Beranda
>
Gagasan
>
Artikel
Metriks yang Dibutuhkan untuk Menilai Customer Engagement

16 June 2022
Banner-Article-Sohibi-June-CustomerEngagement.jpg

Banyak faktor yang dapat mempengaruhi peningkatan citra dan keuntungan sebuah bisnis. Keterlibatan pelanggan pada bisnis Anda menjadi sumber kehidupan serta tumbuh dan kembang citra bisnis Anda. Oleh karena itu, customer engagement metrics menjadi unsur penting yang harus dipantau.

Ketika Anda memantau dan melacak secara teratur, akan ada banyak informasi berguna yang dapat digunakan untuk meningkatkan penawaran dan perkembangan bisnis. Mari kita lihat keterlibatan pelanggan dan bagaimana mengukur pelanggan yang terlibat untuk bisnis Anda.

 

Keuntungan Melacak Customer Engagement metrik

Melacak metrik keterlibatan pelanggan adalah kunci untuk mendapatkan informasi mendetail tentang apa yang membuat orang atau pelanggan memilih untuk bertahan atau meninggalkan bisnis Anda. Dengan mengetahui hal ini, Anda dapat meningkatkan strategi yang ditujukan untuk mempertahankan atau bahkan meningkatkan pelanggan. Melacak keterlibatan pelanggan memberikan beberapa keuntungan atau manfaat, antara lain:

  • Memahami perasaan pelanggan 

Mengukur metrik keberhasilan keterlibatan pelanggan dapat membantu untuk memahami cara orang melihat merek, produk, atau layanan. Ini akan memberikan gambaran yang baik tentang perasaan atau sentimen pelanggan tentang bisnis Anda.

  • Mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan bisnis

Kekuatan dan kelemahan bisnis dapat diketahui dengan melacak keterlibatan pelanggan, yang mana Anda akan mendapatkan data dari kegiatan tersebut. Data ini kemudian dapat membuat Anda lebih menyadari pada bagian mana dari bisnis Anda yang dapat ditingkatkan untuk menarik pelanggan.

  • Mengadopsi pendekatan yang lebih strategis

Dengan bantuan data pelanggan, Anda akan berada dalam posisi yang lebih baik untuk merancang strategi yang membantu Anda melibatkan pelanggan dengan lebih baik.

  • Meningkatkan Pengambilan Keputusan

Dengan pelacakan keterlibatan pelanggan Anda dapat dengan mudah melihat area yang perlu diperhatikan dan kemudian melakukan penguatan sumber daya di area tersebut. Penting untuk dapat memanfaatkan data dan meningkatkan pengambilan keputusan dengan berbagai aspek.

 

Keberhasilan Metrik Keterlibatan Pelanggan yang Penting untuk Dilacak

Metrik keterlibatan pelanggan selalu merupakan indikator penting untuk melihat bagaimana bisnis Anda berjalan dalam hal berurusan dengan pelanggan. Melacak metrik utama merupakan alat yang ampuh untuk mendapatkan pengetahuan mendalam tentang bagaimana pelanggan berinteraksi dan terlibat dengan merek Anda. Mereka juga sangat membantu untuk memahami kebutuhan pelanggan dengan lebih baik. Berikut beberapa metrik keterlibatan pelanggan yang dapat dijadikan pilihan:

  1. Net Promoter Service (NPS) atau Skor Promotor Bersih 

Pelanggan setia sering mereferensikan produk atau layanan Anda kepada orang lain. Selain mengatakan hal baik tentang bisnis Anda, pelanggan setia lebih cenderung merekomendasikan kepada keluarga dan teman. Metrik NPS dapat digunakan untuk mengetahui tingkat kesediaan pelanggan dalam mempromosikan bisnis Anda atau memberikan informasi tentang bisnis Anda, hal ini disebut sebagai NPS.

Kepuasan pelanggan produk atau layanan bisnis Anda dapat diketahui melalui NPS. Mengumpulkan metrik ini dapat melalui survey di akhir kegiatan atau via email, biasanya dengan memberikan nilai 1 - 10. Kemudian terapkan rumus NPS = % Promoters - % Detractors.

  1. Customer Satisfaction Score (CSAT) atau Skor Kepuasan Pelanggan

CSAT membantu melacak tingkat kepuasan pelanggan dengan produk atau layanan bisnis Anda. CSAT juga dapat menunjukkan tingkat kepuasan dengan semua jenis keterlibatan atau interaksi yang dimiliki pelanggan dengan merek Anda. Dengan melacak metrik ini, Anda dapat meningkatkan kepuasan pelanggan dan memberikan pengalaman yang terbaik.

