Beranda
>
Gagasan
>
Artikel

Definisi Merger, Manfaat, Jenis, Kelebihan, dan Kekurangannya


23 May 2024
Banner-Article-May-10.jpg

Merger adalah strategi bisnis yang sering digunakan oleh perusahaan untuk memperkuat posisi mereka di pasar.

Namun, apa sebenarnya yang mendorong perusahaan untuk melakukan merger? Apa manfaatnya bagi bisnis dan pemegang saham? 

Dalam artikel ini, mari kita kupas tuntas tentang merger, mulai dari pengertian, manfaat, jenis, hingga kelebihan dan kekurangannya!

Definisi Merger

Merger adalah proses di mana dua perusahaan atau lebih bergabung menjadi satu entitas hukum. 

Biasanya untuk tujuan memperkuat posisi pasar, meningkatkan efisiensi operasional, atau mencapai sinergi bisnis. Kedua perusahaan yang bergabung biasanya memiliki ukuran dan skala operasi yang relatif sama. 

Manfaat Merger

Perusahaan memilih untuk melakukan merger karena berbagai alasan, mulai dari keinginan untuk meningkatkan efisiensi hingga mendapatkan keuntungan yang lebih besar.

Berikut adalah beberapa manfaat mengapa merger dilakukan:

  1. Lebih banyak sumber daya: Dengan merger, perusahaan baru memiliki lebih banyak sumber daya seperti karyawan, fasilitas, dan modal.
  2. Keuntungan bagi pemegang saham: Pemegang saham dari perusahaan yang bergabung biasanya mendapatkan saham di perusahaan baru sehingga menguntungkan mereka.
  3. Masuk ke pasar baru atau menambah produk/layanan: Merger memungkinkan perusahaan untuk memasuki pasar baru atau menambah lebih banyak produk dan layanan.
  4. Mengurangi beban pajak: Merger bisa membantu perusahaan mengurangi beban pajak, jika salah satu perusahaan yang bergabung memiliki kerugian pajak.
  5. Mengurangi persaingan: Dengan merger, persaingan antara dua perusahaan berkurang karena menjadi satu perusahaan.
  6. Mendapatkan aset lebih cepat: Merger memungkinkan perusahaan untuk mendapatkan aset dari perusahaan lain.
  7. Pengelolaan sumber daya yang lebih baik: Dengan merger, perusahaan bisa mengelola sumber daya dengan lebih efisien sehingga mengurangi biaya.

Jenis-jenis Merger

Berikut adalah jenis-jenis merger:

1. Horizontal Merger

Horizontal merger adalah ketika dua perusahaan yang berada di industri yang sama bergabung. Biasanya, perusahaan ini merupakan pesaing yang menawarkan produk atau jasa serupa. 

Dengan bergabung, perusahaan dapat menjadi lebih besar dan mendapatkan lebih banyak pelanggan. Ketika dua perusahaan ini bergabung, mereka menggabungkan semua pelanggan dan sumber daya mereka.

Misalnya, jika Coca-Cola dan Pepsi bergabung, mereka akan menjadi perusahaan minuman terbesar karena mereka adalah dua produsen minuman ringan terbesar. 

Dengan bergabung, mereka dapat menggabungkan proses produksi atau distribusisehingga menghemat biaya dan meningkatkan efisiensi.

2. Vertical Merger

Vertical merger adalah ketika dua perusahaan yang memproduksi barang atau layanan yang berbeda bekerja sama untuk membuat satu produk.

Biasanya, perusahaan-perusahaan ini tidak bersaing satu sama lain, tetapi saling mendukung dalam proses produksi untuk menghasilkan produk akhir.

Alasan utamanya adalah untuk menciptakan "sinergi," yaitu ketika dua perusahaan yang bergabung menghasilkan nilai yang lebih besar dibandingkan jika mereka beroperasi secara terpisah. 

Sinergi dapat terjadi ketika perusahaan-perusahaan ini dapat berbagi sumber daya, mengurangi biaya, dan meningkatkan efisiensi dengan bergabung.

