Beranda
>
Gagasan
>
Artikel

Memahami Metode Agile, Mulai dari Prinsip, Tujuan, dan Kelebihannya


21 May 2024
Banner-Article-May-8.jpg

Dalam dunia teknologi dan pengembangan perangkat lunak, metode agile telah menjadi pendekatan yang banyak digunakan. 

Namun, apa sebenarnya metode tersebut? Mengapa banyak tim perangkat lunak mengadopsinya?

Dalam artikel ini mari kita bahas mengenai metode agile, mulai dari pengertian, tujuan, prinsip, hingga kelebihannya. 

Definisi Metode Agile

Melansir Asana, metode agile adalah kerangka manajemen proyek yang membagi proyek menjadi beberapa fase dinamis yang disebut sebagai sprint. 

Setiap sprint biasanya memiliki durasi tetap 1-2 minggu, di mana tim bekerja untuk menyelesaikan sejumlah tugas yang telah ditentukan sebelumnya.

Kemudian di setiap sprint, tim mengadakan pertemuan untuk mengevaluasi kemajuan, menganalisis apa yang berjalan dengan baik, dan mengidentifikasi area yang memerlukan perbaikan.

Prinsip Metode Agile

Ada 12 prinsip yang menjadi landasan bagi seluruh kerangka kerja metode agile. 

Prinsip-prinsip ini tidak hanya membantu tim tetap fokus pada tujuan, tetapi juga mendorong kerja sama yang lebih baik dan memberikan hasil yang berkualitas tinggi. 

1. Puaskan pelanggan dengan hasil cepat dan berkelanjutan

Metode agile bertujuan untuk memberikan updates kepada pelanggan secara berkala dan cepat. 

Misalnya dalam pengembangan perangkat lunak, Anda bisa merilis fitur-fitur baru secara berkala atau memberikan pembaruan reguler.

Dengan memberikan sesuatu yang berguna kepada pelanggan secara terus-menerus, pelanggan cenderung merasa senang dan puas. Dengan begitu, pelanggan akan setia dengan produk atau layanan Anda. 

2. Menerima perubahan meski di tahap akhir proyek

Metode agile juga mengajarkan Anda untuk lebih fleksibel. Artinya, Anda harus siap menerima perubahan, bahkan jika proyek sudah hampir selesai. 

Mengapa? Karena terkadang perubahan diperlukan untuk membuat produk Anda lebih baik atau sesuai dengan kebutuhan terbaru.

3. Berikan nilai secara berkala

Prinsip agile tidak mengajarkan Anda menunggu sampai proyek selesai untuk memberikan sesuatu kepada pelanggan. 

Sebaliknya, Anda memberikan value atau nilai kepada pelanggan secara berkala. Hal ini dilakukan untuk menjaga minat pelanggan dan memastikan produk Anda tetap relevan di pasar. 

4. Bekerja sama antar tim

Prinsip ini mengajarkan Anda bahwa kolaborasi adalah kunci. Alih-alih bekerja sendiri-sendiri, Anda harus bekerja sama dengan tim lain.

Dengan begitu, Anda dapat menghindari miskomunikasi dan memastikan semua orang memiliki pemahaman yang sama tentang tujuan proyek.

5. Bangun proyek diantara orang-orang yang memiliki motivasi

Metode agile bekerja dengan baik ketika tim diisi dengan orang-orang yang termotivasi dan berkomitmen pada tujuan bersama.

Tim yang bersemangat cenderung menghasilkan pekerjaan yang lebih baik dan lebih inovatif. 

Oleh karena itu, penting untuk menciptakan lingkungan di mana tim merasa didukung, dihargai, dan diberi kesempatan untuk berkembang.

6. Pentingnya komunikasi tatap muka

Prinsip ini menekankan pentingnya komunikasi tatap muka, baik itu secara langsung atau melalui video call. 

Komunikasi langsung memungkinkan Anda untuk melihat ekspresi wajah, bahasa tubuh, dan nada suara sehingga menghindari kesalahpahaman. 

Jika anggota tim tersebar atau bekerja jarak jauh, penggunaan teknologi seperti Zoom dapat menjadi cara untuk menjaga komunikasi yang efektif.