Cara menghitung CSAT adalah dengan menanyakan kepada pelanggan bagaimana mereka menilai pengalaman saat membeli produk atau jasa dan kepuasan dengan pelayanan, kemudian meminta mereka untuk memberikan skor. Setelah itu, bagikan jumlah pelanggan yang puas dengan jumlah tanggapan survei. Anda juga dapat menambahkan atau menyesuaikan pertanyaan jika ingin mengetahui lebih lanjut dari interaksi tersebut.

  1. Customer Lifetime Value (CTLV)

Mendapatkan pelanggan baru menghabiskan biaya yang lebih banyak dibandingkan mempertahankan pelanggan yang sudah pernah membeli produk atau jasa Anda. Hal ini menunjukkan bagaimana mempertahankan pelanggan memberikan efek langsung pada pendapatan. Metrik CTLV dapat digunakan untuk mengetahui seberapa besar nilai yang diberikan pelanggan saat berhubungan dengan bisnis Anda.

Cara menghitung CTLV:

  • Lifetime Value (LTV) = Nilai Pembelian Rata-rata x Jumlah Transaksi x Periode Retensi

  • Customer Lifetime Value (CTLV) = LTV x Margin Keuntungan

  1. Number of Active Users atau Jumlah Pengguna Aktif

Dalam bisnis, Anda perlu melacak berapa banyak pengguna yang terlibat dengan layanan atau produk Anda dalam jangka waktu tertentu. Metrik semacam ini sangat membantu dalam mendapatkan pandangan luas tentang cara kerja upaya keterlibatan Anda. Terdapat dua kategori mengenai pengguna aktif, yaitu:

  • Daily Active Users (DAU): mengacu pada pengguna unik suatu produk atau layanan per hari

  • Monthly Active Users (MAU): mengacu pada total pelanggan dalam satu bulan

Baik DAU dan MAU adalah metrik keterlibatan pelanggan yang cukup membantu untuk mengetahui variasi pengguna di antara kerangka waktu tertentu. Dengan ini Anda dapat mengetahui fluktuasi dan merancang strategi keterlibatan pelanggan. Cara menghitung DAU dan MAU adalah dengan membandingkan pengguna aktif harian Anda dengan data bulanan untuk mendapatkan metrik ini.

  1. Customer Engagement Score (CES) atau Skor Keterlibatan Pelanggan

Dalam hal mengukur keterlibatan, baik pelanggan yang sudah ada dan pelanggan yang masih dalam masa percobaan atau mereka yang terlibat tetapi mungkin/tidak berkonversi juga bisa menjadi contoh keterlibatan pelanggan yang bagus untuk bisnis Anda.

Saat Anda mengukur skor keterlibatan pelanggan, Anda harus fokus pada setiap aktivitas yang dapat dilakukan pengguna, baik itu suka sosial, komentar, pembagian merek Anda, dan lain lain. Model ini sangat ideal untuk bisnis berbasis SaaS karena mereka memiliki banyak pelanggan dalam masa percobaan.

  1. First Week Engagement

Keterlibatan minggu pertama adalah metrik yang baik untuk mengetahui keberhasilan strategi keterlibatan mereka. Metrik ini mengukur tingkat di mana pengguna berinteraksi atau membuang layanan atau produk pada minggu pertama penggunaan. Saat Anda menggunakan metrik ini, Anda akan dengan mudah mengetahui efektivitas alat keterlibatan pelanggan dan upaya yang Anda gunakan.

  1. Social Media Engagement

Media sosial mempengaruhi bisnis secara besar-besaran dan sekarang menjadi bagian penting dari strategi keterlibatan pelanggan. Untuk merek besar dan kecil, saluran ini adalah cara yang bagus untuk terlibat, berinteraksi, dan terhubung dengan pelanggan. 

Setiap platform mungkin memiliki keunikan dalam hal demografi atau gaya pengiriman pesan, tetapi selalu menjadi sumber data yang bagus. Masing-masing menyediakan banyak metrik untuk memahami keterlibatan pelanggan secara detail.

