Beranda
>
Gagasan
>
Artikel

Pengertian Due Diligence, Jenis, dan Tujuannya


23 May 2024
Banner-Article-Feb-6 (1).jpg

Due diligence merupakan salah satu istilah dalam dunia investasi yang kerap dipakai oleh sebuah bisnis, pemilik perusahaan, hingga investor. Istilah ini dipakai untuk melakukan pemeriksaan sebelum dua belah pihak bisnis mengambil keputusan. Proses ini memerlukan banyak pemeriksaan hingga ke akar bisnis.

Melakukan proses due diligence sangat penting supaya semua pihak tidak salah melangkah. Untuk mengetahui lebih dalam tentang proses due diligence dan tujuannya, simak penjelasannya di bawah ini.

Pengertian Due Diligence

Due diligence adalah proses audit, investigasi, dan performance review yang dilakukan oleh pelaku bisnis dalam mencari data dan fakta atas sesuatu yang sedang dalam pertimbangan. Proses ini dilakukan oleh banyak pihak, mulai dari kuasa hukum, manajer finance, investor, dan pihak perusahaan.

Dalam dunia bisnis dan investasi, proses due diligence juga akan memeriksa laporan keuangan dari awal sampai periode terkini. Pihak-pihak yang memeriksa sebuah perusahaan juga akan melihat sistem rekrutmen karyawan sekaligus produk yang dibuat dan dipasarkan.

Proses due diligence juga bisa berbeda tergantung dari cara pendekatannya, ada pemeriksaan yang lunak dan ketat. Pemeriksaaan yang lunak menggunakan pendekatan kualitatif dan melihat dari aspek lain, seperti manajemen dan orang-orang di dalam perusahaan.

Di sisi lain, due diligence dengan proses yang lebih ketat hanya akan melihat dari angka dan data yang ditemukan. Pihak yang menguji akan menggunakan analisis fundamental untuk melihat kondisi keuangan dari sebuah perusahaan. Hal ini membuat manipulasi dalam pemberian data pun bisa sangat minim

Jenis-Jenis Due Diligence

Proses due diligence bisa dilihat dari tujuannya. Berikut jenis-jenis dari due diligence yang bisa dilakukan dalam bisnis.

1. Commercial due diligence

Proses ini akan mempertimbangkan target dan posisi perusahaan dalam pasar. Penguji pun akan melihat peluang pertumbuhan perusahaan dilihat dari banyak aspek. Sebut saja pasokan bahan baku, distribusi, penelitian dan pengembangan, serta karyawan yang ada di dalam perusahaan.

2. Legal due diligence

Pengujian ini memastikan perusahaan sudah memiliki semua yang dibutuhkan dalam aspek hukum. Proses ini juga  akan mengecek  proses legitimasi dan pendaftaran hak kekayaan intelektual yang dimiliki oleh perusahaan tersebut. Dengan begitu, semua pihak pun yakin bahwa perusahaan yang diaudit sudah didirikan dengan tepat hukum.

3. Financial due diligence

Proses pengujian keuangan akan melakukan audit pada sebuah perusahaan atas laporan keuangan dan pembukuannya. Hal ini akan memastikan bahwa tidak ada penyimpanan dalam segala jenis arus keuangan, baik yang masuk maupun keluar.

4. Tax due diligence

Proses ini dilakukan untuk melihat apakah perusahaan pernah menunggak pajak atau tidak membayar sesuai dengan keharusannya. Bukan hanya itu, pengujian ini juga bisa menilai posisi perusahaan supaya bisa mengurangi beban pajak di masa depan.

5. Environmental due diligence

Sekarang juga sudah banyak perusahaan yang diuji tanggung jawabnya terhadap lingkungan. Pihak penguji akan melihat laporan dari perusahaan tentang riwayatnya terhadap limbah dan gas buang. Selain itu, perusahaan juga akan diminta pertanggungjawabannya atas kepatuhan terhadap standar lingkungan hidup di sekitarnya.

Tujuan Due Diligence

Melakukan pengecekan dan pengujian atas banyak aspek bisnis tentu saja akan memberikan keuntungan bagi perusahaan itu sendiri. Berikut tujuan melakukan proses due diligence.

