih tujuan utama pada setiap pekerjaan yang Anda kerjakan.

Manfaat Analytical Thinking

Kemampuan analytical thinking akan sangat berguna untuk manajemen data dan bidang IT, tapi sebenarnya kemampuan analitik atau analytical skills sangat bernilai di berbagai jenis industri dan jenjang karier. 

Saat Anda menjadi job seeker dan memiliki kemampuan analytical thinking yang kuat, perusahaan akan lebih tertarik karena kemampuan tersebut memiliki potensi untuk dapat meningkatkan operasional perusahaan. 

Berikut ini adalah beberapa manfaat dari analytical thinking:

  • membantu pengerjaan tugas yang kompleks dengan lebih efektif;

  • menyelesaikan masalah kompleks dengan cara yang lebih sistematis;

  • mengantisipasi datangnya masalah serta mampu merencanakan penyelesaiannya;

  • memudahkan Anda mencari alternatif atau pilihan solusi saat menghadapi masalah;

  • membantu pembuatan kebijakan dan keputusan yang data-based atau berdasarkan data; dan

  • mengidentifikasi masalah dan mengatasinya dengan efektif.

Cara Kerja Analytical Thinking

Elemen penting dalam analytical thinking adalah kemampuan untuk mengidentifikasi penyebab dan dampak dari suatu permasalahan.

Pada konteks pekerjaan, saat menghadapi masalah, untuk menerapkan analytical thinking, Anda perlu mengetahui terlebih dulu penyebab permasalahan tersebut. Proses untuk mengaplikasikan kemampuan analitik yaitu sebagai berikut:

  1. Mengidentifikasi topik, permasalahan, dan isu yang ada.

  2. Mengumpulkan informasi melalui tes dan observasi.

  3. Mengembangkan solusi atau mendalami pemahaman dari topik yang ada.

  4. Mencoba solusi dan ide baru yang telah dipelajari.

  5. Meninjau kembali solusi apa yang dapat bekerja untuk menilai dan menerapkan pengetahuan baru.

Cara Meningkatkan Analytical Thinking 

Ada beberapa cara atau metode yang efektif untuk meningkatkan kemampuan analytical thinking yang Anda miliki. Berikut adalah cara meningkatkannya:

1. Membaca Buku atau Bermain Permainan Otak

Bagian penting untuk menjadi seseorang yang memiliki analytical thinking adalah dengan banyak membaca buku. Membaca dalam keseharian akan membuat pikiran Anda terus berjalan dan memaksa otak memikirkan ide. 

Selain itu, membaca juga bisa memberikan sudut pandang yang berbeda sehingga memperluas cara berpikir. 

Jika Anda kesulitan untuk langsung membaca buku-buku penting ini, Anda bisa mulai juga dengan melakukan permainan atau games yang melatih otak. 

Brain games akan membuat Anda berpikir lebih dalam dan mengutamakan logika. Banyak yang menggunakan metode bermain game ini untuk mempertajam kemampuan analitik.

2. Belajar Hal-hal Baru

Terus belajar dan menambah pengetahuan baru dapat meningkatkan kemampuan dan proses berpikir analitik Anda. 

Semakin banyak yang Anda pelajari, maka semakin banyak juga pilihan dan informasi dalam penyelesaian masalah dan analisis situasi. 

Tidak bisa dipungkiri bahwa setelah menyelesaikan sekolah/kuliah formal, banyak orang cenderung menjadi passive learners. Itulah mengapa penting untuk terus mempelajari hal-hal baru.

Ini akan membuat Anda lebih termotivasi dan menambah pengetahuan yang Anda tidak tahu sebelumnya.

3. Perhatikan Detail

Lebih perhatian dengan sekitar dan memperhatikan detail merupakan cara untuk meningkatkan analytical thinking selanjutnya. Coba untuk memperhatikan dengan detail apa yang terjadi di sekitarmu dan berlatih untuk menjadi pengamat yang baik. Ini akan membantu Anda lebih peka dalam menganalisis situasi. 

4. Ikuti Kelas Khusus/Pelatihan

Pengetahuan dan wawasan tentang analytical thinking juga bisa Anda dapatkan melalui kelas atau pelatihan. Saat ini tentu sudah banyak webinar yang menyediakan topik pembelajaran terkait analytical thinking dan soft skill lain yang mungkin dibutuhkan dalam dunia kerja. 