Contoh dari vertical merger adalah jika perusahaan mobil bergabung dengan pemasok suku cadang. Dengan bergabung, perusahaan mobil bisa mendapatkan harga yang lebih baik untuk suku cadang karena mereka memiliki kontrol langsung atas pemasoknya. 

Selain itu, perusahaan mobil dapat mengendalikan kualitas dan produksi suku cadang dengan lebih baik. Di sisi lain, pemasok suku cadang mendapatkan keuntungan karena mereka memiliki pelanggan tetap.

3. Market Extension Merger

Market extension merger terjadi ketika dua perusahaan yang menjual produk yang sama tetapi berada di pasar yang berbeda bergabung. 

Tujuan utama dari merger ini adalah untuk memperluas jangkauan pasar dan mendapatkan akses ke lebih banyak pelanggan. Contohnya, ketika sebuah bank besar membeli bank yang lebih kecil di kota lain.

Misalnya RBC Centura, bank besar yang beroperasi di berbagai tempat di Amerika Serikat mengakuisisi Eagle Bancshares sebuah bank yang lebih kecil yang berlokasi di Atlanta, Georgia.

Dengan membeli Eagle Bancshares, RBC Centura bisa mulai beroperasi di kota Atlanta dan mendapatkan akses ke semua pelanggan dan aset yang dimiliki Eagle Bancshares. 

Karena Eagle Bancshares adalah bank lokal yang memiliki banyak nasabah, RBC Centura mendapat manfaat dari ekspansi ini dengan mendapatkan lebih banyak pelanggan dan memperkuat kehadiran mereka di Amerika Serikat.

4. Product Extension Merger

Product extension merger terjadi saat dua perusahaan yang menjual produk yang mirip atau saling berkaitan bergabung menjadi satu. Mereka biasanya beroperasi di bidang yang sama, tetapi memiliki lini produk yang berbeda. 

Saat bergabung, mereka menawarkan lebih banyak produk kepada pelanggan sehingga bisa menarik lebih banyak pelanggan dan mendapatkan lebih banyak keuntungan.

Misalnya, Broadcom (perusahaan yang membuat perangkat Bluetooth) membeli Mobilink Telecom Inc. (perusahaan yang membuat desain untuk ponsel dengan teknologi GSM).

Dengan bergabungnya Broadcom dan Mobilink, mereka bisa menawarkan produk Bluetooth dan juga teknologi untuk ponsel seluler. 

5. Conglomerate Merger

Conglomerate merger terjadi ketika dua perusahaan yang terlibat dalam bisnis berbeda memutuskan untuk bergabung. Keduanya tidak memiliki kesamaan dalam hal produk, layanan, atau industri tempat mereka beroperasi. 

Ada dua jenis conglomerate merger, yaitu:

  • Konglomerat Murni: Perusahaan yang bergabung benar-benar tidak punya kesamaan bisnis.
  • Konglomerat Campuran: Perusahaan yang bergabung punya sedikit kesamaan atau ingin memperluas produk atau pasar.

Contoh conglomerate merger adalah ketika produsen sepatu bergabung dengan perusahaan minuman ringan. Mereka berasal dari industri yang berbeda, tetapi memutuskan untuk bergabung untuk menjadi lebih besar. 

Contoh lainnya adalah ketika Walt Disney Company, yang terkenal dengan film dan taman hiburan, bergabung dengan American Broadcasting Company (ABC), yang fokus pada penyiaran televisi.

Kelebihan dan Kekurangan Merger

Merger bisa menjadi cara efektif bagi perusahaan untuk tumbuh dan memperluas bisnis. Dengan melakukan merger, perusahaan dapat meningkatkan pangsa pasar dan mengurangi biaya. 

Namun, keputusan untuk merger juga memerlukan pertimbangan matang karena ada risiko dan tantangan yang perlu diatasi.