Anda dapat menggunakan beberapa alat manajemen media sosial populer seperti Hootsuite atau Zoho dan mengelola interaksi dengan sukses. Anda juga dapat menggunakan alat seperti Google Analytics, Twitter Analytics, atau Facebook Insights untuk mendapatkan tampilan mendetail tentang bagaimana pelanggan terlibat dan berinteraksi dengan Anda.

  1. Stickiness metrik

Metrik “lengket”, Anda dapat mengukur tingkat kebahagiaan yang dirasakan pelanggan dengan produk atau layanan Anda. Ini juga dapat membantu Anda mengetahui seberapa besar kemungkinan pelanggan untuk terus menggunakan produk Anda. Cara menghitung stickiness metrik adalah membagi DAU (pengguna aktif harian) dengan MAU (pengguna aktif bulanan).

  1. Conversion Rate

Conversion rate melacak persentase orang yang menyelesaikan tindakan tertentu yang terkait dengan kampanye pemasaran Anda. Bergantung pada tingkat industri, tingkat konversi dapat diukur untuk banyak hal, baik itu pendaftaran buletin email, unduhan e-book, klik iklan Facebook, dan sebagainya.

Menghitung tingkat konversi itu mudah dan Anda memerlukan data yang terkait dengan jumlah total konversi dan pengunjung untuk hal yang sama:

Tingkat Konversi = Total jumlah konversi/ jumlah total pengunjung x 100

  1. Pages Per Session

Metrik pages per session membantu untuk mengukur jumlah halaman yang diklik pengguna dalam satu kunjungan. Jika page per session tinggi berarti situs web Anda berhasil memberikan value yang diinginkan. Sedangkan page per session yang rendah menunjukkan bahwa konten Anda tidak sesuai dengan target audiens.

  1. Average Session Duration

Melacak metrik ini penting karena menunjukkan apakah pengunjung situs web memiliki sesi panjang di blog atau halaman arahan Anda dalam satu kunjungan. Ini juga menunjukkan efektivitas komunikasi layanan pelanggan Anda.

Dengan metrik ini Anda dapat memahami bagaimana tidak semua halaman di situs web atau di blog membangkitkan tanggapan serupa dari pengunjung. Sementara beberapa halaman mungkin membuat mereka ketagihan lebih lama, akan selalu ada halaman yang tidak mendapat banyak perhatian sama sekali.

  1. Bounce Rate

Bounce rate atau rasio pentalan digunakan untuk mengetahui persentase orang yang keluar dari situs Anda setelah hanya melihat satu halaman. Semakin rendah rasio pentalan, atau semakin Anda mengurangi rasio pentalan, semakin baik bagi bisnis Anda. Rasio pentalan yang tinggi dapat menunjukkan banyak masalah dengan situs Anda seperti pengalaman pengguna yang buruk, konten yang tidak relevan, atau waktu pemuatan halaman yang lambat.

  1. Churn Rate

Churn adalah siklus alami kehilangan dan mendapatkan pelanggan. Tidak peduli seberapa hebat Anda berpikir telah memberikan layanan, produk, atau pengalaman pelanggan, beberapa churn hampir tak terelakkan. Metrik churn rate dapat membantu Anda mengetahui tingkat di mana pelanggan berhenti berbisnis dengan bisnis Anda selama jangka waktu tertentu. Semakin rendah tingkat churn, semakin banyak pelanggan yang Anda pertahankan.

Anda memerlukan data total pelanggan di awal bulan dan total di akhir bulan untuk menghitung churn rate:

Churn rate = selisih antara jumlah pelanggan akhir dan awal bulan / jumlah pelanggan awal bulan.

Tentu saja produk serta pelayanan terbaik tetap memegang faktor utama keberhasilan dan keuntungan dari bisnis Anda. Namun, dengan memperhitungkan metrik-metrik penting di atas dapat membuat perencanaan bisnis yang lebih matang.

Kepuasan dan loyalitas konsumen memiliki pengaruh secara langsung bagi kemajuan dan keuntungan bisnis. Karena itulah, Anda juga bisa mempelajari cara mengenal pelanggan dengan lebih baik melalui program Customer Satisfaction & Relationship Program untuk dapat menghindari kesalahan dalam pelayanan.

ARTIKEL TERKAIT
Banner-Article-Feb-8 (1).jpg
Pengertian Stealth Startup dan Pro Kontranya dalam Bisnis
24 May 2024

Banyak perusahaan startup yang muncul sebagai pendatang baru di dunia bisnis. Tidak sedikit pula dari perusahaan-perusahaan tersebut yang mempublikasikan brand untuk membangun kepercayaan dan kredibilitas secara umum.