7. Memastikan perangkat lunak berfungsi dengan baik

Dalam proyek perangkat lunak, keberhasilan diukur dari seberapa baik perangkat lunak berfungsi. 

Prinsip ini mengingatkan kita bahwa fokus utama harus pada produk yang berkualitas dan dapat digunakan oleh pelanggan. 

8. Pertahankan kecepatan dalam bekerja

Meskipun ingin bekerja cepat, Anda juga perlu memastikan bahwa kecepatan kerja Anda bisa dipertahankan dalam jangka panjang. 

Selain itu, proyek yang terlalu cepat dapat menyebabkan kelelahan tim sehingga mengurangi produktivitas dan kualitas pekerjaan. 

Oleh karena itu, penting untuk menjaga keseimbangan antara kecepatan dan kesehatan tim.

9. Menjaga kualitas dapat memperlancar proyek

Jika tim menghasilkan pekerjaan yang berkualitas baik secara konsisten, ini akan membuat proyek berjalan lebih lancar dan lebih cepat di masa depan.

10. Kesederhanaan itu penting

Metode agile mendorong Anda untuk mencari solusi yang paling sederhana dan tidak terlalu memperumit sesuatu.

Terkadang, solusi yang paling sederhana adalah yang terbaik. Dengan mencari solusi yang sederhana, Anda bisa menghemat waktu dan tenaga.

11. Tim yang proaktif lebih efektif

Metode agile mendorong agar tim mampu mengatur diri sendiri dan mengambil inisiatif. Tim semacam ini cenderung lebih proaktif dan memberikan nilai lebih kepada perusahaan. 

Mereka memiliki kemampuan untuk membuat keputusan dan menyesuaikan cara kerjanya tanpa perlu pengawasan terus-menerus.

12. Evaluasi dan tingkatkan cara kerja

Prinsip terakhir ini menekankan pentingnya evaluasi dan refleksi secara berkala. 

Dalam setiap sprint, tim mengadakan meeting untuk melihat apa yang berjalan dengan baik dan apa yang perlu ditingkatkan. 

Dengan evaluasi ini, tim dapat terus beradaptasi dan meningkatkan efektivitas mereka dari waktu ke waktu.

Tujuan dan Kelebihan dari Metode Agile

Metode agile merupakan salah satu pendekatan paling populer dalam pengembangan perangkat lunak dan aplikasi. 

Namun, apa sebenarnya yang membuat metode ini banyak digunakan dalam tim? Mari, kita lihat beberapa kelebihan dari metode tersebut.

1. Fleksibel

Salah satu alasan utama mengapa metode agile begitu populer adalah fleksibilitasnya. 

Dalam pengembangan perangkat lunak, perubahan bisa terjadi kapan saja. Entah karena feedback dari pelanggan, perubahan pasar, atau kebutuhan teknis yang baru muncul. 

Dalam metode tradisional seperti waterfall, perubahan seperti ini bisa sangat mengganggu karena setiap tahap proyek saling bergantung. 

Namun dengan metode agile, tim dapat dengan mudah menyesuaikan strategi mereka tanpa mengganggu seluruh proyek.

2. Mendorong kerja sama tim 

Kerja sama tim adalah bagian penting dari metode agile. Salah satu prinsip agile menyatakan bahwa komunikasi terbaik adalah secara tatap muka.

Maka dari itu, biasanya tim sering mengadakan pertemuan tatap muka, baik secara fisik maupun melalui video call untuk memastikan komunikasi yang jelas dan efektif. 

Dengan pendekatan ini, anggota tim cenderung lebih kolaboratif dan lebih terbuka untuk bekerja sama dengan tim lain. 

3. Fokus pada Kebutuhan Pelanggan

Dalam metode agile, fokusnya adalah pelanggan. Karena itu, kelebihan dari metode ini yaitu memungkinkan tim untuk mendapatkan feedback dari pelanggan secara cepat dan terus-menerus. 

Dengan mendengarkan kebutuhan pelanggan, tim dapat menyesuaikan prioritas dan memastikan bahwa mereka menciptakan produk yang benar-benar diinginkan oleh pelanggan. 

Jika kebutuhan pelanggan berubah, tim dapat dengan cepat beradaptasi dan mengubah arah proyek sesuai dengan kebutuhan tersebut.