1. Memeriksa legalitas dan status hukum

Perusahaan memiliki kewajiban kepada banyak pihak, salah satunya hukum yang berlaku. Dengan melakukan pemeriksaaan, Anda bisa melihat aspek-aspek hukum yang belum terpenuhi. Hal ini pun akan membantu Anda melakukan proses legalitas untuk membuat perusahaan bisa beroperasi dengan nyaman.

2. Meminimalkan kesalahan pelaporan

Mungkin saja ada pihak-pihak dalam perusahaan yang membuat pelaporan menyimpang. Dengan begitu, Anda bisa mengambil langkah terlebih dulu sebelum langkah bisnis yang lebih jauh.

3. Meyakinkan investor

Semua kekurangan bisa segera diatasi setelah mengetahuinya. Setelah diperbaiki, Anda bisa langsung melakukan negosiasi dengan calon investor. Calon investor pun akan lebih yakin berinvestasi pada perusahaan yang sudah taat pada hukum, laporan keuangan, target pasar, dan masyarakat yang lebih luas lagi.

Itu dia pengertian dan jenis-jenis dari due diligence. Mengingat proses due diligence juga menyentuh aspek keuangan dan finansial lainnya, ada baiknya Anda juga mengerti untuk menganalisis finansial dengan baik. Program Financial Analysis akan memberikan banyak wawasan dan insight baru terkait kebutuhan pelaporan dan analisis keuangan.

ARTIKEL TERKAIT
Banner-Article-Feb-12 (1).jpg
Perbedaan CBO dan COO dalam Operasional Perusahaan
29 May 2024

Banyak hal yang makin berkembang seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan bisnis di perusahaan. Karena itu, biasanya ditentukan peran eksekutif yang lebih spesifik dalam menangani masalah-masalah yang menjadi hambatan dalam mengembangkan perusahaan.

Dalam merancang dan mengeksekusi strategi perusahaan, biasanya dibutuhkan kontribusi dari Chief Business Officer (CBO) dan Chief Operating Officer (COO). Meski dalam praktiknya terdapat beberapa kesamaan, tapi tugas dan keterampilan yang dibutuhkan justru berbeda.

Hal inilah yang menyebabkan adanya peran CBO dan COO sekaligus dalam sebuah perusahaan. Secara spesifik, terdapat beberapa pertanyaan yang sering ditanyakan dan menjadi pembeda antara peran CBO dan COO.

Perbedaan CBO dan COO

Meski seringkali dipahami sebagai jabatan yang bisa digunakan bergantian, kualifikasi dan tujuan dari peran CBO dan COO dipisahkan oleh beberapa perbedaan utama di antaranya sebagai berikut.

1. Tugas yang dilakukan

Seorang CBO memiliki tugas untuk mengawasi seluruh operasional perusahaan yang menghasilkan keuntungan. Hal ini biasanya mencakup seluruh departemen perusahaan dan mungkin melibatkan keputusan strategis yang selaras dengan tujuan perusahaan.

CBO mengawasi efektivitas bisnis serta merekomendasikan hal-hal yang perlu diperbaiki dalam operasional perusahaan. Dalam mengoptimalkan talenta organisasi, CBO juga berpartisipasi dalam pengelolaan SDM termasuk proses rekrutmen atau learning and development. Mereka dapat meninjau dokumen, pernyataan, dan laporan keuangan untuk mengetahui pemenuhan target perusahaan dan mengidentifikasi serta memperbaiki risiko.

Sementara itu, seorang COO mengawasi fungsi administratif dan operasional harian bersama CEO. Dalam beberapa situasi, mereka mungkin juga mengelola satu departemen untuk menyusun strategi keberlanjutan perusahaan. COO mengkomunikasikannya kepada karyawan dan memastikan tugas-tugasnya sudah selaras dengan tujuan yang ingin dicapai oleh perusahaan. Jika diperlukan, COO juga membantu pengelolaan sumber daya manusia.

2. Kondisi pekerjaan

Biasanya, CBO lebih banyak menghabiskan jam kerja mereka di lingkungan kantor. CBO akan mendukung inisiatif strategis melalui pertemuan dengan karyawan atau bermitra dengan klien. Jam kerja CBO sering kali sama dengan karyawan, meskipun mungkin lembur pada peak season.