Namun, ada pula jenis perusahaan yang memilih untuk menjadi stealth startup. Cara ini sempat menjadi salah satu tren populer yang berkembang di dunia bisnis. Meski begitu, tidak semua orang menganggapnya sebagai salah satu strategi yang baik sehingga dalam prakteknya terjadi pro dan kontra.

Apa Itu Stealth Startup?

Stealth startup merupakan bisnis yang diluncurkan dengan tingkat kerahasiaan tertentu agar jauh dari perhatian publik. Biasanya, pendiri dan karyawan stealth startup akan menyembunyikan seluruh atau sebagian detail dari bisnisnya.

Dalam praktiknya, perusahaan seperti ini tidak akan membuat rilis pers atau strategi marketing tertentu. Jika ada website atau halaman perusahaan, informasinya pun dibatasi atau bahkan disamarkan dengan nama lain.

Stealth startup sering kali ditemukan ketika melihat portofolio investor karena venture capital perlu mengungkapkan investasinya. Anda mungkin dapat menemukan perusahaan dengan detail yang hanya memiliki sedikit detail atau namanya tidak terdengar umum. 

Biasanya, stealth startup memperoleh investor melalui koneksi swasta dengan kesepakatan yang mungkin tidak diumumkan. Kemungkinan besar, bisnis yang dijalankannya pun adalah sekelompok kecil pelanggan yang didapatkan melalui referral atau cold email.

Alasan Menjadi Stealth Startup

Alih-alih muncul sebagai bisnis baru di tengah masyarakat, tentu ada alasan yang membuat bisnis memilih menjadi stealth startup di antaranya sebagai berikut.

1. Tidak menarik perhatian

Stealth startup akan menghindari perhatian dini sebelum peluncurannya secara publik. Hal ini biasanya sengaja dilakukan pada startup teknologi. Tujuannya adalah menyembunyikan keunikan dari para investor untuk menghindari sejumlah isu-isu yang mengganggu.

2. Mengejutkan kompetitor

Kemunculan selambat-lambatnya akan memberikan lebih sedikit waktu bagi para pesaing untuk merespons. Stealth startup akan berpotensi mendapatkan lebih banyak pendanaan sambil mengembangkan teknologi baru dengan adanya posisi yang aman di mata audiens.

3. Menjamin properti intelektual

Saat belum mendaftarkan merek dagang atau masih dalam tahap pengembangan produk, stealth startup merasa lebih aman atas teknologi mereka. Hal ini memberi anggapan bahwa keamanan teknologi yang digunakan atas produk mereka akan lebih aman.

Tantangan Bagi Stealth Startup

Meski mode stealth startup dilakukan secara sadar oleh perusahaan, pilihan ini tentunya juga akan menghadirkan tantangan yang sering kali menjadi nilai kontra berikut.

1. Product market fit yang lebih lama

Mendapatkan feedback dari pelanggan menjadi cara untuk merealisasikan product market fit. Hal ini tentunya hanya bisa dilakukan dengan melibatkan survey pelanggan dan mendengarkan masukan serta komentar dari komunitas. Feedback tersebut lebih terbatas didapatkan jika sebuah perusahaan bergerak dalam stealth mode atau sembunyi-sembunyi.

2. Membatasi pilihan pendanaan

Tantangan terbesar dalam menjalankan stealth startup juga terkait dengan pendanaan. Jika belum mengungkapkan layanan atau produk secara publik, Anda mungkin kehilangan sebagian besar pasar investor. Hal ini biasanya juga memberi tekanan pada para founder untuk melakukan cara konvensional untuk mendapat pendanaan seperti pertemuan pribadi.

3. Lebih sulit mencari talent karyawan

Saat sebuah perusahaan mencari karyawan dengan identitas yang masih terbatas, para pencari kerja mungkin tidak tertarik untuk melamar. Seperti halnya anggapan dari pasar, akan lebih sulit membuktikan kredibilitas produk tanpa adanya branding yang mapan.

Tanpa alasan yang kuat, sebuah startup sebaiknya tidak memilih untuk berada dalam stealth mode. Bersikap terbuka atas perusahaan baru Anda justru dapat memungkinkan kemunculan berbagai saran, potensi investasi, hingga bakat dari talent yang berpotensi mengembangkan produk.