Berikut adalah kelebihan dan kekurangan merger:

Kelebihan merger

  1. Meningkatkan market share: Ketika perusahaan bergabung, perusahaan baru memiliki pangsa pasar yang lebih besar dan lebih unggul dalam persaingan.
  2. Mengurangi biaya operasional: Perusahaan yang bergabung bisa menghemat biaya. Misalnya, mereka bisa membeli bahan baku dalam jumlah besar dengan harga lebih murah. 
  3. Menghindari duplikasi: Jika dua perusahaan membuat produk yang sama, mereka bisa bergabung untuk menghindari melakukan hal yang sama secara terpisah. 
  4. Perluasan bisnis: Merger bisa membantu perusahaan untuk memperluas bisnis ke wilayah baru. 
  5. Mencegah kebangkrutan: Merger bisa menyelamatkan perusahaan yang mengalami kesulitan keuangan, menghindari penutupan bisnis, dan memertahankan lapangan pekerjaan.

Kekurangan merger

  1. Kenaikan harga: Merger dapat mengurangi persaingan, memungkinkan perusahaan baru menaikkan harga produk atau layanan mereka karena monopoli.
  2. Masalah komunikasi: Perusahaan yang bergabung mungkin memiliki budaya yang berbeda yang dapat menyebabkan miskomunikasi dan memengaruhi kinerja karyawan.
  3. Pengangguran: Dalam melakukan merger, perusahaan mungkin menghapus aset yang tidak menguntungkan sehingga menyebabkan beberapa karyawan kehilangan pekerjaan.
  4. Sulit mencapai ekonomi skala: Jika perusahaan yang bergabung tidak memiliki banyak kesamaan, sulit untuk mencapai sinergi dan ekonomi skala.

Merger adalah strategi bisnis yang sering digunakan perusahaan untuk memperkuat posisi pasar, meningkatkan efisiensi operasional, dan mencapai berbagai sinergi. Melalui merger, perusahaan dapat meraih lebih banyak sumber daya, memperluas jangkauan bisnis, dan mengurangi persaingan. 

Namun, merger juga memiliki risiko yang perlu dipertimbangkan, seperti komunikasi, kemungkinan kenaikan harga, dan pengangguran akibat pengurangan aset.

Ingin mempelajari lebih dalam tentang merger dan bisnis? Gabung kelas Strategic Alliances in Business sekarang!

ARTIKEL TERKAIT
Banner-Article-Juni-No.12.jpg
Mengenal Risk Assessment yang Bantu Perusahaan Raih Keuntungan
20 June 2024

Risk assessment adalah bagian integral dari manajemen risiko yang melibatkan identifikasi bahaya potensial (hazard), penilaian probabilitas dan dampak dari risiko. Termasuk juga implementasi langkah-langkah untuk mengurangi atau mengendalikan risiko.

Dalam berbisnis, melakukan risk assessment adalah salah satu upaya strategis yang perlu dilakukan. Karena untuk meraih keuntungan sebanyak-banyaknya, tentu juga ada risiko kerugian yang mungkin didapatkan.

Oleh karena itu, risk assessment hadir untuk menganalisis risiko-risiko yang bisa ditanggung perusahaan saat melakukan upaya untuk meraih keuntungan. 

Risk assessment tidak hanya dilakukan untuk sebuah departemen. Secara strategis, seringkali karyawan akan melakukan risk assessment sendiri untuk memahami potensi keuntungan suatu pekerjaan dan kelayakannya untuk dilakukan.

Umumnya, risk assessment dilakukan oleh tim SDM atau bahkan memiliki tim khusus untuk melakukannya. 

Biasanya perusahaan yang memiliki tim untuk melakukan risk assessment tersendiri adalah perusahaan yang berskala besar.

Apakah di perusahaan tempat Anda bekerja ada tim yang melakukannya? Lalu, apakah risk assessment ini adalah hal yang wajib dikerjakan? Baca artikel ini lebih lanjut agar Anda bisa memahami konsepnya dan dapat membuat rencana untuk menerapkannya di tempat bekerja saat ini!

Apa Itu Risk Assessment?

Risk assessment adalah proses identifikasi, analisis, dan pemetaan terhadap potensi bahaya yang akan dihadapi oleh sebuah organisasi atau perusahaan. Dalam melakukan bisnis, segala tindakan tentu akan membawa dampak. 