COO bekerja secara independen, tapi bisa berkolaborasi secara teratur dengan tim yang terpilih untuk menyelesaikan inisiatif tertentu. Lingkungan kerja COO berlangsung serbacepat dan mungkin bekerja berjam-jam untuk memastikan proses produksi berjalan lancar. COO mungkin juga melakukan perjalanan untuk bertemu supplier atau klien.

3. Keterampilan dan kemampuan

Sebenarnya, persyaratan keterampilan CBO dan COO serupa, tapi memiliki perbedaan tertentu. Keduanya perlu memiliki keterampilan komunikasi verbal dan tertulis yang efektif agar bisa memberi instruksi pada karyawan dan memberikan laporan pada CEO.

Baik CBO dan COO juga memerlukan kemampuan mengidentifikasi masalah, pengembangan solusi, dan pemecahan masalah. Keduanya memerlukan kemampuan berpikir strategis agar dapat mengambil keputusan yang berdampak positif bagi perusahaan.

Namun, perbedaan utama peran CBO lebih berfokus pada aspek keuangan perusahaan sehingga diperlukan keterampilan keuangan atau akuntansi yang kuat. Sementara itu, COO akan mengawasi operasional sehari-hari sehingga keterampilan yang dibutuhkannya adalah pemahaman tentang proses perusahaan dan organisasi.

4. Persyaratan jabatan

Sebagai posisi eksekutif perusahaan, CBO dan COO biasanya sama-sama mensyaratkan gelar sarjana atau bahkan master (pascasarjana). Latar belakang pendidikan CBO dan COO bisa berasal dari jurusan keuangan, ekonomi, atau administrasi bisnis. Biasanya, posisi eksekutif tersebut juga mensyaratkan 10—15 tahun pengalaman kerja untuk memastikan bahwa mereka sudah memahami berbagai proses, prosedur, dan kebijakan organisasi.

Jika dilihat dari tanggung jawabnya, CBO dan COO sama-sama memiliki fokus peran dalam operasional bisnis. Dalam hal ini CBO lebih fokus pada operasi-operasi bisnis, sedangkan COO melihat operasional sehari-hari. Artinya, CBO memiliki peran yang ruang lingkupnya lebih luas dengan peran strategi integrasi antar departemen, mendorong pengembangan bisnis, dan fokus dalam pertumbuhan jangka panjang.

Banner-Article-Feb-11.jpg
Apa Itu Chief Business Officer dan Perannya dalam Perusahaan
29 May 2024

Jajaran manajerial memiliki peran yang penting baik dalam urusan operasional maupun administrasi sebuah perusahaan. Makin besar skala perusahaan, makin banyak kepentingan yang harus diselesaikan. Biasanya, hal tersebut mendorong perusahaan untuk menunjuk peran eksekutif dalam tatanan organisasi.

Perusahaan yang sudah memiliki banyak kepentingan juga akan melibatkan banyak orang sehingga perlu penanggung jawab di setiap bidangnya. Peran tersebut dikenal dengan C-level management yang merepresentasikan posisi chief atau kepala dari setiap departemen.

Posisi eksekutif sering kali terdiri atas peran Chief Executive Officer, Chief Financial Officer, dan Chief Operating Officer. Namun, ada pula peran Chief Business Officer (CBO) yang diberi peran untuk menjalankan tanggung jawab tambahan di perusahaan.

Apa Itu Chief Business Officer?

Chief Business Officer adalah peran eksekutif yang dijalankan seseorang dengan tugas untuk mengembangkan dan mengeksekusi strategi perusahaan sambil mengelola operasional. Jika dilihat melalui perannya sehari-hari, CBO akan berkolaborasi erat dengan pimpian perusahaan.

Bertugas untuk mengawasi beberapa departemen atau fivisi berbeda seperti human resource, akuntansi, IT, dan sebagainya, CBO bisa dikatakan mengemban beberapa peran sekaligus yaitu administratif, keuangan, dan operasional.