Kesimpulan

Metode agile adalah cara kerja yang memecah proyek besar menjadi bagian-bagian kecil yang disebut sprint. 

Setiap sprint biasanya berlangsung 1-2 minggu, di mana tim bekerja untuk menyelesaikan sejumlah tugas. 

Kemudian, di akhir sprint, tim mengevaluasi apa yang sudah berhasil dan apa yang perlu diperbaiki.

Salah satu keuntungan utama metode agile adalah fleksibilitasnya. Ketika ada perubahan atau feedback dari pelanggan, tim bisa dengan cepat menyesuaikan tanpa mengganggu seluruh proyek. 

Agile juga berfokus pada pelanggan, selalu berusaha memberikan apa yang mereka butuhkan dan mendengarkan feedback mereka. 

Dengan demikian, produk atau layanan yang dihasilkan cenderung lebih sesuai dengan keinginan pelanggan.
Ingin mempelajari metode agile lebih dalam? Gabung program Agile with Scrum sekarang!

ARTIKEL TERKAIT
Banner-Article-Juni-DESTHINK.jpg
Pengertian Design Thinking serta Tujuan, Langkah, dan Prinsipnya
04 July 2024

Apakah Anda pernah merasa bingung saat ingin menyelesaikan sebuah masalah yang berfokus pada pengguna atau user? Tenang saja, ada pendekatan yang bisa membantu Anda keluar dari situasi tersebut, namanya adalah design thinking!

Design thinking bukan hanya untuk desainer grafis atau arsitek ya, tapi bisa digunakan oleh siapa pun yang ingin menemukan solusi kreatif untuk masalah apapun.

Sebuah studi menemukan bahwa perusahaan-perusahaan yang menerapkan design thinking secara konsisten memiliki keuntungan finansial hingga 50% lebih tinggi dibandingkan dengan pesaing mereka yang tidak menerapkan pendekatan ini.

Lantas, apa itu design thinking?

Mari kita kupas tuntas pengertian design thinking, prinsip, tujuan, hingga langkah-langkahnya!

Apa Itu Design Thinking?

Design thinking adalah cara untuk memecahkan masalah dengan kreatif dan sistematis. Proses ini melibatkan lima fase yaitu empati (Empathize), definisi (Define), ideasi (Ideate), prototipe (Prototype), dan pengujian (Test). 

Menariknya, metode ini dikembangkan oleh para akademisi dan profesional kreatif dari institusi ternama seperti Stanford University, lho. 

Mereka menyadari bahwa untuk benar-benar menyelesaikan masalah, tidak bisa hanya mengandalkan logika semata. Melainkan, emosi dan empati juga turut berperan penting. 

Penelitian bahkan membuktikan bahwa ketika Anda berempati, kreativitas dapat melejit! 

Tujuan Design Thinking

Design thinking bisa membawa banyak manfaat bagi tim atau organisasi Anda, lho! Yuk, simak penjelasan di bawah ini:

  • Lebih memahami apa yang benar-benar dibutuhkan oleh user. 
  • Mencoba ide-ide baru secara bertahap sehingga risiko kegagalan lebih kecil.
  • Berpikir kreatif dan menciptakan solusi yang benar-benar baru.
  • Metode ini memungkinkan Anda untuk cepat belajar dari kesalahan sehingga bisa membuat perbaikan dengan lebih cepat.
  • Design thinking juga membuat kolaborasi di tim menjadi lebih baik.

Langkah-Langkah Design Thinking

Design thinking adalah konsep yang memberikan solusi kreatif dan inovatif. Metode ini tidak sekadar tentang menyelesaikan masalah, tetapi juga tentang merasakan dan memahami kebutuhan user secara lebih personal.

Bahkan menurut penelitian, tim yang menerapkan design thinking lebih mampu menemukan solusi yang inovatif dan memuaskan user.

Lalu, bagaimana langkah-langkah dalam design thinking? Berikut penjelasannya!

1. Empathize (empati)

Langkah pertama dalam proses design thinking adalah berempati. Artinya, Anda berusaha untuk memahami masalah dari sudut pandang user. 

Anda harus bisa merasakan apa yang dirasakan oleh user dan memahami perspektif mereka dengan lebih baik. Entah itu melalui wawancara, observasi, atau penelitian. 