5. Jangan Takut Bertanya

Baik saat mengikuti pelatihan atau dalam lingkup pekerjaan, tidak takut bertanya dan meminta mentoring dengan atasan maupun pembicara adalah hal yang bisa Anda lakukan untuk meningkatkan kemampuan ini.

Menunjukkan apa yang ingin Anda ketahui dengan pertanyaan akan menambah sudut pandang sekaligus mengonfirmasi pemahaman yang Anda miliki. 

6. Membuat Kerangka Berpikir

Analytical thinking berfokus pada penyelesaian masalah dengan sistematis. Itulah mengapa jika masih kesulitan, Anda bisa membuat kerangka berpikir. 

Kerangka berpikir bertujuan untuk memudahkan Anda memetakan masalah dan mencari solusi dari masalah yang ada.

Itu dia penjelasan mengenai analytical thinking. Selain kemampuan berpikir analitik, dalam pekerjaan juga penting memiliki cara berpikir yang memadukan pemikiran analitik serta pemikiran yang lebih intuitif seperti design thinking. 

Kombinasi keduanya bisa menghasilkan solusi sekaligus peluang lebih kreatif dan ide-ide inovatif. Anda bisa mengikuti program Design Thinking for Business Innovation untuk lebih mendalami bagaimana cara berpikir yang tepat dalam bisnis. 

Tunggu apalagi? Daftar kelas Design Thinking for Business Innovation di prasmul-eli sekarang!

ARTIKEL TERKAIT
Banner-Article-Juni-No.10.jpg
Manajemen Perubahan: Arti, Manfaat, Framework, dan Langkah Melakukannya
18 June 2024

Dalam sebuah perusahaan, perubahan dapat mengakibatkan menurunnya produktivitas kerja hingga kerugian. Maka dari itu, dibutuhkan manajemen perubahan yang tepat.

Ada berapa jenis framework yang bisa Anda gunakan untuk memastikan perubahan dalam bisnis dapat dijalankan dan diterima dengan baik. Dalam artikel ini akan kami jelaskan secara lengkap mengenai manajemen perubahan.

Apa Itu Manajemen Perubahan?

Manajemen perubahan adalah langkah sistematis yang harus diambil perusahaan dalam melaksanakan perubahan organisasi, operasional, hingga proses adaptasi teknologi. Dengan kata lain, perusahaan harus memastikan perubahan tetap berjalan sembari mengarahkan karyawan untuk mengambil bagian di dalamnya.

Menurut TechTarget, perubahan dalam perusahaan, dalam skala apa pun, dapat menyebabkan stres dan rasa tidak nyaman. Menurunnya produktivitas dan kepuasan kerja hanya sebagian kecil dari dampak buruk perubahan yang tidak rapi.

Sebelum melakukan perubahan dalam perusahaan, Anda harus mempertimbangkan hal-hal berikut:

  • Dampak perubahan terhadap operasional dan kondisi karyawan.

  • Siapkan tahapan yang jelas serta jadwal implementasi.

  • Dokumentasi semua tahapan dan proses perubahan agar tidak ada yang terlewat.

Semua pertimbangan di atas akan membentuk rencana manajemen perubahan yang tepat. Anda juga dapat memilih framework yang sesuai dengan jenis perubahan serta seluruh karyawan.

Manfaat Manajemen Perubahan

Jika perusahaan memiliki rencana manajemen perubahan yang terstruktur dan sistematis, berikut adalah sejumlah manfaat yang akan dirasakan:

  • Bagi perusahaan

    • Sistem dan dokumentasi yang lengkap.

    • Memastikan kesamaan perubahan yang diharapkan dan yang terjadi.

    • Sistem automasi dapat diadopsi dengan tepat dan cepat.

    • Dapat mengidentifikasi apa yang harus diubah dan dihilangkan.

    • Dapat menentukan infrastruktur yang dapat diubah fungsinya.

  • Bagi karyawan

    • Memahami alasan-alasan serta solusi-solusi yang dilakukan perusahaan dalam proses perubahan.

    • Memahami peran serta dampak yang dapat diberikan selama proses perubahan.

    • Menyamakan cara pandang dan perasaan setiap karyawan terhadap perubahan.

