Di tengah meningkatnya tekanan dari regulator, investor, dan konsumen terhadap praktik bisnis yang lebih bertanggung jawab, istilah ESG dan CSR menjadi semakin sering didengar.
Namun, tahukah Anda bahwa keduanya meskipun mirip, sebenarnya memiliki pendekatan, tujuan, dan pengaruh yang berbeda terhadap performa bisnis?
Banyak perusahaan yang masih bingung membedakan ESG dan CSR, bahkan menggunakannya secara bergantian.
Padahal, pemahaman yang tepat akan membuka peluang strategis yang lebih besar dalam membangun bisnis berkelanjutan.
Artikel ini akan membantu Anda memahami apa itu ESG dan CSR, bagaimana keduanya berbeda, serta apakah ESG benar-benar dapat menggantikan CSR.
Kami juga akan mengulas mengapa penting bagi perusahaan modern untuk mulai mengadopsi pendekatan ESG dan bagaimana Anda mendapatkan mitra pelatihan strategis Anda dalam transformasi ini.
Dalam beberapa tahun terakhir, konsep ESG (Environmental, Social, and Governance) semakin mendapat sorotan di dunia bisnis global.
Laporan PwC Global Investor ESG Survey 2024 menunjukkan bahwa 94% investor menginginkan perusahaan untuk mengungkapkan informasi ESG dalam format yang bisa dibandingkan secara global.
Hal ini membuktikan bahwa ESG bukan hanya tren sesaat, tetapi telah menjadi parameter utama dalam menilai keberlanjutan dan daya tahan bisnis di mata investor dan pemangku kepentingan.
Tak heran jika perusahaan yang serius dalam implementasi ESG cenderung memiliki kinerja jangka panjang yang lebih stabil dan reputasi yang kuat di pasar.
ESG sendiri adalah kerangka kerja yang digunakan untuk mengevaluasi sejauh mana sebuah perusahaan memperhatikan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola dalam kegiatan operasionalnya.
Selain itu, ESG mencerminkan pendekatan bisnis yang tidak hanya berorientasi pada profit, tetapi juga memperhitungkan dampak jangka panjang terhadap bumi dan masyarakat.
ESG kini menjadi fondasi penting bagi perusahaan yang ingin bertransformasi secara berkelanjutan, terutama dalam menghadapi perubahan iklim, tekanan regulasi, dan tuntutan konsumen yang semakin sadar etika.
Aspek lingkungan dalam ESG mengacu pada bagaimana perusahaan menangani dampaknya terhadap ekosistem dan planet.
Ini mencakup isu-isu seperti emisi karbon, penggunaan energi, pengelolaan limbah, konservasi sumber daya alam, dan perlindungan terhadap keanekaragaman hayati.
Perusahaan yang proaktif di aspek ini umumnya melakukan inisiatif seperti transisi ke energi terbarukan, menggunakan teknologi ramah lingkungan dalam produksi, hingga merancang produk dengan prinsip circular economy.
Sebagai contoh, perusahaan manufaktur dapat menargetkan pengurangan jejak karbon hingga 50% dalam lima tahun ke depan melalui efisiensi energi dan penggunaan bahan baku daur ulang.
Langkah-langkah ini tidak hanya membantu mengurangi risiko lingkungan, tetapi juga meningkatkan efisiensi operasional, mengurangi biaya jangka panjang, serta membangun reputasi perusahaan sebagai pelaku industri yang bertanggung jawab.
Komponen sosial ESG menilai bagaimana perusahaan memperlakukan sumber daya manusianya, termasuk karyawan, komunitas lokal, konsumen, dan rantai pasok.
Fokus utamanya meliputi kesehatan dan keselamatan kerja, hak asasi manusia, keberagaman dan inklusi, pelatihan dan pengembangan SDM, hingga kontribusi terhadap komunitas sekitar.
Perusahaan yang unggul di aspek sosial cenderung memiliki loyalitas karyawan yang tinggi dan relasi positif dengan publik.
Misalnya, perusahaan yang menerapkan kebijakan cuti melahirkan inklusif, program pelatihan digital untuk karyawan, atau memberikan akses ke layanan kesehatan bagi komunitas sekitar, memperlihatkan komitmen pada nilai-nilai sosial yang berkelanjutan.