Kenapa ini penting dilakukan?

Sebab dengan cara ini, Anda bisa menciptakan solusi yang sesuai dengan kebutuhan mereka, bukan sekadar mengandalkan dugaan semata. 

2. Define (definisi)

Langkah selanjutnya adalah mendefinisikan (define). Setelah mengumpulkan informasi, saatnya Anda menganalisisnya. 

Rumuskan masalah yang jelas dan spesifik berdasarkan data yang dikumpulkan. Fase ini membantu Anda tetap fokus dalam mencari solusi.

 3. Ideate (ideasi)

Ideasi adalah fase di mana Anda bebas berimajinasi dan mengeluarkan semua ide yang ada di kepala. Tidak ada batasan dalam berideasi. 

Anda bisa menciptakan sebanyak mungkin ide, seaneh atau sebrilian apa pun itu. Anda juga bisa mengadakan sesi brainstorming untuk menghasilkan ide-ide baru dan inovatif. 

4. Prototype (prototipe)

Setelah itu, langkah keempat adalah membuat prototipe. Ambil beberapa ide terbaik Anda dan ciptakan prototipe atau model awal dari solusi tersebut.

Prototipe ini bisa berupa model fisik, mock-up digital, atau bahkan sketsa sederhana. Tujuannya untuk menguji konsep secara nyata dan mendapatkan feedback dari user, sebelum Anda menghabiskan banyak waktu dan sumber daya untuk mengembangkannya. 

5. Test (pengujian)

Terakhir, ada langkah fase pengujian (test). Ini adalah langkah di mana Anda menguji prototipe kepada user untuk melihat seberapa efektifnya dalam memecahkan masalah.

Dengan melakukan pengujian, Anda akan mendapatkan feedback dari user. Dengan begitu, Anda dapat menggunakan informasi ini untuk memperbaiki dan mengembangkan solusi Anda lebih lanjut.

Prinsip-Prinsip Design Thinking

Sekarang mari kita bahas tentang prinsip-prinsip dasar dalam design thinking yang bisa membantu Anda menciptakan solusi yang kreatif dan bermanfaat bagi pengguna. Beberapa prinsip tersebut meliputi:

Peduli dengan user experience

Dalam design thinking, yang paling penting adalah memahami kebutuhan dan perasaan user. 

Anda harus mendengarkan apa yang mereka butuhkan dan bagaimana pengalaman mereka menggunakan produk atau layanan Anda. Ingat, pengguna itulah yang menjadi pusat inovasi, bukan teknologi.

Bekerjasama

Anda juga perlu bekerja sama dengan tim lain, seperti tim pemasaran dan desain. Dengan bekerja sama, Anda bisa mendapatkan ide-ide segar yang berguna untuk menciptakan solusi yang lebih baik.

Menghasilkan Ide dan Solusi

Setelah Anda mengerti masalahnya, saatnya untuk mengembangkan ide-ide kreatif. Jangan takut untuk berpikir out of the box dan mengeksplorasi berbagai ide yang mungkin terjadi. Ingat, semakin banyak ide, semakin baik!

Mencoba dan Memperbaiki

Design thinking tidak hanya tentang menghasilkan ide, tapi juga tentang menciptakan prototype, mengujinya, dan melakukan perbaikan berdasarkan feedback dari user. Proses ini mungkin akan berulang sampai Anda menemukan solusi yang tepat.

Terlibat secara Aktif

Terpenting adalah Anda harus terlibat secara aktif dalam menyelesaikan masalah. Daripada hanya berspekulasi tentang kebutuhan user, sebaiknya Anda berinteraksi langsung dengan user dan mendengarkan apa yang mereka butuhkan.

Siap Menghadapi Rintangan

Ingat, tidak semua hal akan berjalan mulus di awal. Kegagalan adalah bagian dari proses. Anda harus belajar dari kesalahan dan terus mencoba hal yang baru.

Fleksibel

Desain yang baik harus bisa beradaptasi dengan perubahan di masa depan. Anda harus siap untuk mengubah produk atau layanan Anda agar tetap relevan dengan kebutuhan user.

Sederhana

Produk yang sukses adalah produk yang sederhana dan mudah digunakan. Anda harus menghilangkan hal-hal yang tidak perlu agar produk lebih mudah dimengerti oleh user. 

