Beranda
>
Gagasan
>
Artikel
5 Manfaat Komunikasi Lintas Fungsional dalam Tim

05 May 2023
Banner-Article-3-Mei.jpg

Kerja sama lintas fungsi berperan penting dalam mencapai tujuan bersama sebuah perusahaan atau organisasi. Keberhasilan kolaborasi antar tim dan individu mampu meningkatkan produktivitas dalam bekerja. Tidak hanya itu, ternyata ada manfaat komunikasi lintas fungsional dalam tim yang sayang untuk dilewatkan.

Sebelum lebih jauh membahas lima manfaat komunikasi lintas fungsional dalam tim, mari kulik lebih dalam mengenai pengertian kolaborasi dan komunikasi lintas fungsi terlebih dulu.

Apa itu kolaborasi dan komunikasi lintas fungsi?

Kolaborasi dan komunikasi lintas fungsional terjadi ketika individu dengan keahlian dan key performance indicator (KPI) berbeda, bekerja bersama-sama untuk mencapai tujuan bersama. Biasanya, tujuan ini berpusat pada return of investment (ROI) yang merupakan rasio untuk melakukan perhitungan efektivitas dari investasi yang telah dilakukan perusahaan atau organisasi.

Komunikasi lintas fungsional mengoptimalkan kompetensi dan keahlian setiap orang untuk mencapai sasaran bisnis secara lebih efisien dan cepat. Dalam hal ini, dibutuhkan adaptasi, keselarasan, dan akuntabilitas dari tiap individu yang terlibat di dalamnya. Setiap keputusan yang diambil adalah hasil dari diskusi dan kesepakatan tim. 

Bagaimana contoh dari komunikasi lintas fungsional? Dalam tim manajemen proyek yang bersifat lintas fungsi, di dalamnya melibatkan orang-orang dari bidang keuangan, operasi, pemasaran, sumber daya manusia (SDM), teknologi dan informasi (TI) untuk mencapai tujuan bisnis dalam lingkup yang lebih besar. Komunikasi lintas fungsi yang optimal dapat menjadi media untuk mengelola dan mencegah potensi konflik yang timbul karena perubahan.

Manfaat komunikasi lintas fungsional dalam tim

Bagi seorang manajer produk atau manajer program, mempelajari lebih dalam mengenai hasil riset konsumen atau pengguna memang penting. Namun, perlu disadari juga bahwa di luar dari itu semua, ada kontribusi dan peran tim lainnya yang memiliki kesamaan tujuan. Saat itulah, komunikasi lintas fungsional dalam tim diperlukan.

Tantangan seperti miskomunikasi dan konflik antarindividu atau tim dapat dihindari, jika kerja lintas fungsi diimplementasikan secara proporsional. Berikut lima manfaat kolaborasi dan komunikasi lintas fungsional yang mampu memberikan dampak positif signifikan terhadap output bisnis dan kinerja di suatu perusahaan atau organisasi.

1. Menciptakan inovasi

Tim yang kolaboratif adalah tim yang inovatif. Mengapa begitu? Pekerjaan dibagi ke lebih banyak orang akan mendapatkan masukan yang lebih beragam. Selain itu, tim yang kolaboratif juga mendorong pertukaran keahlian tiap individu yang terlibat di dalamnya. Dengan begitu, produk yang dihasilkan akan lebih mengakomodir kebutuhan konsumen atau pengguna. 

Sebagai contoh, sebelum produk dirilis ke pasar, idealnya melalui tahap saran dan masukan terlebih dulu dari pihak-pihak terkait. Masukan dari tim pemasaran, penjualan, atau riset dan pengembangan, dapat menjawab tantangan dari berbagai kebutuhan pelanggan. 

Molly Hellerman, Kepala Program Inovasi Global di Atlassian, menekankan pentingnya kolaborasi dan inovasi lintas fungsional, terutama di ruang digital. Hellerman berkata, “untuk mendorong kolaborasi yang lebih luas; perusahaan harus meruntuhkan silo informasi yang cenderung hanya sedikit melibatkan komunikasi. Padahal, semakin banyak orang dilibatkan, akan lebih banyak pula masukan dan saran yang dapat ditampung. Dengan begitu, kesempatan dan peluang pengembangan produk yang lebih baik dapat tercapai lebih awal.