Di era keterbukaan informasi saat ini, perusahaan yang mengabaikan aspek sosial berisiko menghadapi tekanan publik yang dapat berdampak langsung terhadap citra merek dan kepercayaan konsumen.
Tata kelola atau governance dalam ESG menekankan pentingnya integritas dalam pengelolaan perusahaan.
Ini mencakup transparansi dalam pelaporan, struktur dewan direksi yang independen, sistem audit yang kuat, pengelolaan risiko, anti-korupsi, serta kepatuhan terhadap regulasi dan hukum yang berlaku.
Governance yang baik tidak hanya mencerminkan profesionalisme, tetapi juga menjadi jaminan bahwa perusahaan dikelola secara adil dan etis.
Sebagai contoh, perusahaan yang secara berkala mengungkapkan laporan ESG yang terverifikasi pihak ketiga, menetapkan kode etik internal yang ketat, serta memiliki sistem pelaporan pelanggaran (whistleblowing) yang aman dan terbuka, akan lebih dipercaya oleh investor.
Governance yang kuat adalah fondasi penting dalam menciptakan akuntabilitas dan stabilitas jangka panjang, terutama dalam menghadapi ketidakpastian pasar dan tuntutan hukum.
Corporate Social Responsibility (CSR) telah lama menjadi pendekatan utama perusahaan dalam menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat.
Menurut laporan KPMG Survey of Sustainability Reporting 2024, lebih dari 80% perusahaan besar secara global masih menjalankan inisiatif CSR sebagai bentuk kontribusi sosial yang terpisah dari aktivitas bisnis utama mereka.
Namun, di tengah transformasi global menuju keberlanjutan jangka panjang, CSR mulai mendapat sorotan karena dinilai kurang strategis bila dibandingkan dengan pendekatan yang lebih terintegrasi seperti ESG.
Meskipun demikian, CSR tetap relevan, terutama bagi perusahaan yang baru memulai perjalanan keberlanjutannya, karena sifatnya yang fleksibel dan langsung menyentuh komunitas.
CSR atau Tanggung Jawab Sosial Perusahaan adalah bentuk komitmen sukarela perusahaan dalam memperhatikan dampak sosial dan lingkungan dari operasional bisnis mereka.
Tidak seperti ESG yang mengintegrasikan keberlanjutan ke dalam model bisnis inti, CSR lebih banyak berwujud kegiatan filantropi dan aksi sosial yang berdiri sendiri.
Meskipun tidak secara langsung memengaruhi keputusan bisnis, CSR memainkan peran penting dalam membangun citra perusahaan, memperkuat hubungan dengan masyarakat, dan menciptakan goodwill di mata publik.
Salah satu elemen paling umum dari CSR adalah kegiatan sosial yang ditujukan untuk meningkatkan kualitas hidup komunitas sekitar.
Ini bisa berupa program donasi, bantuan bencana, pembangunan fasilitas pendidikan, atau penyediaan layanan kesehatan gratis.
Program seperti ini biasanya dilakukan secara berkala dan dikelola oleh divisi CSR atau kerja sama dengan lembaga non-profit.
Sebagai contoh, banyak perusahaan FMCG di Indonesia yang aktif membangun fasilitas air bersih di desa-desa, atau menyelenggarakan program gizi untuk anak-anak.
Meskipun dampaknya bersifat lokal, kegiatan ini membantu meningkatkan reputasi perusahaan sebagai pihak yang peduli pada masyarakat dan mendukung pembangunan sosial secara langsung.
Namun, karena program seperti ini jarang terhubung langsung dengan core business, dampak jangka panjang terhadap performa bisnis biasanya terbatas.
CSR juga kerap diwujudkan dalam bentuk kegiatan ramah lingkungan. Kegiatan ini meliputi penanaman pohon, kampanye pengurangan plastik, program daur ulang, hingga penggunaan kemasan biodegradable.
Tujuannya adalah untuk mengurangi dampak negatif perusahaan terhadap alam, sekaligus meningkatkan kesadaran lingkungan di antara konsumen dan karyawan.
Misalnya, perusahaan ritel besar dapat menjalankan kampanye “Bawa Kantong Sendiri” dan memberikan insentif bagi pelanggan yang membawa tas belanja dari rumah.
Walau skalanya mungkin kecil, aktivitas seperti ini efektif untuk memperkuat nilai merek dan menunjukkan bahwa perusahaan tidak acuh terhadap isu lingkungan.