 

Nah, itulah penjelasan lengkap tentang design thinking! Dengan pendekatan ini, Anda dapat menemukan solusi kreatif untuk berbagai masalah yang tengah dihadapi.

Jika Anda tertarik untuk belajar lebih dalam tentang design thinking dan mengembangkan keterampilan Anda dalam menciptakan solusi kreatif, jangan ragu untuk bergabung dengan program pelatihan kami! 

Kami menawarkan kelas yang didesain untuk membantu Anda memahami konsep design thinking secara lebih mendalam dan menerapkannya dalam praktik. 
Ingin mengikuti kelas “Design Thinking for Business Innovation”? Daftar di sini sekarang!

Article-Banner-Juli-No.21.jpg
MENGAKTIFKAN KREATIVITAS: Strategi Untuk Memicu Inovasi Dalam Bisnis
03 July 2024

Pada pasar yang berkembang pesat, kunci untuk tetap unggul sering terletak pada inovasi. Kemampuan untuk menghasilkan ide-ide terobosan dapat memberikan keunggulan dari para pesaingnya, mendorong pertumbuhan dan keberlanjutan dari bisnis. Tapi bagaimana bisnis secara konsisten menghasilkan ide-ide inovatif? Berikut adalah beberapa strategi, yang diilustrasikan dengan contoh dunia nyata, untuk membuka kreativitas dan mendorong inovasi dalam organisasi Anda.

1. Budayakan Rasa Ingin Tahu

Inovasi berkembang dalam lingkungan di mana rasa ingin tahu didorong. Misalnya, kebijakan terkenal Google "20% time" memungkinkan karyawan menghabiskan 20% waktu kerja mereka untuk proyek yang mereka minati, terlepas dari apakah itu sesuai dengan deskripsi pekerjaan mereka. Kebijakan ini menghasilkan penciptaan Gmail dan Google News. Dengan membudayakan pola pikir karyawan untuk memiliki rasa ingin tahu, karyawan sangat mungkin berpikir “out-of-the box” dan menghasilkan solusi kreatif.

2. Merangkul Perspektif yang Beragam

Tim yang beragam membawa berbagai sudut pandang dan pengalaman berbeda, yang mengarah pada lebih banyak ide inovatif. Procter & Gamble (P&G) merangkul keberagaman dengan membentuk tim lintas fungsi yang mencakup anggota dari berbagai departemen dan latar belakang. Pendekatan ini menghasilkan pengembangan sukses produk Swiffer, produk yang merevolusi pembersihan rumah tangga. Dorong kolaborasi antar departemen dan melibatkan karyawan di semua tingkatan dalam sesi brainstorming untuk menangkap spektrum luas wawasan.

3. Manfaatkan Data dan Analitik

Data bisa menjadi alat yang kuat dalam mengidentifikasi peluang untuk berinovasi. Netflix menggunakan analitik data canggih untuk memahami preferensi penonton dan memprediksi konten apa yang akan populer. Pendekatan berbasis data ini membantu Netflix beralih dari layanan penyewaan DVD menjadi platform streaming terkemuka dan produsen konten. Gunakan data untuk menginformasikan proses pengambilan keputusan Anda dan memvalidasi ide-ide baru yang muncul.

4. Dukung Ekosistem Inovasi yang Terbuka

Inovasi yang terbuka merupakan inovasi yang melibatkan memanfaatkan sumber ide dan teknologi eksternal. Lego, brand mainan anak-anak terkemuka di dunia, mengundang pelanggan untuk mengirimkan desain mereka sendiri melalui platform Lego Ideas. Desain yang berhasil diubah menjadi set Lego resmi, menjadi menguntungkan baik untuk perusahaan maupun untuk kreatornya. Buat saluran untuk kolaborasi eksternal dan buat mekanisme untuk mengintegrasikan inovasi eksternal ke dalam model bisnis Anda.

5. Investasikan dalam R&D dan Pembelajaran Berkelanjutan

Penelitian dan pengembangan (R&D) adalah komponen penting dari strategi inovasi. Investasi berkelanjutan Apple dalam R&D telah menghasilkan produk-produk inovatif seperti iPhone dan Apple Watch. Selain itu, menyediakan peluang pembelajaran berkelanjutan bagi karyawan Anda dapat membuat mereka tetap diperbarui tentang kemajuan industri terbaru dan menginspirasi ide-ide baru. Dorong eksperimen dan alokasikan sumber daya untuk proyek R&D.