Sebagian jenis bisnis mungkin akan diuntungkan saat menjalankan stealth startup, terutama jika ide produk memang merupakan ide inovatif yang masih dalam tahap development, atau bisa diterapkan secara mudah oleh pesaing. Singkatnya, stealth startup yang independen mungkin akan berdampak positif, tetapi juga berisiko terutama di hadapan venture capital.

Banner-Article-May-11.jpg
Definisi CTR, Fungsi, dan Cara Meningkatkannya
24 May 2024

Click Through Rate atau CTR adalah salah satu istilah yang sering digunakan dalam bidang digital marketing. 

CTR adalah persentase orang yang mengklik iklan dibandingkan dengan jumlah total orang yang melihatnya. 

CTR bisa memberi tahu apakah iklan atau konten Anda menarik perhatian orang atau tidak. Jika CTR Anda tinggi artinya banyak orang tertarik. Akan tetapi, jika CTR rendah, bisa jadi ada yang harus diperbaiki.

Dalam artikel ini mari kita bahas lebih dalam tentang apa itu CTR, fungsi, dan cara meningkatkannya!

Definisi CTR (Click Through Rate)

Melansir Investopedia, Click Through Rate (CTR) adalah istilah yang digunakan dalam iklan online untuk mengukur persentase orang yang melihat sebuah halaman web dan kemudian mengklik iklan tertentu yang muncul di halaman tersebut.

Jika CTR tinggi, artinya iklan tersebut efektif dalam menarik perhatian orang. Sebaliknya, jika CTR rendah, artinya iklan tersebut mungkin kurang efektif.

CTR juga dapat membantu pemilik situs web mendapatkan pendapatan dari iklan. 

Pemilik situs web mendapatkan uang berdasarkan berapa banyak orang yang mengklik iklan tersebut, yang dikenal sebagai "cost-per-click."

Fungsi CTR (Click Through Rate)

CTR sangat penting karena bisa memberi tahu Anda seberapa efektif iklan dalam menarik perhatian dan minat target audiens. Berikut adalah beberapa fungsi CTR:

1. Efisiensi Biaya Iklan 

Kalau Anda membayar iklan dengan sistem "biaya per klik" atau Cost-per-Click (CPC), Click-Through Rate (CTR) yang tinggi berarti Anda mendapatkan lebih banyak klik dengan biaya yang sama.

Misalnya jika CTR tinggi, dengan jumlah uang yang sama Anda mendapatkan lebih banyak klik. Dengan demikian, Anda bisa menghemat uang saat beriklan.

2. Membantu Mengevaluasi Kampanye Iklan

CTR bisa membantu menilai seberapa baik sebuah iklan bekerja. Dengan melihat CTR, Anda bisa mengetahui iklan atau keywords mana yang menarik perhatian orang dan mana yang tidak. 

Dengan begitu, Anda bisa memperbaiki iklan di masa depan dengan memilih strategi yang lebih efektif.

3. Memengaruhi Peringkat Iklan

Peringkat Iklan (Ad Rank) adalah ukuran yang menentukan di mana iklan Anda akan muncul di halaman hasil pencarian atau situs web dibandingkan dengan iklan lain.

Click-Through Rate (CTR) yang tinggi bisa meningkatkan peringkat iklan sehingga iklan Anda muncul di posisi yang lebih atas atau lebih terlihat.

Semakin tinggi posisi iklan Anda, semakin besar kemungkinan orang melihat dan mengklik iklan tersebut.

Jadi, jika CTR Anda tinggi, iklan Anda bisa mendapat posisi yang lebih baik sehingga lebih banyak peluang untuk mendapatkan klik dari orang-orang.

Cara Meningkatkan CTR (Click Through Rate) untuk Ads

Lalu, bagaimana cara meningkatkan CTR untuk iklan? 

1. Memilih Keyword yang sesuai untuk PPC Campaigns

Hal utama yang harus dilakukan untuk meningkatkan CTR adalah dengan memilih keyword yang paling tepat dan relevan. 

Keywords adalah istilah yang digunakan saat seseorang mencari sesuatu di mesin pencari. 

Jika Anda menargetkan keywords yang tepat, tentu iklan Anda akan lebih mungkin muncul di depan orang yang benar-benar tertarik dengan produk atau layanan Anda.

Misalnya, jika Anda menjual sepatu lari. Anda bisa menggunakan kata kunci berupa "sepatu lari terbaik" atau "beli sepatu lari online". 

