ESG Center
Berfokus dalam mendorong praktik bisnis berkelanjutan melalui layanan konsultasi, pelatihan, pendampingan, bantuan, serta solusi inovatif di bidang Environment, Social, and Governance (ESG).
Di era digital saat ini, media sosial telah berkembang dari sekadar platform komunikasi menjadi alat strategis dalam membangun positioning brand. Namun, efektivitasnya sangat bergantung pada bagaimana positioning tersebut disesuaikan dengan model bisnis. Masalah yang sering terjadi adalah banyak perusahaan menggunakan strategi yang sama untuk audiens B2B dan B2C. Akibatnya, pesan tidak relevan, engagement rendah, dan conversion tidak optimal.
McKinsey dalam laporan The New B2B Growth Equation menegaskan bahwa pelanggan B2B kini mengharapkan pengalaman digital yang setara dengan B2C, namun dengan pendekatan yang lebih rasional dan berbasis value. Solusinya? Anda perlu memahami perbedaan fundamental dalam perilaku, motivasi, dan journey antara B2B dan B2C, lalu menerjemahkannya ke dalam strategi positioning yang tepat di social media.
Artikel ini akan membantu Anda memahami secara komprehensif perbedaan social media positioning untuk B2B vs B2C, lengkap dengan insight berbasis riset, tren terbaru, dan rekomendasi strategis yang dapat Anda implementasikan langsung dalam organisasi Anda.
Memahami audiens adalah fondasi utama dalam membangun positioning yang efektif. Tanpa pemahaman ini, strategi social media Anda berisiko tidak relevan dan gagal menciptakan impact.
Audiens B2B dan B2C memiliki motivasi yang sangat berbeda dalam mengambil keputusan. Dalam konteks B2B, keputusan pembelian cenderung lebih rasional, melibatkan banyak stakeholder, dan berbasis pada ROI serta efisiensi bisnis.
Sementara itu, B2C lebih dipengaruhi oleh emosi, kebutuhan personal, dan pengalaman pengguna. Ini berarti positioning di social media harus mampu menjawab berbagai perspektif dalam satu waktu mulai dari finansial, operasional, hingga strategis.Oleh karena itu, pendekatan positioning harus lebih engaging dan relatable.
“People don’t buy what you do; they buy why you do it,” ujar Simon Sinek (Penulis Ternama Amerika Serikat)
Audiens B2B mengharapkan konten yang informatif, berbasis data, dan memberikan insight yang dapat diaplikasikan. Mereka mencari whitepaper, case study, webinar, dan konten edukatif lainnya. Ini menunjukkan bahwa positioning harus dibangun melalui thought leadership dan expertise.
Sebaliknya, audiens B2C lebih menyukai konten yang ringan, visual, dan menghibur. Platform seperti TikTok dan Instagram menjadi dominan karena kemampuannya dalam menyampaikan pesan secara cepat dan menarik. Dengan demikian, perbedaan ekspektasi ini harus menjadi dasar dalam merancang strategi positioning yang efektif.
Konten adalah kendaraan utama dalam menyampaikan positioning. Namun, jenis konten yang efektif untuk B2B dan B2C sangat berbeda.
Dalam B2B, konten yang edukatif dan berbasis insight menjadi kunci utama. Tujuannya adalah membangun kredibilitas dan kepercayaan sebagai expert di bidang tertentu. Ini menunjukkan bahwa positioning harus difokuskan pada value dan solusi, bukan sekadar promosi.
Contoh konten yang efektif meliputi:
Dalam konteks B2B, konten bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga alat edukasi dan konversi.
“Content is the reason search began in the first place,” ujar Lee Odden (CEO dan Co-Founder dari TopRank Marketing).
Berbeda dengan B2B, B2C lebih mengandalkan konten yang mampu membangun koneksi emosional. Storytelling, humor, dan visual yang menarik menjadi elemen penting. Ini menunjukkan bahwa positioning harus dikemas secara kreatif dan engaging.