6. Dorong Pengambilan Risiko dan Terima Kegagalan

Inovasi sering melibatkan pengambilan risiko dan melangkah ke yang tidak diketahui. Budaya "Fail Fast" Amazon mendorong karyawan untuk mengambil risiko dan belajar dari kegagalan dengan cepat. Pendekatan ini menghasilkan penciptaan Amazon Web Services (AWS), segmen yang sangat sukses dan menguntungkan dari perusahaan. Buat lingkungan yang aman dimana karyawan merasa nyaman mengambil risiko yang diperhitungkan dan bereksperimen dengan ide-ide baru.

7. Libatkan Pelanggan

Pelanggan adalah sumber inspirasi yang berharga untuk inovasi. Starbucks secara rutin melibatkan pelanggan melalui platform "My Starbucks Idea", di mana pelanggan dapat mengirimkan saran untuk produk baru dan perbaikan-perbaikan yang “customer-centric”. Masukan ini telah menghasilkan penawaran populer seperti Pumpkin Spice Latte. Melibatkan pelanggan melalui survei, wawancara, dan media sosial efektif untuk memahami kebutuhan dan preferensi mereka.

8. Gunakan Design Thinking

Design thinking adalah pendekatan pemecahan masalah yang berfokus pada pemahaman pengguna dan menciptakan solusi yang berpusat pada manusia. MAKNA CREATIVE, sebuah perusahaan desain terkenal, menggunakan design thinking untuk mengembangkan produk dan layanan inovatif bagi klien di berbagai industri. Dengan menerapkan prinsip-prinsip design thinking, bisnis dapat mengembangkan solusi yang disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan mereka.

9. Tetap Aktif dan Adaptif

Lanskap bisnis yang terus berubah membuat inovasi memerlukan kemampuan untuk beradaptasi dengan cepat. Spotify menggunakan metodologi agile untuk mengiterasi produknya dengan cepat dan merespons umpan balik pengguna. Fleksibilitas ini memungkinkan Spotify tetap unggul dalam industri streaming musik yang kompetitif. Menerapkan metodologi agile untuk memungkinkan iterasi cepat dan responsif terhadap perubahan pasar efektif untuk memiliki keuntungan dalam kompetisi pasar.

10. Buat Laboratorium Inovasi

Laboratorium inovasi adalah ruang khusus di mana karyawan dapat bereksperimen dengan ide-ide baru. Lingkungan sandbox ini memungkinkan pengujian konsep baru sebelum ditingkatkan. Buat laboratorium inovasi untuk mendorong eksperimen dan kreativitas.

 

Kesimpulan

Menemukan ide-ide inovatif dalam bisnis bukanlah peristiwa satu kali tetapi proses yang berkelanjutan. Dengan menciptakan lingkungan yang mendorong kreativitas, merangkul keberagaman, memanfaatkan data, dan mempromosikan kolaborasi, bisnis dapat secara konsisten menghasilkan ide-ide terobosan. Ingat, inovasi adalah tentang menjelajahi yang tidak diketahui dan mengambil langkah berani untuk menciptakan nilai dengan cara baru. Dengan mengadopsi strategi ini dan belajar dari contoh dunia nyata, bisnis Anda dapat tetap unggul dan mendorong kesuksesan jangka panjang.

 

Fanny Sekar Parentya
Business Development Executive prasmul-eli

Banner-Article-Juni-No.5.jpg
Mengenal Metode SCAMPER: Pengertian hingga Cara Menerapkannya
11 June 2024

Dalam proses menyusun ide dan rencana, Anda dapat menggunakan ragam metode berpikir. Salah satunya adalah SCAMPER.

Dalam SCAMPER ada berbagai pertanyaan yang bertujuan untuk membantu Anda menghasilkan ide terbaik. Metode SCAMPER dapat dipergunakan untuk membuat produk dan jasa baru.

Berikut kami paparkan selengkapnya tentang Metode SCAMPER!