Dalam kegiatan sehari-hari, CBO akan bekerja sama dengan manajer senior untuk melaksanakan rencana strategis. CBO bisa bekerja di lingkungan kantor atau bahkan melakukan perjalanan dinas untuk bertemu klien atau menghadiri konferensi.

Peran Chief Business Officer (CBO)

Jika diperhatikan berdasarkan pemaparan di atas, CBO memang memiliki beberapa tanggung jawab yang penting. Di antara berbagai tugasnya, berikut beberapa peran CBO yang perlu dilakukan di dalam perusahaan.

1. Mengembangkan strategi perusahaan

Salah satu peran penting CBO adalah membuat perusahaan menjadi yang terdepan dalam persaingan bisnis. Untuk mencapai hal tersebut, CBO akan bertanggung jawab untuk mendorong pertumbuhan dan inovasi di dalam sebuah sektor bisnis. Hal itulah yang membuat mereka menjadi aset penting dalam organisasi.

2. Mendorong inovasi yang kompetitif

CBO juga bertanggung jawab dalam mendorong adanya inovasi dalam sebuah organisasi agar perusahaan bisa tetap kompetitif. Cara melakukannya dimulai dengan mengidentifikasi peluang baru, mengembangkan produk atau layanan, serta menumbuhkan budaya inovasi di dalam kultur perusahaan.

Penting untuk tetap memiliki kendali yang positif dalam membuat inovasi di dalam organisasi. CBO juga harus mampu mengantisipasi risiko yang muncul saat perusahaan memutuskan untuk membuat inovasi dalam aktivitas bisnisnya.

3. Mengelola kolaborasi dan kemitraan

Peran kemitraan dan kolaborasi menjadi hal penting bagi perusahaan yang ingin memperluas jangkauan dan kemampuan. CBO bertanggung jawan untuk dapat mengidentifikasi calon mitra sekaligus mengembangkan relasi dengan mereka.

Karena itu pula, CBO memerlukan keunggulan dalam negosiasi agar mampu mencapai kesepakatan dengan stakeholder, termasuk pelanggan, mitra, pemasok, hingga investor. CBO akan fokus membangun dan memelihara relasi yang saling menguntungkan dan sesuai dengan tujuan organisasi.

4. Mengelola keuangan perusahaan

Tanggung jawab CBO dalam mengelola keuangan termasuk pengembangan anggaran, pengelolaan arus kas, dan memastikan keputusan yang tepat terkait keuangan. Hal ini juga harus mampu dikomunikasikan pada seluruh organisasi, termasuk jajaran dewan direksi.

CBO memiliki peran penting dalam pemantauan dan pelaporan kinerja keuangan dalam organisasi. Hal ini juga perlu didukung dengan adanya kepatuhan terhadap standar hukum, etika, dan peraturan organisasi untuk menjaga sumber daya manusia dan operasional perusahaan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.

5. Mengatur SDM perusahaan

Pengelolaan sumber daya manusia (SDM) perusahaan juga menjadi aset penting yang harus dijaga. Hal ini termasuk sebagai salah satu tanggung jawab CBO untuk merekrut, mengelola, dan mengembangkan talenta yang ada untuk memastikan perusahaan menjadi tempat yang baik untuk bekerja.

Secara garis besar, CBO memiliki peran vital pada perusahaan atau organisasi yang ingin unggul dalam kompetisi pasar. Peran CBO adalah mempertanggungjawabkan pengembangan strategi dalam perusahaan, mendorong inovasi, menjalin kemitraan, mengelola keuangan, dan mengatur talenta yang terlibat untuk mencapai tujuan yang sama.

Banner-Article-Feb-10 (1).jpg
Pelajaran yang Bisa Diambil dari Keuntungan Late Mover Business
27 May 2024

Berbagai sektor industri muncul dengan adanya startup yang merilis inovasi produk. Tidak hanya muncul sebagai pelopor dalam memberikan layanan tertentu, beberapa startup juga berani mengambil risiko untuk menjadi kompetitor. Meski bukan first mover dalam sebuah industri, ada keuntungan yang justru didapatkan jika membuat produk yang lebih baik.