2. Mengembangkan budaya dan gaya komunikasi inklusif

Tim produk terkadang memiliki gaya komunikasi dan budaya tersendiri dalam keseharian bekerja secara internal tim. Ada kalanya hal ini terbentuk secara tidak sengaja dan kemudian menjadi hal yang lumrah. Meski begitu, budaya internal tim (tentunya bukan hanya tim produk), dapat membatasi ruang komunikasi terbuka antar tim.

Dalam hal tersebut, manfaat komunikasi lintas fungsional dapat menghindari potensi miskomunikasi. Kolaborasi antar tim dapat menggunakan gaya komunikasi yang inklusif dan umum, sehingga pesan yang akan disampaikan dapat dipahami oleh semua departemen yang terlibat. Strategi kolaborasi lintas fungsional ini juga dapat mencakup pengetahuan penggunaan istilah tertentu dalam operasional bisnis di seluruh departemen dalam perusahaan. Basis pengetahuan ini dapat menjadi acuan atau 'glosarium', sehingga setiap karyawan (baru atau lama) tetap dapat mengetahuinya.

3. Memiliki data sentral atau bersama

Kesuksesan tim pemasaran, penjualan, keuangan, dan pelayanan konsumen atau pengguna memiliki serangkaian data spesifik yang berharga bagi proses desain dan pengembangan produk. Budaya komunikasi lintas fungsional mendorong tim untuk membagikan data dengan cara yang lebih berempati. Maksudnya, setiap pihak memiliki kesadaran bahwa individu atau tim yang menerima data tersebut dapat memahaminya secara mudah.

Sebagai contoh, data yang dibagikan lebih dari sekadar hasil mengekspor email. Merekam video dengan penjelasan singkat atau melakukan sesi diskusi bersama akan lebih membantu. Dengan cara ini, tim lain dapat dengan mudah memahami dan mengolah data tersebut secara lebih optimal untuk tujuan bisnis bersama.

4. Pengembangan produk yang lebih ramah konsumen/pengguna

Saran dan masukan dari pengalaman konsumen atau pengguna atas sebuah produk sangat penting untuk dalam proses pengembangan bisnis. Dengan begitu, pengembangan produk yang selaras dengan kebutuhan konsumen dan pengguna dapat terpenuhi.

Manfaat komunikasi lintas fungsional dalam tim juga mampu menciptakan proses pengembangan produk yang mengutamakan konsumen/pengguna. Proses ini melibatkan beragam masukan dan data ke dalam pengembangan dan pembuatan produk.

Sebagai contoh, tim pemasaran atau pelayanan konsumen memiliki data dari jumlah kunjungan website maupun komplain yang dikirimkan secara online. 

“Halaman blog atau artikel mana yang paling banyak dikunjungi?”

“Apa pertanyaan pelanggan yang paling sering ditanyakan?”
“Keluhan apa yang sering konsumen/pelanggan ajukan?”

Jawaban atas pertanyaan tersebut memberikan gambaran yang berguna untuk mengoptimalkan produk dan kepuasan konsumen/pengguna.

5. Penyelarasan tujuan

Selanjutnya, poin krusial dari manfaat komunikasi lintas fungsional dalam tim, yaitu penyelarasan tujuan yang berpusat pada keseluruhan tujuan bisnis/operasional. Tiap departemen atau tim dapat mengidentifikasi di mana dan kapan saatnya untuk melakukan sinkronisasi agar tujuan bisnis dapat tercapai secara efektif dan efisien.

Misalnya, komunikasi lintas fungsional dapat mengidentifikasi penyesuaian kolaborasi antartim yang dibutuhkan dalam setiap tahap pembuatan prototipe fitur atau produk baru. Baik itu pengujian user experience (pengalaman pengguna) atau maupun tes produk baru secara langsung ke konsumen/pengguna.

Lima contoh manfaat komunikasi lintas fungsional dalam tim yang sudah dipaparkan di atas merupakan poin penting yang perlu diusahakan dalam mencapai target bisnis/operasional. Manfaat ini baru dapat dirasakan, jika kolaborasi dan komunikasi yang inklusif terus didorong, di mana setiap individu berkontribusi secara maksimal.

ARTIKEL TERKAIT
Banner-Article-Feb-8 (1).jpg
Pengertian Stealth Startup dan Pro Kontranya dalam Bisnis
24 May 2024

Banyak perusahaan startup yang muncul sebagai pendatang baru di dunia bisnis. Tidak sedikit pula dari perusahaan-perusahaan tersebut yang mempublikasikan brand untuk membangun kepercayaan dan kredibilitas secara umum.