Pengertian Metode SCAMPER

SCAMPER adalah metode dan teknik berpikir kreatif yang menggunakan serangkaian pertanyaan untuk memancing inovasi serta cara pandang baru. Menurut Interaction-Design, SCAMPER terdiri dari:

  • Substitute
  • Combine
  • Adapt
  • Modify (terkadang juga disebut Magnify atau Minify)
  • Put to another use
  • Eliminate
  • Rearrange

Masing-masing komponen punya daftar pertanyaan yang bertujuan untuk mengasah cara berpikir Anda.

Daftar Pertanyaan SCAMPER

Gunakan daftar pertanyaan dari masing-masing komponen berikut sebagai acuan untuk membentuk kerangka berpikir dan membuat keputusan.

  1. Substitute

Anda dapat berfokus pada perubahan atau perbaikan apa yang harus dilakukan dengan pertanyaan berikut:

  • Cara atau metode baru apa yang bisa saya pakai untuk meningkatkan kualitas produk atau layanan?
  • Apakah saya harus mengubah susunan tim dan tugas untuk membuat prosesnya lebih efektif?
  • Apakah saya harus mengubah bahan dasar produk ini?
  • Apakah saya harus menggunakan teknik produksi baru?
  • Apakah saya bisa menggunakan metode ini untuk produk lainnya?
  • Apa yang terjadi jika pandangan dan pendapat saya terhadap produk ini berubah?
  1. Combine

Pada komponen ini, Anda ditantang untuk menggabungkan dan menyatukan satu atau lebih bahan, cara, bahkan orang untuk menghasilkan inovasi.

  • Apakah saya dapat menggabungkan kedua bahan ini?
  • Apakah bahan lama bisa saya gabungkan dengan bahan baru?
  • Bagaimana cara saya mengoptimalkan sisa bahan ini ke dalam bahan baru?
  • Apa yang akan terjadi saat saya menggabungkan kedua bahan tersebut?
  • Apa yang akan terjadi jika saya menggabungkan metode dan bahan ini?
  • Bagaimana cara saya membantu tim saya menggunakan metode baru ini?
  1. Adapt

Sesuai sebutannya, Anda akan diminta untuk putar otak dalam memanfaatkan suatu objek atau sumber daya agar dapat beradaptasi dan menyelesaikan masalah. Berikut contoh pertanyaannya:

  • Perubahan seperti apa yang harus dilalui agar dapat menyesuaikan kebutuhan konsumen?
  • Nilai dan fungsi apa yang bisa diubah dari produk ini?
  • Apakah produk ini hanya digunakan untuk satu fungsi?
  • Proses dan metode apa yang harus berubah untuk menghasilkan produk baru?
  1. Modify (terkadang juga disebut Magnify atau Minify)

Pada tahapan ini daftar pertanyaannya akan berfokus pada modifikasi produk dan metode yang Anda pakai untuk menghasilkan sebuah produk.

  • Apa yang bisa dimodifikasi dari produk ini?
  • Nilai atau fungsi apa yang bisa ditonjolkan dari produk ini?
  • Apakah ukurannya harus diperbesar atau diperkecil?
  • Apakah warnanya harus lebih terang atau gelap?
  • Apakah posisinya harus disesuaikan lagi?
  • Apakah produk ini butuh tambahan fitur baru?
  • Fitur baru seperti apa yang dibutuhkan pengguna?
  1. Put to another use

Anda akan diajak untuk menganalisis cara baru untuk menggunakan produk lewat pertanyaan-pertanyaan berikut:

  • Apakah produk dan jasa ini dipakai pada lebih dari satu industri?
  • Industri apa saja yang membutuhkan produk ini?
  • Apakah produk ini akan berubah fungsinya pada industri lain?
  • Jika dipakai dengan cara berbeda, apakah produk ini tetap berfungsi baik?
  • Apakah produk ini dapat dipakai anak-anak?
  • Apakah produk ini hanya dapat dipakai orang dewasa?
  1. Eliminate

Tujuannya untuk mengoptimalkan produk Anda melalui perubahan atau menghilangkan bagian tertentu. Maka, coba jawab beberapa pertanyaan berikut:

  • Apa saja bagian yang bisa saya kurangi tanpa mengubah fungsinya?
  • Bisakah saya kurangi biaya pembuatannya?
  • Bisakah saya menurunkan kualitas bahannya?
  • Apa saya bagian yang sebenarnya tak diperlukan?
  • Bagaimana caranya membuat produk ini lebih kecil dan ringan?
  • Bagaimana caranya membuat produk ini lebih mudah dipakai?
  1. Rearrange

Terakhir, Anda akan ditantang untuk melakukan sesuatu yang berlawanan dari kebiasaan atau proses dasarnya.