Dengan menggunakan keywords yang sesuai, Anda dapat menarik audiens yang memang berniat membeli produk Anda.

2. Menggunakan Kata Kunci Negatif

Selain menargetkan keywords yang relevan, penting juga untuk memikirkan keywords negatif. 

Keywords negatif adalah keywords yang ingin Anda hindari, sehingga iklan tidak muncul untuk pencarian yang tidak relevan. 

Misalnya, jika Anda menjual sepatu lari. Sebaiknya Anda memasukkan keywords negatif seperti "sepatu basket" atau "sepatu hak tinggi" untuk menghindari klik dari orang-orang yang tidak tertarik dengan produk Anda.

3. Manfaatkan Remarketing Campaign

Remarketing campaign memungkinkan Anda menjangkau kembali orang-orang yang sebelumnya telah mengunjungi situs web Anda. 

Dengan menggunakan pixel, Anda bisa menargetkan pengunjung sebelumnya dengan iklan yang dipersonalisasi.

Remarketing campaign dapat meningkatkan CTR karena pengguna yang pernah mengunjungi situs Anda lebih cenderung tertarik pada iklan Anda.

Kesalahan Umum saat Meningkatkan CTR

Ketika mencoba meningkatkan CTR, banyak orang cenderung membuat kesalahan yang bisa berdampak buruk pada hasil iklan.

Berikut adalah beberapa kesalahan yang sering terjadi saat meningkatkan CTR:

1. Menggunakan clickbait dalam ad copy

Ini adalah kesalahan yang sering kali terjadi. Kadang-kadang kita tergoda untuk menggunakan judul yang sangat menarik perhatian, tapi bisa jadi informasinya terlalu berlebihan atau bahkan menyesatkan. 

Meskipun mungkin membuat orang klik, tapi bisa merusak kepercayaan mereka ke depannya.

2. Menargetkan audiens yang salah

Jika Anda menargetkan iklan ke audiens yang tidak relevan dengan produk atau layanan Anda, kemungkinan CTR bisa rendah.

Bayangkan jika Anda mengiklankan produk olahraga kepada orang yang tidak tertarik pada olahraga. Kemungkinan besar mereka tidak akan mengklik iklan Anda. 

Jadi, pastikan Anda menargetkan audiens yang tepat.

3. Tidak menguji variasi iklan

Kampanye iklan yang baik biasanya melewati proses percobaan untuk menemukan kombinasi terbaik.

Cobalah berbagai judul, gambar, atau teks untuk melihat mana yang paling menarik perhatian orang. 

4. Tidak memantau CTR dengan baik

CTR adalah metrik yang penting, jadi jika Anda tidak memantau atau tidak memerhatikan perubahannya, Anda tidak akan tahu apa yang perlu diperbaiki. 

Dengan memonitor CTR secara teratur, Anda dapat dengan cepat mengidentifikasi masalah dan melakukan penyesuaian.

Setelah membaca penjelasan di atas bisa disimpulkan jika CTR adalah metrik yang mengukur persentase orang yang mengklik iklan dibandingkan dengan jumlah total orang yang melihatnya. 

CTR yang tinggi menandakan iklan Anda berhasil menarik perhatian, sedangkan CTR yang rendah bisa berarti iklan kurang efektif.

Untuk meningkatkan CTR, fokuslah pada penggunaan keywords yang tepat, gunakan keywords negatif untuk menghindari klik yang tidak relevan, dan manfaatkan remarketing untuk menarik kembali pengunjung yang sudah pernah ke situs Anda. 

Hindari kesalahan seperti clickbait, menargetkan audiens yang salah, dan tidak menguji variasi iklan.
Ingin belajar dasar-dasar digital marketing lebih dalam? Bergabunglah dengan kelas Digital Marketing Fundamental kami sekarang!

Banner-Article-Feb-7 (1).jpg
Perbedaan Market Cap dan Revenue
23 May 2024

Ada banyak cara yang bisa digunakan untuk melihat nilai dari sebuah perusahaan. Salah satunya dengan melihat market cap atau kapitalisasi pasar. Di sisi lain, Anda bisa melihat dari revenue yang didapatkan dalam periode tertentu.

Dua hal ini sebenarnya sangat berbeda. Sayangnya, banyak orang yang masih salah dalam memaknai perbedaan dari market cap dan revenue dari sebuah perusahaan. Untuk mengetahui lebih jelas, simak pengertian dari masing-masing istilah tersebut di bawah ini.