Namun, ada pula jenis perusahaan yang memilih untuk menjadi stealth startup. Cara ini sempat menjadi salah satu tren populer yang berkembang di dunia bisnis. Meski begitu, tidak semua orang menganggapnya sebagai salah satu strategi yang baik sehingga dalam prakteknya terjadi pro dan kontra.

Apa Itu Stealth Startup?

Stealth startup merupakan bisnis yang diluncurkan dengan tingkat kerahasiaan tertentu agar jauh dari perhatian publik. Biasanya, pendiri dan karyawan stealth startup akan menyembunyikan seluruh atau sebagian detail dari bisnisnya.

Dalam praktiknya, perusahaan seperti ini tidak akan membuat rilis pers atau strategi marketing tertentu. Jika ada website atau halaman perusahaan, informasinya pun dibatasi atau bahkan disamarkan dengan nama lain.

Stealth startup sering kali ditemukan ketika melihat portofolio investor karena venture capital perlu mengungkapkan investasinya. Anda mungkin dapat menemukan perusahaan dengan detail yang hanya memiliki sedikit detail atau namanya tidak terdengar umum. 

Biasanya, stealth startup memperoleh investor melalui koneksi swasta dengan kesepakatan yang mungkin tidak diumumkan. Kemungkinan besar, bisnis yang dijalankannya pun adalah sekelompok kecil pelanggan yang didapatkan melalui referral atau cold email.

Alasan Menjadi Stealth Startup

Alih-alih muncul sebagai bisnis baru di tengah masyarakat, tentu ada alasan yang membuat bisnis memilih menjadi stealth startup di antaranya sebagai berikut.

1. Tidak menarik perhatian

Stealth startup akan menghindari perhatian dini sebelum peluncurannya secara publik. Hal ini biasanya sengaja dilakukan pada startup teknologi. Tujuannya adalah menyembunyikan keunikan dari para investor untuk menghindari sejumlah isu-isu yang mengganggu.

2. Mengejutkan kompetitor

Kemunculan selambat-lambatnya akan memberikan lebih sedikit waktu bagi para pesaing untuk merespons. Stealth startup akan berpotensi mendapatkan lebih banyak pendanaan sambil mengembangkan teknologi baru dengan adanya posisi yang aman di mata audiens.

3. Menjamin properti intelektual

Saat belum mendaftarkan merek dagang atau masih dalam tahap pengembangan produk, stealth startup merasa lebih aman atas teknologi mereka. Hal ini memberi anggapan bahwa keamanan teknologi yang digunakan atas produk mereka akan lebih aman.

Tantangan Bagi Stealth Startup

Meski mode stealth startup dilakukan secara sadar oleh perusahaan, pilihan ini tentunya juga akan menghadirkan tantangan yang sering kali menjadi nilai kontra berikut.

1. Product market fit yang lebih lama

Mendapatkan feedback dari pelanggan menjadi cara untuk merealisasikan product market fit. Hal ini tentunya hanya bisa dilakukan dengan melibatkan survey pelanggan dan mendengarkan masukan serta komentar dari komunitas. Feedback tersebut lebih terbatas didapatkan jika sebuah perusahaan bergerak dalam stealth mode atau sembunyi-sembunyi.

2. Membatasi pilihan pendanaan

Tantangan terbesar dalam menjalankan stealth startup juga terkait dengan pendanaan. Jika belum mengungkapkan layanan atau produk secara publik, Anda mungkin kehilangan sebagian besar pasar investor. Hal ini biasanya juga memberi tekanan pada para founder untuk melakukan cara konvensional untuk mendapat pendanaan seperti pertemuan pribadi.

3. Lebih sulit mencari talent karyawan

Saat sebuah perusahaan mencari karyawan dengan identitas yang masih terbatas, para pencari kerja mungkin tidak tertarik untuk melamar. Seperti halnya anggapan dari pasar, akan lebih sulit membuktikan kredibilitas produk tanpa adanya branding yang mapan.

Tanpa alasan yang kuat, sebuah startup sebaiknya tidak memilih untuk berada dalam stealth mode. Bersikap terbuka atas perusahaan baru Anda justru dapat memungkinkan kemunculan berbagai saran, potensi investasi, hingga bakat dari talent yang berpotensi mengembangkan produk.