Bahkan untuk hal-hal yang terlihat dapat meningkatkan keuntungan ternyata juga tetap bisa menimbulkan kerugian dalam bisnis. 

Risk assessment dilakukan sebagai salah satu tindakan untuk mencegah bahaya kerugian dalam perusahaan saat menjalankan bisnis. Persiapan skenario yang lebih strategis perlu disusun dan dipersiapkan secara baik.

Tujuan utamanya, apabila hal terburuk terjadi yaitu kerugian, setiap departemen terlibat sudah tahu apa yang perlu dilakukan untuk membantu perusahaan. 

Penerapan risk assessment bisa dilakukan secara fisik maupun non-fisik. Untuk fisik meliputi; rute evaluasi, titik kumpul, penanganan dalam cedera atau kecelakaan kerja.

Sementara itu, untuk non-fisik meliputi; data-data yang direkam digital dan juga riset yang telah dilakukan oleh perusahaan. 

Proses Melakukan Risk Assessment

Anda pasti bertanya-tanya, tentang bagaimana cara melakukan risk assessment setelah mengetahui pengertiannya. Apakah proses melakukan risk assessment akan memakan waktu Anda di saat ada tugas lainnya yang perlu dilakukan?

Ini dia adalah proses yang dilakukan dalam melakukan risk assessment!

  1. Identifikasi Bahaya

Langkah pertama yang dilakukan dalam risk assessment adalah identifikasi bahaya yang dihadapi karyawan dan perusahaan. Hal-hal ini meliputi;

  • Bencana alam (banjir, gempa bumi, angin topan dan masih banyak lagi)
  • Bahaya biologis (penyakit dalam pandemi, penyakit yang ditularkan melalui makanan)
  • Insiden di tempat kerja
  • Bahaya teknologi
  • Demo karyawan
  • Interupsi dalam supply chain
  • Bahaya kesehatan mental

Lihatlah tempat Anda bekerja, identifikasi bahaya yang kira-kira akan menimpa perusahaaN. Sertakan semua aspek ketenagakerjaan meliputi pekerja jarak jauh dan hal-hal non rutin seperti pemeliharaan dan perbaikan. 

  1. Menentukan Siapa yang Akan Terdampak

Saat menganalisIis organisasi atau perusahaan, pikirkan bagaimana karyawan Anda terdampak apabila terjadi bahaya di organisasi.

Salah satu tujuan risk assessment adalah mendapatkan kerugian minimal. Sehingga dalam prosesnya dapat diketahui siapa saja yang akan dirugikan dan bagaimana mereka dirugikan. 

  1. Evaluasi Risiko dan Mengambil Tindakan Pencegahan

Dalam risk assessment yang Anda jalankan, tentu bisa didapatkan risiko yang mungkin terjadi saat melakukan bisnis. Setelah mengetahui seberapa besar risiko, Anda bisa mengambil tindakan pencegahan.

Dalam prosesnya, evaluasi risiko membantu Anda mengurangi tingkat risiko dan bahaya mana yang perlu diprioritaskan terlebih dahulu. 

  1. Mendokumentasikan Penemuan

Jika dalam perusahaan tempat Anda bekerja memiliki jumlah karyawan lebih dari 5 orang, wajib untuk mendokumentasikan hasil dari risk assessment. Hasilnya juga harus mencakup; bahaya yang Anda temukan, siapa yang akan terdampak, dan rencana untuk mengurangi risiko tersebut.

Selain itu, dalam pencatatan hasil risk assessment terdapat hal-hal yang perlu diperhatikan:

  1. Melakukan pemeriksaan yang tepat di perusahaan tempat Anda bekerja
  2. Menentukan siapa yang akan terpengaruh
  3. Mengendalikan dan menangani bahaya yang jelas
  4. Memulai tindakan pencegahan risiko
  5. Melibatkan staf dalam proses tersebut

5. Review Assessment dan Memperbaruinya

Perusahaan akan terus berubah seiring perkembangan bisnis, oleh karena itu risiko pun bisa berubah. Setelah usai melakukan risk assessment jangan lupa untuk meninjau dan memperbaruinya.