    • Memahami bahwa masa depan dirinya dan perusahaan ada pada jalan yang sama.

    • Dapat membandingkan harapan dan fakta perubahaan yang akan terjadi.

Jenis Framework Manajemen Perubahan

Seperti yang telah disebutkan di atas, ada berapa jenis framework manajemen perubahan untuk memastikan prosesnya lancar. Merangkum Apty, berikut adalah empat framework yang umum digunakan perusahaan dalam melakukan manajemen perubahan. 

  1. Manajemen perubahan Kotter

Framework ini dipopulerkan oleh profesor dari Harvard, John Kotter. Proses yang diperkenalkannya populer dan dipakai banyak perusahaan sejak 1996. 

Kotter membagi proses manajemen perubahan dalam delapan langkah penting.

  1. Menciptakan urgensi untuk sebuah perubahan.

  2. Membangun kerja sama dalam organisasi untuk menunjang perubahan.

  3. Menciptakan visi yang strategis dan realistis.

  4. Dapat menyampaikan visi dengan baik dan jelas.

  5. Mendorong berbagai pihak untuk mengambil bagian dalam proses.

  6. Merayakan seluruh pencapaian kecil dan jangka pendek.

  7. Menjaga durasi dan kecepatan proses perubahan.

  8. Memupuk dan membentuk budaya perusahaan dalam perusahaan.

Ketika menciptakan urgensi untuk sebuah perubahan, Anda harus dapat menyampaikan alasan dan masalah yang coba diselesaikan. Pastikan informasi tersebut disampaikan secara transparan pada karyawan.

  1. Model manajemen perubahan Lewin

Model manajemen perubahan ini cukup sederhana, Lurt Lewin memaparkan tiga fase berikut.

  1. Unfreeze

Fase ini digunakan untuk memetakan apa saja yang harus diubah dan persiapan seperti apa yang dibutuhkan. Secara detail, perhatikan tiga hal berikut:

  • Putuskan apa yang harus diubah.
  • Analisis operasional perusahaan saat ini dan perubahan apa yang harus dilakukan.
  • Mengomunikasikan perubahan secara transparan.
  1. Change

Fase ini adalah saat semua perubahan mulai diimplementasi. Pastikan dua hal ini dilakukan:

  • Memastikan semua karyawan memahami dampak positif dari perubahaan.
  • Berikan pelatihan dan waktu bagi karyawan untuk beradaptasi.
  1. Refreeze

Fase terakhir ini adalah untuk memastikan perubahan terlaksana dengan tepat. Tiga hal yang harus dilakukan adalah:

  • Sampaikan lagi tujuan dan dampak yang akan terjadi dari perubahan pada internal perusahaan.

  • Pastikan stabilitas perusahaan selama dan setelah perubahan.

  • Rayakan sukses dan keberhasilan melakukan perubahan.

  1. PDSA

Manajemen perubahan ini merupakan framework yang mengutamakan kelanjutan. Artinya, meskipun perubahan telah diimplementasi, prosesnya akan terus dioptimasi dan dikembangkan. Tahapan PDSA adalah:

  • Plan – Mengidentifikasi perubahan dan menyusun rencana.
  • Do – Lakukan perubahan dari skala terkecil.
  • Study – Analisis hasil perubahan dan identifikasi pola yang sukses serta perlu dikoreksi.
  • Act – Mengambil keputusan dan mengimplementasikan perubahan berdasarkan analisis serta pelajaran yang diambil.

Manajemen perubahan ini membantu perusahaan dan karyawan untuk tetap fleksibel serta berkembang.

  1. Model ADKAR dari Prosci

Framework ini mengutamakan hasil yang dirasakan dalam manajemen perubahan. Prosci memaparkan lima hasil atau pencapaian ini:

  • Awareness – Manajemen perusahaan menjelaskan perubahan yang akan terjadi dan penyebabnya.
  • Desire – Jajaran pemimpin dan manajer meminta dukungan karyawan lewat studi kasus dan fakta kondisi perusahaan. Disarankan untuk melakukan 1-on-1 untuk memahami pendapat dan kekhawatiran karyawan.
  • Knowledge – Perubahan diimplementasi secara menyeluruh. Perusahaan harus mengadakan pelatihan untuk mendukung karyawan beradaptasi.
  • Ability – Karyawan akan mulai mengaplikasikan perubahan dalam pekerjaannya sehari-hari.
  • Reinforcement – Berikan apresiasi kepada karyawan karena telah menjalankan dan menyukseskan perubahan.