Pengertian Market Capitalization

Market cap adalah nilai dari sebuah perusahaan yang dilihat dari harga sahamnya. Pada dasarnya, aspek ini melihat jumlah uang yang dibutuhkan untuk membeli perusahaan tersebut berdasarkan harga sahamnya secara keseluruhan.

Perhitungan nilai dari kapitalisasi pasar tetap bisa dilakukan baik saat perusahaan belum melantai di pasar bursa saham maupun belum. Hal yang jadi pembeda adalah nilai kapitalisasi pasar akan bersifat fluktuatif saat sudah melepas sebagian sahamnya ke pasar bursa.

Market cap akan memberikan gambaran sederhana tentang nilai dari perusahaan tersebut tanpa mempertimbangkan aspek lain. Pasalnya, Anda tidak perlu melihat utang, potensi pertumbuhan, atau aset yang dimiliki oleh perusahaan. Market cap ini akan menjadi matriks untuk masyarakat melihat reputasi dan sentiment masyarakat secara lebih luas.

Pengertian Revenue

Di sisi lain, melihat revenue perusahaan akan jauh lebih sederhana untuk melihat nilai dari perusahaan tersebut. Revenue adalah sejumlah uang yang didapatkan oleh perusahaan dari hasil penjualan barang dan jasa ke konsumen. Namun, Anda belum akan melihat keuntungan yang dihasilkan dari transaksi tersebut.

Sebagai informasi, revenue merupakan aspek paling atas yang dicatat dalam laporan laba rugi. Namun, pajak yang masuk ke dalam harga jual bukanlah termasuk revenue. Nilai tersebut dipungut oleh perusahaan atas nama negara sehingga tidak termasuk ke dalam pendapatan dalam laporan.

Nantinya, revenue ini akan dikurangi dengan semua biaya yang ada sampai dapat laba bersih. Dalam sebuah bisnis, investor kerap mempertimbangkan revenue dari sebuah perusahaan untuk melihat kesehatan finansial dan peluang bisnis di masa depan.

Perbedaan Market Cap dan Revenue

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya bahwa market cap bisa dihitung berdasarkan harga saham sebuah perusahaan. Ambil contoh saat sebuah perusahaan memiliki harga saham senilai Rp5.000 dan ada sebanyak satu juta saham beredar.

Anda hanya perlu mengalikan semuanya sehingga mendapatkan nilai kapitalisasi pasar. Dengan kata lain, nilai market cap dari perusahaan tersebut adalah Rp1 miliar.

Di sisi lain, revenue tidak ada kaitannya sama sekali dengan nilai saham. Besar sedikitnya revenue sebuah perusahaan pun tidak akan berimbas langsung pada harga saham sebuah perusahaan di pasar. Bisa jadi ada perusahaan yang memiliki market cap tinggi, tapi revenue yang didapatkan setiap bulannya terhitung rendah.

Ada banyak perusahaan rintisan (startup) yang sering kali dianggap potensial oleh banyak investor. Hal ini yang membuat harga saham mereka melonjak naik di pasar. Sayangnya, banyak startup tersebut yang tidak mampu melakukan penjualan pada produknya sehingga revenue yang didapatkan pun kecil.

Berbeda dengan perusahaan otomotif yang relatif memiliki revenue tinggi. Terlebih lagi saat produk kendaraannya diterima dengan baik oleh masyarakat dan menjadi pilihan utama di pasaran. Dengan revenue tinggi ini, perusahaan otomotif sebenarnya punya peluang bisnis yang cukup besar.

Sayangnya, banyak saham perusahaan otomotif kurang menarik di mata para investor dan trader. Hal ini membuat permintaan atas saham-saham perusahaan otomotif sangat kecil. Tidak heran banyak perusahaan otomotif sering berada di ambang kebangkrutan karena market cap-nya terhitung rendah.

Untuk itu, Anda perlu paham lebih dalam tentang perbedaan antara market cap dan revenue dalam menjalankan bisnis maupun saat menjadi investor. Menambah wawasan terkait analisis finansial bisa membantu Anda dalam mencari aspek penting yang dibutuhkan dalam membuat laporan keuangan sebuah perusahaan. Dapatkan semua wawasan tersebut dalam Program Financial Analysis untuk membantu Anda mengoptimalkan strategi finansial dalam bisnis.