Sebagian jenis bisnis mungkin akan diuntungkan saat menjalankan stealth startup, terutama jika ide produk memang merupakan ide inovatif yang masih dalam tahap development, atau bisa diterapkan secara mudah oleh pesaing. Singkatnya, stealth startup yang independen mungkin akan berdampak positif, tetapi juga berisiko terutama di hadapan venture capital.

Banner-Article-May-11.jpg
Definisi CTR, Fungsi, dan Cara Meningkatkannya
24 May 2024

Click Through Rate atau CTR adalah salah satu istilah yang sering digunakan dalam bidang digital marketing. 

CTR adalah persentase orang yang mengklik iklan dibandingkan dengan jumlah total orang yang melihatnya. 

CTR bisa memberi tahu apakah iklan atau konten Anda menarik perhatian orang atau tidak. Jika CTR Anda tinggi artinya banyak orang tertarik. Akan tetapi, jika CTR rendah, bisa jadi ada yang harus diperbaiki.

Dalam artikel ini mari kita bahas lebih dalam tentang apa itu CTR, fungsi, dan cara meningkatkannya!

Definisi CTR (Click Through Rate)

Melansir Investopedia, Click Through Rate (CTR) adalah istilah yang digunakan dalam iklan online untuk mengukur persentase orang yang melihat sebuah halaman web dan kemudian mengklik iklan tertentu yang muncul di halaman tersebut.

Jika CTR tinggi, artinya iklan tersebut efektif dalam menarik perhatian orang. Sebaliknya, jika CTR rendah, artinya iklan tersebut mungkin kurang efektif.

CTR juga dapat membantu pemilik situs web mendapatkan pendapatan dari iklan. 

Pemilik situs web mendapatkan uang berdasarkan berapa banyak orang yang mengklik iklan tersebut, yang dikenal sebagai "cost-per-click."

Fungsi CTR (Click Through Rate)

CTR sangat penting karena bisa memberi tahu Anda seberapa efektif iklan dalam menarik perhatian dan minat target audiens. Berikut adalah beberapa fungsi CTR:

1. Efisiensi Biaya Iklan 

Kalau Anda membayar iklan dengan sistem "biaya per klik" atau Cost-per-Click (CPC), Click-Through Rate (CTR) yang tinggi berarti Anda mendapatkan lebih banyak klik dengan biaya yang sama.

Misalnya jika CTR tinggi, dengan jumlah uang yang sama Anda mendapatkan lebih banyak klik. Dengan demikian, Anda bisa menghemat uang saat beriklan.

2. Membantu Mengevaluasi Kampanye Iklan

CTR bisa membantu menilai seberapa baik sebuah iklan bekerja. Dengan melihat CTR, Anda bisa mengetahui iklan atau keywords mana yang menarik perhatian orang dan mana yang tidak. 

Dengan begitu, Anda bisa memperbaiki iklan di masa depan dengan memilih strategi yang lebih efektif.

3. Memengaruhi Peringkat Iklan

Peringkat Iklan (Ad Rank) adalah ukuran yang menentukan di mana iklan Anda akan muncul di halaman hasil pencarian atau situs web dibandingkan dengan iklan lain.

Click-Through Rate (CTR) yang tinggi bisa meningkatkan peringkat iklan sehingga iklan Anda muncul di posisi yang lebih atas atau lebih terlihat.

Semakin tinggi posisi iklan Anda, semakin besar kemungkinan orang melihat dan mengklik iklan tersebut.

Jadi, jika CTR Anda tinggi, iklan Anda bisa mendapat posisi yang lebih baik sehingga lebih banyak peluang untuk mendapatkan klik dari orang-orang.

Cara Meningkatkan CTR (Click Through Rate) untuk Ads

Lalu, bagaimana cara meningkatkan CTR untuk iklan? 

1. Memilih Keyword yang sesuai untuk PPC Campaigns

Hal utama yang harus dilakukan untuk meningkatkan CTR adalah dengan memilih keyword yang paling tepat dan relevan. 

Keywords adalah istilah yang digunakan saat seseorang mencari sesuatu di mesin pencari. 

Jika Anda menargetkan keywords yang tepat, tentu iklan Anda akan lebih mungkin muncul di depan orang yang benar-benar tertarik dengan produk atau layanan Anda.

Misalnya, jika Anda menjual sepatu lari. Anda bisa menggunakan kata kunci berupa "sepatu lari terbaik" atau "beli sepatu lari online". 