Tujuan melakukan poin ini adalah agar Anda bisa terus melakukan tindak pencegahan dan tahu apa bahaya yang akan dihadapi perusahaan. Selalu tinjau dan perbarui hasil dari proses risk assessment yang Anda lakukan agar tetap mengikuti perkembangan dan bisa terus relevan.

Manfaat Melakukan Risk Assessment

Melakukan risk assessment akan membantu Anda sebagai pihak dalam perusahaan untuk menyediakan upaya-upaya pencegahan kerugian dalam organisasi. 

Dengan bisnis semakin berkembang, bahaya pun akan semakin beragam. Oleh karena itu, manfaat risk assessment adalah sebagai tindakan pencegahan perusahaan saat mengalami kerugian yang berat dalam menjalankan bisnis. 

Risk assessment sebagai salah satu proses strategis biasanya dilakukan di berbagai departemen. Baik secara formal maupun non-formal, hal tersebut dilakukan untuk dapat memahami dampak tindakan dan meminimalisir risiko.

Untuk mempelajari proses risk assessment dan melakukannya secara benar, Anda bisa mengikuti program singkat di prasmul-eli!

Saat ini, prasmul-eli menyediakan berbagai program singkat untuk meningkatkan skill Anda dalam bekerja. Mulai dari program untuk mempertajam skill leadership, riset, strategi pembuatan inovasi, dan masih banyak lagi.


Tertarik untuk menambah ilmu dan lebih perform sebagai karyawan? Ikuti program singkat yang menghadirkan pemateri yang berpengalaman di prasmul-eli. Informasi lebih lanjut, klik link ini!

Banner-Article-Juni-No.10.jpg
Manajemen Perubahan: Arti, Manfaat, Framework, dan Langkah Melakukannya
18 June 2024

Dalam sebuah perusahaan, perubahan dapat mengakibatkan menurunnya produktivitas kerja hingga kerugian. Maka dari itu, dibutuhkan manajemen perubahan yang tepat.

Ada berapa jenis framework yang bisa Anda gunakan untuk memastikan perubahan dalam bisnis dapat dijalankan dan diterima dengan baik. Dalam artikel ini akan kami jelaskan secara lengkap mengenai manajemen perubahan.

Apa Itu Manajemen Perubahan?

Manajemen perubahan adalah langkah sistematis yang harus diambil perusahaan dalam melaksanakan perubahan organisasi, operasional, hingga proses adaptasi teknologi. Dengan kata lain, perusahaan harus memastikan perubahan tetap berjalan sembari mengarahkan karyawan untuk mengambil bagian di dalamnya.

Menurut TechTarget, perubahan dalam perusahaan, dalam skala apa pun, dapat menyebabkan stres dan rasa tidak nyaman. Menurunnya produktivitas dan kepuasan kerja hanya sebagian kecil dari dampak buruk perubahan yang tidak rapi.

Sebelum melakukan perubahan dalam perusahaan, Anda harus mempertimbangkan hal-hal berikut:

  • Dampak perubahan terhadap operasional dan kondisi karyawan.

  • Siapkan tahapan yang jelas serta jadwal implementasi.

  • Dokumentasi semua tahapan dan proses perubahan agar tidak ada yang terlewat.

Semua pertimbangan di atas akan membentuk rencana manajemen perubahan yang tepat. Anda juga dapat memilih framework yang sesuai dengan jenis perubahan serta seluruh karyawan.

Manfaat Manajemen Perubahan

Jika perusahaan memiliki rencana manajemen perubahan yang terstruktur dan sistematis, berikut adalah sejumlah manfaat yang akan dirasakan:

  • Bagi perusahaan

    • Sistem dan dokumentasi yang lengkap.

    • Memastikan kesamaan perubahan yang diharapkan dan yang terjadi.

    • Sistem automasi dapat diadopsi dengan tepat dan cepat.

    • Dapat mengidentifikasi apa yang harus diubah dan dihilangkan.

    • Dapat menentukan infrastruktur yang dapat diubah fungsinya.