Tantangannya adalah, tanpa integrasi dengan strategi bisnis utama, kegiatan ini kerap dianggap sebagai proyek sampingan yang mudah ditinggalkan ketika anggaran diperketat.
Banyak perusahaan menjalankan program CSR dengan melibatkan karyawan sebagai relawan dalam kegiatan sosial.
Ini bisa berupa kegiatan membersihkan pantai, mengajar di daerah tertinggal, atau menjadi mentor bagi pelaku UMKM lokal.
Selain memberikan dampak sosial langsung, program ini juga bermanfaat untuk mempererat solidaritas internal dan meningkatkan keterlibatan karyawan (employee engagement).
Keterlibatan karyawan dalam aktivitas sosial juga bisa memperkuat budaya perusahaan yang inklusif dan humanis.
Namun, program semacam ini biasanya bersifat episodik dan tidak terhubung langsung dengan tujuan jangka panjang perusahaan.
Inilah salah satu alasan mengapa CSR mulai dianggap perlu berevolusi menjadi pendekatan yang lebih menyeluruh seperti ESG, yang menekankan integrasi nilai sosial dalam seluruh lini bisnis.
Meskipun ESG dan CSR sering disamakan karena keduanya berkaitan dengan keberlanjutan, pendekatan keduanya berbeda secara fundamental.
Perbedaan inilah yang membuat perusahaan perlu memahami batas jelas antara keduanya agar strategi keberlanjutan mereka tidak hanya bersifat simbolis, tetapi juga berdampak nyata terhadap bisnis.
Dengan meningkatnya tekanan dari regulator dan pasar untuk menerapkan prinsip bisnis berkelanjutan, perusahaan kini tak bisa lagi hanya mengandalkan CSR sebagai satu-satunya bentuk tanggung jawab sosial.
ESG menawarkan kerangka kerja yang lebih strategis, terukur, dan relevan dengan dinamika ekonomi global saat ini. Berikut adalah perbedaan mendasar antara ESG dan CSR yang penting Anda pahami:
CSR umumnya bersifat sukarela dan difokuskan pada membangun reputasi perusahaan. Banyak organisasi menjalankan program CSR untuk memperkuat citra positif di mata masyarakat, seperti memberikan donasi atau menjalankan kampanye sosial.
Namun, program ini sering kali tidak dihubungkan secara langsung dengan strategi inti atau indikator kinerja utama perusahaan.
Sebaliknya, ESG memiliki pendekatan yang jauh lebih strategis. ESG bukan sekadar proyek sosial, melainkan kerangka manajemen risiko dan keberlanjutan jangka panjang yang menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan bisnis.
ESG digunakan investor untuk mengevaluasi ketahanan perusahaan terhadap risiko lingkungan, sosial, dan tata kelola yang berdampak pada nilai ekonomi.
Salah satu tantangan utama dalam penerapan CSR adalah kurangnya standar pelaporan yang baku.
Banyak program CSR tidak memiliki indikator keberhasilan yang jelas atau sistem pelaporan yang terstruktur.
Hal ini menyulitkan pengukuran dampak dan membuat CSR rentan dianggap sekadar aktivitas goodwill yang tidak berkelanjutan.
Berbeda dengan CSR, ESG memiliki kerangka pelaporan yang diakui secara global.
Standar seperti GRI (Global Reporting Initiative), SASB (Sustainability Accounting Standards Board), dan TCFD (Task Force on Climate-related Financial Disclosures) memungkinkan perusahaan untuk menyusun laporan keberlanjutan yang dapat dibandingkan, diverifikasi, dan dinilai oleh pihak eksternal.
Ini menjadikan ESG sebagai alat komunikasi yang kredibel bagi investor dan regulator.
CSR cenderung berfokus pada dampak jangka pendek, misalnya membangun hubungan dengan komunitas lokal atau memperbaiki persepsi publik terhadap merek.
Hal ini sah-sah saja, terutama ketika terjadi krisis atau kebutuhan mendesak. Namun, pendekatan jangka pendek ini sering kali tidak cukup untuk menjawab tantangan keberlanjutan yang kompleks.
Sebaliknya, ESG berfokus pada keberlanjutan jangka panjang.