Dengan menggunakan keywords yang sesuai, Anda dapat menarik audiens yang memang berniat membeli produk Anda.

2. Menggunakan Kata Kunci Negatif

Selain menargetkan keywords yang relevan, penting juga untuk memikirkan keywords negatif. 

Keywords negatif adalah keywords yang ingin Anda hindari, sehingga iklan tidak muncul untuk pencarian yang tidak relevan. 

Misalnya, jika Anda menjual sepatu lari. Sebaiknya Anda memasukkan keywords negatif seperti "sepatu basket" atau "sepatu hak tinggi" untuk menghindari klik dari orang-orang yang tidak tertarik dengan produk Anda.

3. Manfaatkan Remarketing Campaign

Remarketing campaign memungkinkan Anda menjangkau kembali orang-orang yang sebelumnya telah mengunjungi situs web Anda. 

Dengan menggunakan pixel, Anda bisa menargetkan pengunjung sebelumnya dengan iklan yang dipersonalisasi.

Remarketing campaign dapat meningkatkan CTR karena pengguna yang pernah mengunjungi situs Anda lebih cenderung tertarik pada iklan Anda.

Kesalahan Umum saat Meningkatkan CTR

Ketika mencoba meningkatkan CTR, banyak orang cenderung membuat kesalahan yang bisa berdampak buruk pada hasil iklan.

Berikut adalah beberapa kesalahan yang sering terjadi saat meningkatkan CTR:

1. Menggunakan clickbait dalam ad copy

Ini adalah kesalahan yang sering kali terjadi. Kadang-kadang kita tergoda untuk menggunakan judul yang sangat menarik perhatian, tapi bisa jadi informasinya terlalu berlebihan atau bahkan menyesatkan. 

Meskipun mungkin membuat orang klik, tapi bisa merusak kepercayaan mereka ke depannya.

2. Menargetkan audiens yang salah

Jika Anda menargetkan iklan ke audiens yang tidak relevan dengan produk atau layanan Anda, kemungkinan CTR bisa rendah.

Bayangkan jika Anda mengiklankan produk olahraga kepada orang yang tidak tertarik pada olahraga. Kemungkinan besar mereka tidak akan mengklik iklan Anda. 

Jadi, pastikan Anda menargetkan audiens yang tepat.

3. Tidak menguji variasi iklan

Kampanye iklan yang baik biasanya melewati proses percobaan untuk menemukan kombinasi terbaik.

Cobalah berbagai judul, gambar, atau teks untuk melihat mana yang paling menarik perhatian orang. 

4. Tidak memantau CTR dengan baik

CTR adalah metrik yang penting, jadi jika Anda tidak memantau atau tidak memerhatikan perubahannya, Anda tidak akan tahu apa yang perlu diperbaiki. 

Dengan memonitor CTR secara teratur, Anda dapat dengan cepat mengidentifikasi masalah dan melakukan penyesuaian.

Setelah membaca penjelasan di atas bisa disimpulkan jika CTR adalah metrik yang mengukur persentase orang yang mengklik iklan dibandingkan dengan jumlah total orang yang melihatnya. 

CTR yang tinggi menandakan iklan Anda berhasil menarik perhatian, sedangkan CTR yang rendah bisa berarti iklan kurang efektif.

Untuk meningkatkan CTR, fokuslah pada penggunaan keywords yang tepat, gunakan keywords negatif untuk menghindari klik yang tidak relevan, dan manfaatkan remarketing untuk menarik kembali pengunjung yang sudah pernah ke situs Anda. 

Hindari kesalahan seperti clickbait, menargetkan audiens yang salah, dan tidak menguji variasi iklan.
Ingin belajar dasar-dasar digital marketing lebih dalam? Bergabunglah dengan kelas Digital Marketing Fundamental kami sekarang!

Banner-Article-Feb-7 (1).jpg
Perbedaan Market Cap dan Revenue
23 May 2024

Ada banyak cara yang bisa digunakan untuk melihat nilai dari sebuah perusahaan. Salah satunya dengan melihat market cap atau kapitalisasi pasar. Di sisi lain, Anda bisa melihat dari revenue yang didapatkan dalam periode tertentu.

Dua hal ini sebenarnya sangat berbeda. Sayangnya, banyak orang yang masih salah dalam memaknai perbedaan dari market cap dan revenue dari sebuah perusahaan. Untuk mengetahui lebih jelas, simak pengertian dari masing-masing istilah tersebut di bawah ini.