Langkah Melakukan Manajemen Perubahan

Jika dilihat dari ragam framework di atas, langkah kunci untuk manajemen perubahan yang efektif adalah:

  1. Pemimpin yang terbuka

Mengutip Asis Online, perasaan frustasi dan ketidakpastian dalam sebuah perubahan dapat diatasi dengan perusahaan yang dapat merangkul semua pihak serta terbuka. Stakeholder internal, klien, karyawan, hingga konsumen harus mendapatkan penjelasan yang lengkap serta memahami langkah baru yang akan diambil perusahaan. Pemimpin yang tepat akan memastikan semua hal itu terjadi.

  1. Keterlibatan semua pihak terkait

Masih berkaitan dengan poin sebelumya, perubahan membutuhkan bantuan dari seluruh pihak dalam perusahaan. Setiap tim, stakeholder, dan karyawan harus sama-sama menjalankan serta mendukung proses perubahan.

  1. Komunikasi yang terbuka dan jelas

Dapat disimpulkan dari ragam framework di atas, komunikasi yang transparan, intensif, efektif, dan personal dapat membantu proses perubahan berjalan lancar.

  1. Pelatihan terkait perubahan

Karyawan harus mendapatkan pelatihan serta diberikan waktu yang realistis untuk beradaptasi pada perubahan. Manajer dapat mengadakan sesi 1-on-1 untuk memastikan kondisi karyawan.

  1. Metrik kesuksesan yang jelas

Terakhir adalah menentukan target kesuksesan yang realistis dan jelas. Rasa frustrasi dan ketidakpastian dapat terjadi akibat metrik yang “terlalu tinggi” atau mustahil dicapai dalam rentang waktu singkat.

Itulah rangkuman mengenai manajemen perubahan agar perusahaan dapat menghindari masalah yang dapat memberikan dampak buruk.

Melalui manajemen perubahan yang tepat tentu akan menyatukan misi dan visi pemimpin dengan karyawan. Karena itu, manajemen perubahan adalah proses yang harus dipersiapkan dengan matang.

Sebelum membuat keputusan, sebaiknya pelajari dulu proses perubahan dan manajemennya. 

Bergabunglah dengan short program prasmul-eli dan pelajari ragam proses perubahan dan manajemennya!
Klik di sini sekarang untuk temukan kelas dan programnya!

Banner-Article-Feb-12 (1).jpg
Perbedaan CBO dan COO dalam Operasional Perusahaan
29 May 2024

Banyak hal yang makin berkembang seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan bisnis di perusahaan. Karena itu, biasanya ditentukan peran eksekutif yang lebih spesifik dalam menangani masalah-masalah yang menjadi hambatan dalam mengembangkan perusahaan.

Dalam merancang dan mengeksekusi strategi perusahaan, biasanya dibutuhkan kontribusi dari Chief Business Officer (CBO) dan Chief Operating Officer (COO). Meski dalam praktiknya terdapat beberapa kesamaan, tapi tugas dan keterampilan yang dibutuhkan justru berbeda.

Hal inilah yang menyebabkan adanya peran CBO dan COO sekaligus dalam sebuah perusahaan. Secara spesifik, terdapat beberapa pertanyaan yang sering ditanyakan dan menjadi pembeda antara peran CBO dan COO.

Perbedaan CBO dan COO

Meski seringkali dipahami sebagai jabatan yang bisa digunakan bergantian, kualifikasi dan tujuan dari peran CBO dan COO dipisahkan oleh beberapa perbedaan utama di antaranya sebagai berikut.

1. Tugas yang dilakukan

Seorang CBO memiliki tugas untuk mengawasi seluruh operasional perusahaan yang menghasilkan keuntungan. Hal ini biasanya mencakup seluruh departemen perusahaan dan mungkin melibatkan keputusan strategis yang selaras dengan tujuan perusahaan.

CBO mengawasi efektivitas bisnis serta merekomendasikan hal-hal yang perlu diperbaiki dalam operasional perusahaan. Dalam mengoptimalkan talenta organisasi, CBO juga berpartisipasi dalam pengelolaan SDM termasuk proses rekrutmen atau learning and development. Mereka dapat meninjau dokumen, pernyataan, dan laporan keuangan untuk mengetahui pemenuhan target perusahaan dan mengidentifikasi serta memperbaiki risiko.