  • Bagi karyawan

    • Memahami alasan-alasan serta solusi-solusi yang dilakukan perusahaan dalam proses perubahan.

    • Memahami peran serta dampak yang dapat diberikan selama proses perubahan.

    • Menyamakan cara pandang dan perasaan setiap karyawan terhadap perubahan.

    • Memahami bahwa masa depan dirinya dan perusahaan ada pada jalan yang sama.

    • Dapat membandingkan harapan dan fakta perubahaan yang akan terjadi.

Jenis Framework Manajemen Perubahan

Seperti yang telah disebutkan di atas, ada berapa jenis framework manajemen perubahan untuk memastikan prosesnya lancar. Merangkum Apty, berikut adalah empat framework yang umum digunakan perusahaan dalam melakukan manajemen perubahan. 

  1. Manajemen perubahan Kotter

Framework ini dipopulerkan oleh profesor dari Harvard, John Kotter. Proses yang diperkenalkannya populer dan dipakai banyak perusahaan sejak 1996. 

Kotter membagi proses manajemen perubahan dalam delapan langkah penting.

  1. Menciptakan urgensi untuk sebuah perubahan.

  2. Membangun kerja sama dalam organisasi untuk menunjang perubahan.

  3. Menciptakan visi yang strategis dan realistis.

  4. Dapat menyampaikan visi dengan baik dan jelas.

  5. Mendorong berbagai pihak untuk mengambil bagian dalam proses.

  6. Merayakan seluruh pencapaian kecil dan jangka pendek.

  7. Menjaga durasi dan kecepatan proses perubahan.

  8. Memupuk dan membentuk budaya perusahaan dalam perusahaan.

Ketika menciptakan urgensi untuk sebuah perubahan, Anda harus dapat menyampaikan alasan dan masalah yang coba diselesaikan. Pastikan informasi tersebut disampaikan secara transparan pada karyawan.

  1. Model manajemen perubahan Lewin

Model manajemen perubahan ini cukup sederhana, Lurt Lewin memaparkan tiga fase berikut.

  1. Unfreeze

Fase ini digunakan untuk memetakan apa saja yang harus diubah dan persiapan seperti apa yang dibutuhkan. Secara detail, perhatikan tiga hal berikut:

  • Putuskan apa yang harus diubah.
  • Analisis operasional perusahaan saat ini dan perubahan apa yang harus dilakukan.
  • Mengomunikasikan perubahan secara transparan.
  1. Change

Fase ini adalah saat semua perubahan mulai diimplementasi. Pastikan dua hal ini dilakukan:

  • Memastikan semua karyawan memahami dampak positif dari perubahaan.
  • Berikan pelatihan dan waktu bagi karyawan untuk beradaptasi.
  1. Refreeze

Fase terakhir ini adalah untuk memastikan perubahan terlaksana dengan tepat. Tiga hal yang harus dilakukan adalah:

  • Sampaikan lagi tujuan dan dampak yang akan terjadi dari perubahan pada internal perusahaan.

  • Pastikan stabilitas perusahaan selama dan setelah perubahan.

  • Rayakan sukses dan keberhasilan melakukan perubahan.

  1. PDSA

Manajemen perubahan ini merupakan framework yang mengutamakan kelanjutan. Artinya, meskipun perubahan telah diimplementasi, prosesnya akan terus dioptimasi dan dikembangkan. Tahapan PDSA adalah:

  • Plan – Mengidentifikasi perubahan dan menyusun rencana.
  • Do – Lakukan perubahan dari skala terkecil.
  • Study – Analisis hasil perubahan dan identifikasi pola yang sukses serta perlu dikoreksi.
  • Act – Mengambil keputusan dan mengimplementasikan perubahan berdasarkan analisis serta pelajaran yang diambil.

Manajemen perubahan ini membantu perusahaan dan karyawan untuk tetap fleksibel serta berkembang.