Jenis konten yang efektif untuk B2C antara lain:
Pendekatan ini membantu brand menjadi lebih relatable dan dekat dengan audiens. Hal ini berpotensi brand seperti hadir dalam persepsi dan perilaku mereka yang mempengaruhi preferensi mereka membeli.
Pemilihan platform juga menjadi faktor penting dalam social media positioning. Kini, media sosial menjadi dunia kedua bagi masyarakat di era digital untuk saling berinteraksi. Brand bisa memanfaatkan ini sebagai media untuk mendistribusikan strategi pemasaran.
LinkedIn menjadi platform utama untuk B2B karena fokusnya pada profesional dan bisnis. Platform ini memungkinkan perusahaan untuk:
Positioning di LinkedIn harus bersifat profesional, kredibel, dan berbasis data. Para pengguna LinkedIn lebih kritis karena setiap interaksi berpengaruh terhadap kredibilitas mereka sebagai profesional. Itulah kenapa pengguna data sangat menjadi perhatian agar mereka berminat untuk berinteraksi, bahkan membagikan konten brand Anda.
Untuk B2C, platform seperti Instagram, TikTok, dan YouTube menjadi pilihan utama. Platform ini memungkinkan brand untuk berinteraksi secara lebih santai dan kreatif. Kelebihan ini bisa membuat brand menyajikan kampanye yang bersifat personal sehingga relatable dengan audiens.
Menurut laporan TikTok, 67% pengguna mengatakan bahwa TikTok menginspirasi mereka untuk membeli produk, bahkan ketika mereka tidak berniat sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa positioning di B2C harus lebih fleksibel, kreatif, dan mengikuti tren. Pada akhirnya, audiens merasa penasaran atau FOMO terhadap brand untuk mencobanya.
Mengukur keberhasilan positioning juga berbeda antara B2B dan B2C. Anda harus mempertimbangkan beberapa kategori KPI berikut:
Dalam B2B, fokus utama adalah menghasilkan lead berkualitas dan konversi. Oleh karena itu, KPI yang digunakan meliputi:
Perusahaan B2B yang fokus pada lead nurturing memiliki peluang 50% lebih besar untuk meningkatkan penjualan. Pasalnya, calon klien B2B Anda membutuhkan interaksi lebih intens karena mereka membutuhkan pertimbangan dari beberapa stakeholder sebelum memilih brand. Anda harus benar-benar meyakinkan bahwa brand Anda memberikan dampak pada bisnis klien Anda.
Sementara itu, B2C lebih fokus pada engagement dan brand awareness. KPI yang digunakan antara lain:
Namun, penting untuk diingat bahwa engagement harus tetap dikaitkan dengan business outcome. Bagaimanapun, setiap kampanye adalah bagian dari setiap keputusan bisnis untuk meningkatkan pendapatan. Dengan pengaitan tersebut, Anda akan lebih tepat mengelola setiap variabel yang memberikan dampak positif paling besar pada bisnis.
B2B lebih fokus pada edukasi dan rasionalitas, sedangkan B2C lebih mengandalkan emosi dan storytelling.
LinkedIn adalah platform utama karena fokus pada profesional dan bisnis.
Ya, tetapi tetap harus informatif dan relevan.
Gunakan KPI yang sesuai dengan tujuan bisnis—lead untuk B2B, engagement untuk B2C.
Tidak sepenuhnya. Perlu adaptasi sesuai karakteristik audiens.
Memahami perbedaan social media positioning untuk B2B vs B2C bukan hanya penting, tetapi krusial untuk memastikan strategi digital Anda relevan, efektif, dan memberikan dampak nyata bagi bisnis. Jika Anda ingin mengembangkan strategi positioning yang lebih terarah, berbasis data, dan terintegrasi dengan strategi bisnis, saatnya Anda mengambil langkah lebih lanjut.
Kunjungi program pelatihan resmi dari prasmul-eli tentang Strategic Brand Management. Program ini dirancang untuk membantu Anda membangun positioning brand yang kuat, meningkatkan daya saing, serta menciptakan pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.
Saatnya membawa strategi Anda ke level berikutnya bersama prasmul-eli.
WAWASAN DAN PENGETAHUAN
REKOMENDASI ARTIKEL