Sementara itu, seorang COO mengawasi fungsi administratif dan operasional harian bersama CEO. Dalam beberapa situasi, mereka mungkin juga mengelola satu departemen untuk menyusun strategi keberlanjutan perusahaan. COO mengkomunikasikannya kepada karyawan dan memastikan tugas-tugasnya sudah selaras dengan tujuan yang ingin dicapai oleh perusahaan. Jika diperlukan, COO juga membantu pengelolaan sumber daya manusia.

2. Kondisi pekerjaan

Biasanya, CBO lebih banyak menghabiskan jam kerja mereka di lingkungan kantor. CBO akan mendukung inisiatif strategis melalui pertemuan dengan karyawan atau bermitra dengan klien. Jam kerja CBO sering kali sama dengan karyawan, meskipun mungkin lembur pada peak season.

COO bekerja secara independen, tapi bisa berkolaborasi secara teratur dengan tim yang terpilih untuk menyelesaikan inisiatif tertentu. Lingkungan kerja COO berlangsung serbacepat dan mungkin bekerja berjam-jam untuk memastikan proses produksi berjalan lancar. COO mungkin juga melakukan perjalanan untuk bertemu supplier atau klien.

3. Keterampilan dan kemampuan

Sebenarnya, persyaratan keterampilan CBO dan COO serupa, tapi memiliki perbedaan tertentu. Keduanya perlu memiliki keterampilan komunikasi verbal dan tertulis yang efektif agar bisa memberi instruksi pada karyawan dan memberikan laporan pada CEO.

Baik CBO dan COO juga memerlukan kemampuan mengidentifikasi masalah, pengembangan solusi, dan pemecahan masalah. Keduanya memerlukan kemampuan berpikir strategis agar dapat mengambil keputusan yang berdampak positif bagi perusahaan.

Namun, perbedaan utama peran CBO lebih berfokus pada aspek keuangan perusahaan sehingga diperlukan keterampilan keuangan atau akuntansi yang kuat. Sementara itu, COO akan mengawasi operasional sehari-hari sehingga keterampilan yang dibutuhkannya adalah pemahaman tentang proses perusahaan dan organisasi.

4. Persyaratan jabatan

Sebagai posisi eksekutif perusahaan, CBO dan COO biasanya sama-sama mensyaratkan gelar sarjana atau bahkan master (pascasarjana). Latar belakang pendidikan CBO dan COO bisa berasal dari jurusan keuangan, ekonomi, atau administrasi bisnis. Biasanya, posisi eksekutif tersebut juga mensyaratkan 10—15 tahun pengalaman kerja untuk memastikan bahwa mereka sudah memahami berbagai proses, prosedur, dan kebijakan organisasi.

Jika dilihat dari tanggung jawabnya, CBO dan COO sama-sama memiliki fokus peran dalam operasional bisnis. Dalam hal ini CBO lebih fokus pada operasi-operasi bisnis, sedangkan COO melihat operasional sehari-hari. Artinya, CBO memiliki peran yang ruang lingkupnya lebih luas dengan peran strategi integrasi antar departemen, mendorong pengembangan bisnis, dan fokus dalam pertumbuhan jangka panjang.

Banner-Article-Feb-11.jpg
Apa Itu Chief Business Officer dan Perannya dalam Perusahaan
29 May 2024

Jajaran manajerial memiliki peran yang penting baik dalam urusan operasional maupun administrasi sebuah perusahaan. Makin besar skala perusahaan, makin banyak kepentingan yang harus diselesaikan. Biasanya, hal tersebut mendorong perusahaan untuk menunjuk peran eksekutif dalam tatanan organisasi.

Perusahaan yang sudah memiliki banyak kepentingan juga akan melibatkan banyak orang sehingga perlu penanggung jawab di setiap bidangnya. Peran tersebut dikenal dengan C-level management yang merepresentasikan posisi chief atau kepala dari setiap departemen.

Posisi eksekutif sering kali terdiri atas peran Chief Executive Officer, Chief Financial Officer, dan Chief Operating Officer. Namun, ada pula peran Chief Business Officer (CBO) yang diberi peran untuk menjalankan tanggung jawab tambahan di perusahaan.