  1. Model ADKAR dari Prosci

Framework ini mengutamakan hasil yang dirasakan dalam manajemen perubahan. Prosci memaparkan lima hasil atau pencapaian ini:

  • Awareness – Manajemen perusahaan menjelaskan perubahan yang akan terjadi dan penyebabnya.
  • Desire – Jajaran pemimpin dan manajer meminta dukungan karyawan lewat studi kasus dan fakta kondisi perusahaan. Disarankan untuk melakukan 1-on-1 untuk memahami pendapat dan kekhawatiran karyawan.
  • Knowledge – Perubahan diimplementasi secara menyeluruh. Perusahaan harus mengadakan pelatihan untuk mendukung karyawan beradaptasi.
  • Ability – Karyawan akan mulai mengaplikasikan perubahan dalam pekerjaannya sehari-hari.
  • Reinforcement – Berikan apresiasi kepada karyawan karena telah menjalankan dan menyukseskan perubahan.

Langkah Melakukan Manajemen Perubahan

Jika dilihat dari ragam framework di atas, langkah kunci untuk manajemen perubahan yang efektif adalah:

  1. Pemimpin yang terbuka

Mengutip Asis Online, perasaan frustasi dan ketidakpastian dalam sebuah perubahan dapat diatasi dengan perusahaan yang dapat merangkul semua pihak serta terbuka. Stakeholder internal, klien, karyawan, hingga konsumen harus mendapatkan penjelasan yang lengkap serta memahami langkah baru yang akan diambil perusahaan. Pemimpin yang tepat akan memastikan semua hal itu terjadi.

  1. Keterlibatan semua pihak terkait

Masih berkaitan dengan poin sebelumya, perubahan membutuhkan bantuan dari seluruh pihak dalam perusahaan. Setiap tim, stakeholder, dan karyawan harus sama-sama menjalankan serta mendukung proses perubahan.

  1. Komunikasi yang terbuka dan jelas

Dapat disimpulkan dari ragam framework di atas, komunikasi yang transparan, intensif, efektif, dan personal dapat membantu proses perubahan berjalan lancar.

  1. Pelatihan terkait perubahan

Karyawan harus mendapatkan pelatihan serta diberikan waktu yang realistis untuk beradaptasi pada perubahan. Manajer dapat mengadakan sesi 1-on-1 untuk memastikan kondisi karyawan.

  1. Metrik kesuksesan yang jelas

Terakhir adalah menentukan target kesuksesan yang realistis dan jelas. Rasa frustrasi dan ketidakpastian dapat terjadi akibat metrik yang “terlalu tinggi” atau mustahil dicapai dalam rentang waktu singkat.

Itulah rangkuman mengenai manajemen perubahan agar perusahaan dapat menghindari masalah yang dapat memberikan dampak buruk.

Melalui manajemen perubahan yang tepat tentu akan menyatukan misi dan visi pemimpin dengan karyawan. Karena itu, manajemen perubahan adalah proses yang harus dipersiapkan dengan matang.

Sebelum membuat keputusan, sebaiknya pelajari dulu proses perubahan dan manajemennya. 

Bergabunglah dengan short program prasmul-eli dan pelajari ragam proses perubahan dan manajemennya!
Klik di sini sekarang untuk temukan kelas dan programnya!

Banner-Article-Feb-12 (1).jpg
Perbedaan CBO dan COO dalam Operasional Perusahaan
29 May 2024

Banyak hal yang makin berkembang seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan bisnis di perusahaan. Karena itu, biasanya ditentukan peran eksekutif yang lebih spesifik dalam menangani masalah-masalah yang menjadi hambatan dalam mengembangkan perusahaan.

Dalam merancang dan mengeksekusi strategi perusahaan, biasanya dibutuhkan kontribusi dari Chief Business Officer (CBO) dan Chief Operating Officer (COO). Meski dalam praktiknya terdapat beberapa kesamaan, tapi tugas dan keterampilan yang dibutuhkan justru berbeda.

Hal inilah yang menyebabkan adanya peran CBO dan COO sekaligus dalam sebuah perusahaan. Secara spesifik, terdapat beberapa pertanyaan yang sering ditanyakan dan menjadi pembeda antara peran CBO dan COO.

Perbedaan CBO dan COO

Meski seringkali dipahami sebagai jabatan yang bisa digunakan bergantian, kualifikasi dan tujuan dari peran CBO dan COO dipisahkan oleh beberapa perbedaan utama di antaranya sebagai berikut.

