Dalam era bisnis modern, keberlanjutan bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan strategis. Investor, pelanggan, regulator, hingga karyawan kini menaruh perhatian lebih besar terhadap tanggung jawab sosial dan lingkungan dari sebuah perusahaan.
Ini menjadikan ESG (Environmental, Social, and Governance) sebagai kompas baru dalam menavigasi pertumbuhan jangka panjang.
Pertanyaannya, bagaimana sebenarnya contoh penerapan ESG di perusahaan dan bagaimana Anda dapat memulainya?
Masih banyak perusahaan yang merasa bingung tentang apa saja yang termasuk dalam strategi ESG, bagaimana mengukurnya, dan lebih penting lagi, bagaimana menerapkannya secara nyata di lapangan.
Artikel ini akan membantu Anda memahami konsep ESG secara menyeluruh, lengkap dengan contoh-contoh aplikatif dan standar yang diakui secara global.
Jika Anda adalah pemimpin perusahaan, pengambil keputusan, atau profesional yang ingin membawa organisasi menuju arah yang lebih berkelanjutan, artikel ini akan memberikan panduan praktis yang bisa langsung Anda adaptasi.
ESG adalah kerangka kerja yang digunakan untuk mengukur dampak dan kinerja keberlanjutan sebuah organisasi di tiga bidang utama, yakni lingkungan (Environmental), sosial (Social), dan tata kelola perusahaan (Governance).
Di sisi Environmental, perusahaan fokus pada isu seperti emisi karbon, pengelolaan limbah, efisiensi energi, dan konservasi sumber daya alam.
Social menyoroti hubungan perusahaan dengan karyawan, komunitas lokal, serta rantai pasok.
Sedangkan Governance berkaitan dengan tata kelola perusahaan, transparansi, etika bisnis, dan struktur pengambilan keputusan.
Dengan menerapkan ESG, perusahaan Anda tidak hanya menunjukkan tanggung jawab, tetapi juga menciptakan nilai tambah melalui efisiensi, inovasi, dan kepercayaan publik yang lebih besar.
Sebuah studi dalam International Review of Economics & Finance (2024) menemukan bahwa setiap kenaikan skor ESG perusahaan meningkatkan nilai tambah ekonomi (EVA) sebesar 0,63 % dan menurunkan risiko kebangkrutan sebesar 0,32 %, mendorong ketahanan perusahaan secara signifikan.
Sementara itu, meta-analisis yang luas oleh NYU Stern (2023) menunjukkan bahwa 58 % dari lebih 1.000 studi menemukan korelasi positif antara performa ESG dan hasil finansial perusahaan. Sebaliknya, hanya 8 % yang menemukan dampak negatif.
Tak heran, semakin banyak perusahaan mulai mengambil langkah konkret dalam tiga pilar utama ESG, yakni lingkungan (environmental), sosial (social), dan tata kelola (governance).
Namun, banyak pelaku bisnis masih bingung tentang seperti apa bentuk nyata dari komitmen ESG ini.
Pada bagian ini, Anda akan menemukan contoh nyata dari tindakan ESG yang bisa diterapkan di berbagai jenis perusahaan, lengkap dengan manfaat strategisnya.
Tindakan ESG dalam aspek lingkungan berfokus pada bagaimana perusahaan mengelola dampaknya terhadap ekosistem.
Salah satu tindakan paling populer adalah mengurangi emisi gas rumah kaca, misalnya dengan beralih ke energi terbarukan seperti tenaga surya atau biomassa.
Selain itu, banyak perusahaan telah menerapkan sistem daur ulang limbah untuk mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA, sekaligus mengefisiensikan proses produksi.
Langkah lain yang tak kalah penting adalah pengurangan jejak karbon melalui penggunaan transportasi ramah lingkungan dan optimalisasi rantai pasok.
Penggunaan kendaraan listrik untuk operasional internal atau kolaborasi dengan vendor logistik hijau kini menjadi tren.
Lebih dari sekadar upaya ramah lingkungan, tindakan ini terbukti menekan biaya operasional jangka panjang.
Contohnya, Unilever berhasil menghemat jutaan dolar per tahun setelah mengimplementasikan teknologi efisiensi energi dan strategi pengemasan berkelanjutan di lini produksinya.
Di ranah sosial, perusahaan bisa menunjukkan tanggung jawabnya melalui berbagai inisiatif yang mendukung kesejahteraan karyawan dan masyarakat luas.
Contohnya termasuk program kesehatan mental di tempat kerja, yang semakin dibutuhkan di tengah tekanan era digital.
Selain itu, pelatihan keterampilan bagi masyarakat sekitar, seperti digital literacy atau kewirausahaan, juga menjadi bentuk kontribusi sosial yang nyata.
Tak kalah penting, perusahaan juga harus memastikan lingkungan kerja yang inklusif dan bebas dari diskriminasi.