  • Bisakah saya mengubah arahnya jadi berlawanan?
  • Apa yang akan terjadi jika proses pembuatannya ditukar?
  • Apa yang akan terjadi jika posisinya jadi terbalik?
  • Bisakah saya memulai proses dengan tahapan akhirnya terlebih dahulu?

Cara Menerapkan Metode SCAMPER

Setelah mengenal seluk-beluknya, mungkin metode SCAMPER terlihat rumit. Untuk memudahkan Anda, berikut adalah beberapa cara sederhana menerapkannya, dirangkum dari Mindtool:

  1. Identifikasi masalah yang ada pada produk atau jasa. Selain masalah, Anda dapat memilih produk yang dirasa butuh perkembangan.
  2. Mulai jawab pertanyaan-pertanyaan di atas, mulai dari Substitute hingga Rearrange. Anda tak perlu menjawab seluruh pertanyaan, jika dirasa tidak relevan dengan kebutuhan, lewati saja.
  3. Jawaban-jawaban tersebut akan menghasilkan ide, cara, metode, hingga proses berpikir baru. Identifikasi semua hal tersebut sesuai tujuan utama.
  4. Gunakan ide, cara, metode, hingga proses berpikir yang paling sesuai dalam rencana baru dan perubahan pada produk tersebut. Pastikan juga Anda punya ide atau metode cadangan.

Contoh Penerapan Metode SCAMPER

Misalkan perusahaan Anda punya produk berupa aplikasi penyedia jasa perbaikan rumah. Sudah satu bulan jumlah pengguna tidak bertambah. Dengan Metode SCAMPER Anda ingin menambah jumlah pengguna.

  • Substitute

Coba identifikasi proses pemesanan jasa di aplikasi. Apakah Anda dapat mengubah proses pemesanan jasa tersebut? Apakah ada komplain atau masukan dari konsumen terkait jasa yang ditawarkan? 

  • Combine

Apakah bisa tukang yang memperbaiki kebocoran rumah juga mengerjakan proses pengecatan interior rumah? Apakah ada fitur yang bisa digabungkan dalam 1 halaman, agar memudahkan konsumen?

  • Adapt

Apakah jasa-jasa yang ditawarkan dalam aplikasi sudah sesuai kebutuhan konsumen Anda? Apakah harus membuat survey terbaru untuk memastikan apa saja kebutuhan konsumen? Bisakah jasa yang Anda tawarkan tidak sebatas perbaikan dan perawatan rumah?

  • Modify (terkadang juga disebut Magnify atau Minify)

Apakah ada testimoni pelanggan yang bisa ditonjolkan dalam aplikasi dan media sosial untuk meningkatkan kepercayaan calon pelanggan? Fitur baru apa yang dapat memudahkan konsumen?

  • Put to another use

Apakah Anda harus mengubah lokasi calon pelanggan semulanya Jakarta dan Tangerang jadi hanya Tangerang?

  • Eliminate

Apa fitur atau tahapan pemesanan yang bisa dihapus agar lebih mudah dipakai pelanggan?

  • Rearrange

Kalau dilihat tidak ada pertanyaan atau langkah relevan dengan masalah di atas.

Pertanyaan-pertanyaan di atas dapat menghasilkan jawaban langkah atau cara meningkatkan angka pelanggan jasa Anda. Pastikan Anda menghasilkan langkah konkret. Misalnya, Anda mau membuat diskon, tanyakan lagi “Berapa besar? Apa saja jasa yang diskon?”.

Selain menggunakan SCAMPER, Anda juga dapat belajar mengasah kemampuan berpikir kritis dan kreatif melalui short training program dari prasmul-eli!
Anda dapat belajar langsung dari para ahlinya! Tunggu apa lagi, daftar dan ikuti kelasnya dengan klik di sini sekarang!