1. Tugas yang dilakukan

Seorang CBO memiliki tugas untuk mengawasi seluruh operasional perusahaan yang menghasilkan keuntungan. Hal ini biasanya mencakup seluruh departemen perusahaan dan mungkin melibatkan keputusan strategis yang selaras dengan tujuan perusahaan.

CBO mengawasi efektivitas bisnis serta merekomendasikan hal-hal yang perlu diperbaiki dalam operasional perusahaan. Dalam mengoptimalkan talenta organisasi, CBO juga berpartisipasi dalam pengelolaan SDM termasuk proses rekrutmen atau learning and development. Mereka dapat meninjau dokumen, pernyataan, dan laporan keuangan untuk mengetahui pemenuhan target perusahaan dan mengidentifikasi serta memperbaiki risiko.

Sementara itu, seorang COO mengawasi fungsi administratif dan operasional harian bersama CEO. Dalam beberapa situasi, mereka mungkin juga mengelola satu departemen untuk menyusun strategi keberlanjutan perusahaan. COO mengkomunikasikannya kepada karyawan dan memastikan tugas-tugasnya sudah selaras dengan tujuan yang ingin dicapai oleh perusahaan. Jika diperlukan, COO juga membantu pengelolaan sumber daya manusia.

2. Kondisi pekerjaan

Biasanya, CBO lebih banyak menghabiskan jam kerja mereka di lingkungan kantor. CBO akan mendukung inisiatif strategis melalui pertemuan dengan karyawan atau bermitra dengan klien. Jam kerja CBO sering kali sama dengan karyawan, meskipun mungkin lembur pada peak season.

COO bekerja secara independen, tapi bisa berkolaborasi secara teratur dengan tim yang terpilih untuk menyelesaikan inisiatif tertentu. Lingkungan kerja COO berlangsung serbacepat dan mungkin bekerja berjam-jam untuk memastikan proses produksi berjalan lancar. COO mungkin juga melakukan perjalanan untuk bertemu supplier atau klien.

3. Keterampilan dan kemampuan

Sebenarnya, persyaratan keterampilan CBO dan COO serupa, tapi memiliki perbedaan tertentu. Keduanya perlu memiliki keterampilan komunikasi verbal dan tertulis yang efektif agar bisa memberi instruksi pada karyawan dan memberikan laporan pada CEO.

Baik CBO dan COO juga memerlukan kemampuan mengidentifikasi masalah, pengembangan solusi, dan pemecahan masalah. Keduanya memerlukan kemampuan berpikir strategis agar dapat mengambil keputusan yang berdampak positif bagi perusahaan.

Namun, perbedaan utama peran CBO lebih berfokus pada aspek keuangan perusahaan sehingga diperlukan keterampilan keuangan atau akuntansi yang kuat. Sementara itu, COO akan mengawasi operasional sehari-hari sehingga keterampilan yang dibutuhkannya adalah pemahaman tentang proses perusahaan dan organisasi.

4. Persyaratan jabatan

Sebagai posisi eksekutif perusahaan, CBO dan COO biasanya sama-sama mensyaratkan gelar sarjana atau bahkan master (pascasarjana). Latar belakang pendidikan CBO dan COO bisa berasal dari jurusan keuangan, ekonomi, atau administrasi bisnis. Biasanya, posisi eksekutif tersebut juga mensyaratkan 10—15 tahun pengalaman kerja untuk memastikan bahwa mereka sudah memahami berbagai proses, prosedur, dan kebijakan organisasi.

Jika dilihat dari tanggung jawabnya, CBO dan COO sama-sama memiliki fokus peran dalam operasional bisnis. Dalam hal ini CBO lebih fokus pada operasi-operasi bisnis, sedangkan COO melihat operasional sehari-hari. Artinya, CBO memiliki peran yang ruang lingkupnya lebih luas dengan peran strategi integrasi antar departemen, mendorong pengembangan bisnis, dan fokus dalam pertumbuhan jangka panjang.