Dengan mempertimbangkan faktor lingkungan, sosial, dan tata kelola dalam perencanaan strategis, perusahaan dapat memitigasi risiko di masa depan, menciptakan nilai yang berkelanjutan, dan menjaga keberlangsungan bisnis dalam jangka waktu lebih panjang.
Program CSR biasanya ditujukan untuk masyarakat umum atau komunitas lokal sebagai bentuk kontribusi sosial.
Fokus utamanya adalah pada dampak eksternal terhadap komunitas, tanpa keterlibatan aktif dari pemangku kepentingan internal seperti investor atau regulator.
Sementara itu, ESG mempertimbangkan kepentingan semua pihak yang terlibat dalam ekosistem bisnis, mulai dari investor, konsumen, mitra bisnis, regulator, hingga karyawan.
Pendekatan ini menuntut keterlibatan lebih luas dalam mendefinisikan tujuan, pelaksanaan, hingga evaluasi dampak dari setiap kebijakan yang diambil.
|
Aspek |
CSR |
ESG |
|
Orientasi Strategis |
Sukarela, fokus pada citra dan goodwill |
Strategis, terintegrasi dengan manajemen risiko dan bisnis |
|
Ukuran & Pelaporan |
Tidak selalu memiliki standar pelaporan baku |
Mengikuti standar global seperti GRI, SASB, TCFD |
|
Fokus Waktu |
Dampak jangka pendek |
Keberlanjutan jangka panjang |
|
Pemangku Kepentingan |
Fokus pada masyarakat umum |
Melibatkan semua stakeholder (investor, regulator, karyawan, dll.) |
Memahami perbedaan-perbedaan ini akan membantu Anda merancang strategi keberlanjutan yang lebih terarah, terukur, dan sejalan dengan ekspektasi global terhadap bisnis yang bertanggung jawab.
Banyak pihak mempertanyakan apakah ESG akan menggantikan CSR. Jawabannya: tidak sepenuhnya, tetapi ESG cenderung menjadi evolusi dari CSR.
ESG mengambil semangat dari CSR, yakni tanggung jawab sosial dan lingkungan—dan membawanya ke level yang lebih strategis, terukur, dan terintegrasi.
CSR tetap relevan sebagai dasar dari budaya dan nilai perusahaan, namun ESG memberikan kerangka kerja yang lebih kuat untuk memasukkan isu keberlanjutan ke dalam strategi bisnis, pengambilan keputusan, dan pelaporan kepada investor.
ESG menjadikan keberlanjutan sebagai bagian dari daya saing, bukan hanya bentuk kepedulian.
Perusahaan-perusahaan global seperti Unilever, Nestlé, dan bahkan perusahaan Indonesia seperti Bank BCA dan Pertamina, telah menunjukkan bagaimana transisi dari CSR ke ESG mampu menciptakan keunggulan bisnis.
Mereka tidak hanya memberikan kontribusi sosial, tetapi juga meningkatkan efisiensi, mengurangi risiko, dan membangun reputasi jangka panjang.
Dalam dunia bisnis yang semakin terdorong oleh transparansi, akuntabilitas, dan keberlanjutan, menyusun strategi ESG bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.
Investor kini lebih memilih berinvestasi pada perusahaan yang memiliki pendekatan ESG yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan secara global.
Ini menunjukkan bahwa ESG telah melampaui peran tradisional CSR dan berkembang menjadi kerangka kerja utama dalam pengambilan keputusan strategis perusahaan.
ESG tidak hanya menjawab kebutuhan reputasi semata, tetapi juga menciptakan nilai jangka panjang melalui integrasi keberlanjutan dalam seluruh rantai nilai bisnis.
Jika Anda ingin membawa organisasi Anda menuju arah keberlanjutan yang lebih terstruktur, strategis, dan berdampak nyata, maka saatnya Anda mempersiapkan diri dan tim Anda dengan pengetahuan serta keterampilan yang tepat.
Prasmul-eli menghadirkan program ESG for Leaders: Lead The Change or Be Left Behind yang dirancang untuk para pengambil keputusan yang ingin menjadikan ESG sebagai keunggulan kompetitif bisnis.
Jangan hanya mengikuti arus perubahan, pimpinlah transformasi. Daftarkan diri Anda sekarang dan jadilah pemimpin perubahan di era bisnis berkelanjutan.