Ini termasuk kebijakan rekrutmen yang adil, pelatihan keberagaman, hingga penyediaan fasilitas ramah disabilitas.
Perusahaan yang menunjukkan kepedulian tinggi terhadap aspek sosial umumnya memiliki loyalitas karyawan yang lebih tinggi, citra merek yang lebih kuat, dan tingkat turnover yang lebih rendah.
Ini bukan hanya baik untuk reputasi, tetapi juga berdampak langsung pada kinerja dan kontinuitas bisnis.
Aspek tata kelola (governance) menekankan pentingnya transparansi, akuntabilitas, dan integritas dalam pengelolaan perusahaan.
Salah satu contohnya adalah penerapan kebijakan antikorupsi yang ketat serta audit internal rutin untuk menjaga kepercayaan investor dan publik.
Selain itu, perusahaan yang serius dalam menerapkan ESG biasanya membentuk komite ESG di tingkat dewan direksi, agar isu keberlanjutan menjadi bagian dari keputusan strategis tertinggi.
Standar tata kelola juga bisa diperkuat dengan mengadopsi panduan dari organisasi internasional seperti OECD atau ISO 37000.
Tata kelola yang baik bukan hanya mengurangi risiko hukum dan reputasi, tetapi juga memberikan daya saing dalam menarik modal dan mitra strategis.
Perusahaan yang menjalankan prinsip governance secara konsisten akan lebih dipercaya oleh regulator, lembaga keuangan, dan publik luas, terutama dalam iklim bisnis global yang semakin menuntut transparansi.
Di tengah meningkatnya tekanan dari investor dan regulator global, perusahaan kini dituntut untuk tidak hanya “berbuat baik”, tetapi juga melaporkan dengan baik.
Laporan PwC Global Investor ESG Survey (2023) menunjukkan bahwa 94% investor menginginkan perusahaan untuk mengungkapkan informasi ESG dengan format dan standar yang dapat dibandingkan secara global.
Sayangnya, banyak perusahaan masih kebingungan dalam memilih standar pelaporan ESG yang tepat.
Untuk membantu Anda menyusun strategi ESG yang kredibel dan selaras dengan ekspektasi pasar, bagian ini akan membahas tiga standar ESG paling banyak digunakan secara internasional, lengkap dengan manfaat dan aplikasinya di dunia bisnis.
GRI adalah salah satu standar pelaporan keberlanjutan paling komprehensif dan diakui secara global.
Peran GRI adalah menyediakan kerangka kerja yang memungkinkan perusahaan melaporkan dampaknya terhadap ekonomi, lingkungan, dan sosial dengan cara yang sistematis dan terstruktur.
Standar ini bersifat fleksibel dan dapat diterapkan oleh berbagai jenis organisasi di hampir semua sektor industri.
Bagi Anda yang ingin membangun kepercayaan publik dan memperkuat transparansi, GRI adalah pilihan yang sangat relevan.
Dengan mengikuti pedoman GRI, Anda dapat menunjukkan akuntabilitas atas praktik bisnis yang berkelanjutan dan tanggung jawab sosial perusahaan.
Tak hanya itu, laporan ESG berbasis GRI juga sering digunakan sebagai acuan utama oleh lembaga rating ESG internasional dan analis investasi berkelanjutan.
Berbeda dari GRI yang bersifat general, SASB dirancang untuk mengidentifikasi isu-isu ESG yang material secara spesifik per industri.
SASB menyediakan standar pelaporan yang lebih fokus dan relevan terhadap dinamika bisnis di berbagai sektor seperti energi, teknologi, manufaktur, hingga kesehatan.
Dengan pendekatan ini, perusahaan dapat menghemat waktu sekaligus menyajikan laporan yang benar-benar mencerminkan risiko dan peluang yang nyata dalam bisnisnya.
Jika perusahaan Anda bergerak di industri yang sangat diatur atau memiliki tantangan lingkungan dan sosial yang khas, SASB akan sangat membantu dalam memastikan bahwa Anda melaporkan hal-hal yang paling penting bagi pemangku kepentingan dan investor.
Pendekatan materialitas ini juga membuat laporan ESG Anda lebih strategis, tidak hanya sebagai kewajiban administratif tetapi sebagai alat komunikasi nilai dan kinerja perusahaan.
TCFD menjadi sangat relevan di tengah meningkatnya risiko perubahan iklim terhadap operasional dan keuangan perusahaan.
Standar ini dikembangkan oleh Financial Stability Board dan kini telah diadopsi oleh banyak regulator dan bursa saham global, termasuk Singapura, Inggris, dan Uni Eropa.
Fokus utama TCFD adalah transparansi terhadap risiko dan peluang iklim dalam laporan keuangan perusahaan.
TCFD mendorong perusahaan untuk mengevaluasi skenario perubahan iklim dan mengintegrasikan hasilnya ke dalam proses perencanaan bisnis jangka panjang.
Dengan mengikuti TCFD, Anda dapat menunjukkan kepada investor bahwa perusahaan siap menghadapi transisi menuju ekonomi rendah karbon.