Melihat dari praktiknya, beberapa perusahaan late mover seperti Google atau Microsoft sebenarnya bukan first mover, tapi berhasil sukses dengan menutup kesenjangan, menilai pasar, dan membuat produk yang lebih baik. Hal ini juga bisa dimanfaatkan agar late mover business tetap bisa bersaing di tengah kompetisi pasar meski bukan sebagai penggerak.

Keuntungan Late Mover Business

Secara umum, bisnis yang sukses akan mampu bertahan saat memberikan kualitas produk terbaik bagi pasarnya. Berikut ini beberapa keuntungan yang bisa didapatkan oleh late mover business.

1. Memahami kebutuhan pelanggan

Late mover memiliki kemmapuan untuk menciptakan produk dengan kebermanfaatan yang lebih tinggi untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Pasalnya, kebutuhan konsumen akan terus berkembang sejak kemunculan pertamanya di pasaran.

Saat konsumen merespons kemunculan produk tersebut, late mover business akan belajar dari kesalahan para pendahulunya. Hal tersebut dilakukan untuk mengidentifikasi hal-hal yang berhasil dan tidak untuk para konsumen. Late mover akan memanfaatkannya untuk melakukan improvisasi dan meneruskannya tanpa harus membuat permintaan baru.

2. Mengadaptasi sumber daya dengan baik

Agar mampu menciptakan kesuksesan pasar baru, perlu lebih dari sekedar penyesuaian pasar dalam negeri. Anda harus mampu memanfaatkan sumber daya dan kemampuan sepenuhnya sebagai keunggulan kompetitif.

Hal ini bisa dimanfaatkan oleh perusahaan dengan mempelajari bisnis multinasional untuk diimplementasikan secara sistematis dalam lingkup lokal. Hal ini juga harus diterapkan dengan baik agar penyesuaiannya menjadi ide silang yang mampu bersaing dengan raksasa bisnis yang sedang berkembang.

3. Mengikuti permintaan pasar

Tidak seperti perusahaan first mover, late mover business memiliki dorongan untuk bersaing dengan adanya keberagaman. Hal ini memungkinkan mereka untuk berkembang agar membuat produk yang baik. Namun, mereka sudah tidak perlu lagi mencari pasar baru dan hanya perlu menyesuaikan produk yang sesuai dengan permintaan pasar yang sudah ada.

4. Menstimulasi internasionalisasi bisnis

Saat sudah berhasil dengan potensi bisnis yang sudah ada, akan muncul dorongan untuk keluar dari zona nyaman. Tantangan terbesar dalam menjalankan bisnis adalah memberikan tantangan untuk melakukan ekspansi. Perusahaan bisa saja mendapatkan realita baru saat baru muncul di pasar internasional dan hal ini mungkin menjadi kekhawatiran first mover.

Contoh situasi ini muncul saat Samsung terjun ke pasar internasional dan menyebabkan adanya kemunculan persepsi negatif, padahal sangat dihargai di dalam negeri. Meski begitu, para eksekutif bisnis mulai membawa serangkaian tindakan untuk menyesuaikan produk Samsung agar dapat diterima sesuai ekspektasi konsumen di luar negeri.

Langkah Samsung untuk terjun ke pasar internasional inilah yang memunculkan beragam produk yang juga ikut bersaing. Meski begitu, perhatian pasar juga akan semakin tinggi atas adanya permintaan dari kemunculan produk baru. Dalam hal ini, hanya perlu dipastikan bahwa kualitas produk sesuai dengan target konsumen yang ingin dicapai.

5. Menurunkan biaya pengembangan

Dalam beberapa sektor industri, Anda mungkin tidak perlu mengalokasikan budget yang terlalu tinggi untuk proses research and development. Hal ini disebabkan karena teknologi atau produk telah dikembangkan oleh first mover. Anda bisa melanjutkan proses riset dari teknologi yang sudah dimiliki oleh pelopor produk dan menyempurnakannya.

Itulah berbagai pelajaran yang bisa diambil oleh late mover business. Meski tidak ada standarisasi khusus dalam memulai sebuah bisnis, tapi ada keuntungan yang bisa didapat jika Anda sudah belajar dari pendahulu. Hal ini perlu dikembangkan dan disempurnakan agar Anda bisa mengisi market gap dan mengambil keuntungan untuk terus berekspansi.