Pengertian Market Capitalization

Market cap adalah nilai dari sebuah perusahaan yang dilihat dari harga sahamnya. Pada dasarnya, aspek ini melihat jumlah uang yang dibutuhkan untuk membeli perusahaan tersebut berdasarkan harga sahamnya secara keseluruhan.

Perhitungan nilai dari kapitalisasi pasar tetap bisa dilakukan baik saat perusahaan belum melantai di pasar bursa saham maupun belum. Hal yang jadi pembeda adalah nilai kapitalisasi pasar akan bersifat fluktuatif saat sudah melepas sebagian sahamnya ke pasar bursa.

Market cap akan memberikan gambaran sederhana tentang nilai dari perusahaan tersebut tanpa mempertimbangkan aspek lain. Pasalnya, Anda tidak perlu melihat utang, potensi pertumbuhan, atau aset yang dimiliki oleh perusahaan. Market cap ini akan menjadi matriks untuk masyarakat melihat reputasi dan sentiment masyarakat secara lebih luas.

Pengertian Revenue

Di sisi lain, melihat revenue perusahaan akan jauh lebih sederhana untuk melihat nilai dari perusahaan tersebut. Revenue adalah sejumlah uang yang didapatkan oleh perusahaan dari hasil penjualan barang dan jasa ke konsumen. Namun, Anda belum akan melihat keuntungan yang dihasilkan dari transaksi tersebut.

Sebagai informasi, revenue merupakan aspek paling atas yang dicatat dalam laporan laba rugi. Namun, pajak yang masuk ke dalam harga jual bukanlah termasuk revenue. Nilai tersebut dipungut oleh perusahaan atas nama negara sehingga tidak termasuk ke dalam pendapatan dalam laporan.

Nantinya, revenue ini akan dikurangi dengan semua biaya yang ada sampai dapat laba bersih. Dalam sebuah bisnis, investor kerap mempertimbangkan revenue dari sebuah perusahaan untuk melihat kesehatan finansial dan peluang bisnis di masa depan.

Perbedaan Market Cap dan Revenue

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya bahwa market cap bisa dihitung berdasarkan harga saham sebuah perusahaan. Ambil contoh saat sebuah perusahaan memiliki harga saham senilai Rp5.000 dan ada sebanyak satu juta saham beredar.

Anda hanya perlu mengalikan semuanya sehingga mendapatkan nilai kapitalisasi pasar. Dengan kata lain, nilai market cap dari perusahaan tersebut adalah Rp1 miliar.

Di sisi lain, revenue tidak ada kaitannya sama sekali dengan nilai saham. Besar sedikitnya revenue sebuah perusahaan pun tidak akan berimbas langsung pada harga saham sebuah perusahaan di pasar. Bisa jadi ada perusahaan yang memiliki market cap tinggi, tapi revenue yang didapatkan setiap bulannya terhitung rendah.

Ada banyak perusahaan rintisan (startup) yang sering kali dianggap potensial oleh banyak investor. Hal ini yang membuat harga saham mereka melonjak naik di pasar. Sayangnya, banyak startup tersebut yang tidak mampu melakukan penjualan pada produknya sehingga revenue yang didapatkan pun kecil.

Berbeda dengan perusahaan otomotif yang relatif memiliki revenue tinggi. Terlebih lagi saat produk kendaraannya diterima dengan baik oleh masyarakat dan menjadi pilihan utama di pasaran. Dengan revenue tinggi ini, perusahaan otomotif sebenarnya punya peluang bisnis yang cukup besar.

Sayangnya, banyak saham perusahaan otomotif kurang menarik di mata para investor dan trader. Hal ini membuat permintaan atas saham-saham perusahaan otomotif sangat kecil. Tidak heran banyak perusahaan otomotif sering berada di ambang kebangkrutan karena market cap-nya terhitung rendah.

Untuk itu, Anda perlu paham lebih dalam tentang perbedaan antara market cap dan revenue dalam menjalankan bisnis maupun saat menjadi investor. Menambah wawasan terkait analisis finansial bisa membantu Anda dalam mencari aspek penting yang dibutuhkan dalam membuat laporan keuangan sebuah perusahaan. Dapatkan semua wawasan tersebut dalam Program Financial Analysis untuk membantu Anda mengoptimalkan strategi finansial dalam bisnis.