Apa Itu Chief Business Officer?

Chief Business Officer adalah peran eksekutif yang dijalankan seseorang dengan tugas untuk mengembangkan dan mengeksekusi strategi perusahaan sambil mengelola operasional. Jika dilihat melalui perannya sehari-hari, CBO akan berkolaborasi erat dengan pimpian perusahaan.

Bertugas untuk mengawasi beberapa departemen atau fivisi berbeda seperti human resource, akuntansi, IT, dan sebagainya, CBO bisa dikatakan mengemban beberapa peran sekaligus yaitu administratif, keuangan, dan operasional.

Dalam kegiatan sehari-hari, CBO akan bekerja sama dengan manajer senior untuk melaksanakan rencana strategis. CBO bisa bekerja di lingkungan kantor atau bahkan melakukan perjalanan dinas untuk bertemu klien atau menghadiri konferensi.

Peran Chief Business Officer (CBO)

Jika diperhatikan berdasarkan pemaparan di atas, CBO memang memiliki beberapa tanggung jawab yang penting. Di antara berbagai tugasnya, berikut beberapa peran CBO yang perlu dilakukan di dalam perusahaan.

1. Mengembangkan strategi perusahaan

Salah satu peran penting CBO adalah membuat perusahaan menjadi yang terdepan dalam persaingan bisnis. Untuk mencapai hal tersebut, CBO akan bertanggung jawab untuk mendorong pertumbuhan dan inovasi di dalam sebuah sektor bisnis. Hal itulah yang membuat mereka menjadi aset penting dalam organisasi.

2. Mendorong inovasi yang kompetitif

CBO juga bertanggung jawab dalam mendorong adanya inovasi dalam sebuah organisasi agar perusahaan bisa tetap kompetitif. Cara melakukannya dimulai dengan mengidentifikasi peluang baru, mengembangkan produk atau layanan, serta menumbuhkan budaya inovasi di dalam kultur perusahaan.

Penting untuk tetap memiliki kendali yang positif dalam membuat inovasi di dalam organisasi. CBO juga harus mampu mengantisipasi risiko yang muncul saat perusahaan memutuskan untuk membuat inovasi dalam aktivitas bisnisnya.

3. Mengelola kolaborasi dan kemitraan

Peran kemitraan dan kolaborasi menjadi hal penting bagi perusahaan yang ingin memperluas jangkauan dan kemampuan. CBO bertanggung jawan untuk dapat mengidentifikasi calon mitra sekaligus mengembangkan relasi dengan mereka.

Karena itu pula, CBO memerlukan keunggulan dalam negosiasi agar mampu mencapai kesepakatan dengan stakeholder, termasuk pelanggan, mitra, pemasok, hingga investor. CBO akan fokus membangun dan memelihara relasi yang saling menguntungkan dan sesuai dengan tujuan organisasi.

4. Mengelola keuangan perusahaan

Tanggung jawab CBO dalam mengelola keuangan termasuk pengembangan anggaran, pengelolaan arus kas, dan memastikan keputusan yang tepat terkait keuangan. Hal ini juga harus mampu dikomunikasikan pada seluruh organisasi, termasuk jajaran dewan direksi.

CBO memiliki peran penting dalam pemantauan dan pelaporan kinerja keuangan dalam organisasi. Hal ini juga perlu didukung dengan adanya kepatuhan terhadap standar hukum, etika, dan peraturan organisasi untuk menjaga sumber daya manusia dan operasional perusahaan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.

5. Mengatur SDM perusahaan

Pengelolaan sumber daya manusia (SDM) perusahaan juga menjadi aset penting yang harus dijaga. Hal ini termasuk sebagai salah satu tanggung jawab CBO untuk merekrut, mengelola, dan mengembangkan talenta yang ada untuk memastikan perusahaan menjadi tempat yang baik untuk bekerja.

Secara garis besar, CBO memiliki peran vital pada perusahaan atau organisasi yang ingin unggul dalam kompetisi pasar. Peran CBO adalah mempertanggungjawabkan pengembangan strategi dalam perusahaan, mendorong inovasi, menjalin kemitraan, mengelola keuangan, dan mengatur talenta yang terlibat untuk mencapai tujuan yang sama.