Tak hanya itu, penerapan TCFD juga menjadi nilai tambah saat Anda ingin mengakses pendanaan hijau atau bekerja sama dengan mitra bisnis yang telah mengadopsi prinsip ESG secara ketat.
Menurut laporan Deloitte 2024 CxO Sustainability Report, 85% organisasi melaporkan telah meningkatkan investasi keberlanjutan pada 2024, naik dari 75% dibanding tahun sebelumnya.
Tren ini juga terlihat di Indonesia, di mana berbagai perusahaan besar mulai menyelaraskan strategi bisnisnya dengan prinsip keberlanjutan.
Tidak hanya sebagai bentuk tanggung jawab sosial, tetapi juga sebagai langkah strategis untuk menjaga keberlangsungan bisnis di tengah tekanan pasar, regulasi ketat, dan tuntutan konsumen yang makin peduli lingkungan.
Beberapa contoh konkret dari perusahaan nasional dan multinasional yang berhasil menerapkan ESG secara terstruktur, sebuah referensi penting bagi Anda yang ingin memulai atau menyempurnakan praktik keberlanjutan di organisasi Anda.
Unilever telah menjadi pionir dalam menjadikan ESG bukan sekadar inisiatif tambahan, tetapi bagian inti dari strategi bisnis globalnya.
Melalui Unilever Sustainable Living Plan, perusahaan ini menargetkan pengurangan separuh jejak lingkungan dari produk-produknya sambil meningkatkan dampak sosial positif, mulai dari kesejahteraan petani kecil hingga penguatan akses kesehatan dan kebersihan.
Langkah Unilever tidak berhenti pada pengurangan emisi dan efisiensi rantai pasok.
Mereka juga menerapkan transparansi penuh dalam proses produksi dan distribusi, menjalin kerja sama berkelanjutan dengan mitra lokal, serta aktif mengangkat isu sosial seperti kesetaraan gender dan inklusi.
Hal ini menunjukkan bahwa keberlanjutan bisa menjadi keunggulan kompetitif yang memperkuat posisi brand di pasar global.
Bank Central Asia (BCA) merupakan contoh nyata dari perusahaan Indonesia yang berhasil mengintegrasikan prinsip ESG ke dalam proses bisnis inti.
Dalam beberapa tahun terakhir, BCA semakin aktif merilis laporan keberlanjutan yang mencerminkan komitmen mereka terhadap tata kelola yang baik, transparansi, serta tanggung jawab sosial dan lingkungan.
Selain memiliki kebijakan antikorupsi dan pengelolaan risiko yang ketat, BCA juga mendorong program inklusi finansial dengan menjangkau pelaku UMKM melalui layanan perbankan digital dan edukasi keuangan.
Upaya ini tidak hanya memperluas akses ekonomi bagi masyarakat, tetapi juga memperkuat fondasi keberlanjutan bisnis mereka dalam jangka panjang.
Kepercayaan nasabah dan pemangku kepentingan pun tumbuh seiring meningkatnya komitmen terhadap ESG.
Sebagai BUMN strategis di sektor energi, Pertamina memainkan peran penting dalam transisi menuju ekonomi rendah karbon di Indonesia.
Salah satu inisiatif utama mereka adalah pengembangan energi terbarukan, seperti bioenergi dan green refinery, yang bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan mengurangi emisi karbon.
Selain fokus pada energi bersih, Pertamina juga melakukan konservasi lingkungan dan pengelolaan limbah B3 secara bertanggung jawab.
Hal ini termasuk upaya restorasi lingkungan di area terdampak operasional dan kerja sama dengan masyarakat lokal untuk menciptakan program pemberdayaan yang berkelanjutan.
Dengan pendekatan ESG yang terintegrasi, Pertamina menunjukkan bahwa perusahaan energi pun dapat menjalankan transformasi hijau tanpa harus mengorbankan profitabilitas.
Penerapan ESG di perusahaan bukan hanya tentang memenuhi ekspektasi pasar, tetapi juga tentang membangun fondasi bisnis yang tahan terhadap perubahan zaman.
Baik Anda memimpin perusahaan besar, menengah, atau startup, membangun strategi ESG akan meningkatkan daya saing, efisiensi, dan kredibilitas perusahaan Anda.
Namun, merancang dan menjalankan inisiatif ESG membutuhkan pengetahuan, keterampilan, dan pendekatan yang sistematis.
Inilah saatnya Anda berinvestasi dalam pengembangan kapabilitas ESG di organisasi Anda.
Prasmul-eli hadir untuk mendampingi Anda melalui pelatihan dan program strategis dalam pengembangan ESG perusahaan.
Segera kunjungi situs kami dan temukan program pelatihan ESG yang tepat untuk kebutuhan Anda.
Karena masa depan bisnis bukan hanya soal pertumbuhan, tetapi keberlanjutan yang berdampak.