ESG Center
Berfokus dalam mendorong praktik bisnis berkelanjutan melalui layanan konsultasi, pelatihan, pendampingan, bantuan, serta solusi inovatif di bidang Environment, Social, and Governance (ESG).
Di tengah percepatan transformasi digital, social media tidak lagi sekadar kanal komunikasi, melainkan menjadi pusat strategi positioning bisnis. Berdasarkan laporan Digital 2025 Global Overview Report oleh DataReportal, lebih dari 5 miliar pengguna aktif media sosial secara global menjadikan platform ini sebagai arena utama dalam membangun brand perception, trust, hingga keputusan pembelian. Namun, pertanyaannya: apakah strategi positioning yang Anda gunakan saat ini masih relevan untuk menghadapi 2026?
Banyak perusahaan masih terjebak dalam pendekatan lama, fokus pada konten viral, tanpa fondasi positioning yang kuat. Akibatnya, brand kehilangan diferensiasi, engagement menurun, dan konversi tidak optimal. Di sinilah pentingnya memahami Trend Social Media Positioning 2026, sebuah pendekatan strategis yang tidak hanya mengikuti tren, tetapi juga mampu mengintegrasikan data, teknologi, dan human insight dalam membangun positioning yang kuat dan berkelanjutan.
Memasuki 2026, positioning di media sosial tidak lagi tentang siapa yang paling menarik perhatian, tetapi siapa yang paling dipercaya. Berdasarkan laporan Edelman Trust Barometer 2025, 81% konsumen menyatakan bahwa mereka hanya akan membeli dari brand yang mereka percaya. Ini menunjukkan adanya pergeseran dari attention economy menuju trust economy.
Konsumen saat ini memiliki akses informasi yang luas dan kemampuan untuk membandingkan brand secara instan. Mereka tidak lagi mudah terpengaruh oleh konten promosi yang bersifat generik. Sebaliknya, mereka mencari transparansi, konsistensi, dan nilai yang relevan dengan kebutuhan mereka. Oleh karena itu, positioning harus dibangun berdasarkan real value, bukan sekadar storytelling.
“Trust is the new currency of brand success,” ujar Richard Edelman, CEO of Edelman. Pernyataan ini menegaskan bahwa tanpa trust, strategi positioning akan kehilangan efektivitasnya.
Community-driven marketing menjadi salah satu tren utama dalam social media positioning. Brand tidak lagi menjadi pusat komunikasi, melainkan fasilitator bagi komunitas untuk berinteraksi dan berbagi pengalaman.
Laporan dari Sprout Social menunjukkan bahwa 66% konsumen merasa lebih loyal terhadap brand yang aktif membangun komunitas. Ini berarti positioning harus melibatkan user-generated content, engagement dua arah, dan partisipasi aktif dari audiens. Dengan kata lain, positioning yang kuat pada 2026 adalah positioning yang dibangun bersama, bukan ditentukan sepihak oleh brand.
Artificial Intelligence (AI) telah menjadi game changer dalam strategi digital marketing, termasuk dalam membangun positioning di media sosial. Penggunaan AI memungkinkan perusahaan untuk memahami audiens secara lebih mendalam dan menyampaikan pesan yang lebih personal.
AI memungkinkan segmentasi audiens yang lebih granular, analisis perilaku secara real-time, dan penyampaian konten yang disesuaikan dengan preferensi individu. Dalam konteks positioning, ini berarti brand harus mampu menyampaikan value proposition yang berbeda untuk setiap segmen.
Di samping itu, penting untuk diingat bahwa personalisasi harus tetap menjaga etika dan privasi data. Transparansi dalam penggunaan data menjadi faktor penting dalam menjaga trust. Saat Anda mengabaikan hal ini, besar kemungkinan brand tidak lagi mendapat kepercayaan publik dan terjadi penurunan pada business outcome.
Selain personalisasi, AI juga memungkinkan penggunaan predictive analytics untuk mengantisipasi tren dan perilaku konsumen. Ini memberikan keunggulan kompetitif bagi perusahaan dalam merancang strategi positioning yang lebih proaktif.
“AI will not replace marketers, but marketers who use AI will replace those who don’t,” ujar Paul Roetzer, founder Marketing AI Institute. Ini menunjukkan bahwa integrasi AI bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan strategis.
Di tengah dominasi teknologi, justru nilai-nilai human menjadi semakin penting dalam membangun positioning yang kuat. Konsumen ingin berinteraksi dengan brand yang terasa “nyata”, bukan sekadar entitas korporat.
Authenticity menjadi faktor utama dalam membangun koneksi emosional dengan audiens. Brand yang mampu menyampaikan cerita yang jujur, relevan, dan konsisten akan lebih mudah mendapatkan trust. Pada dasarnya, ini akan menjalin koneksi emosional antara brand dan audiens.
Authentic storytelling bukan berarti sempurna, tetapi jujur dan transparan. Ini mencakup keberhasilan, tantangan, bahkan kegagalan yang dapat memberikan pembelajaran bagi audiens. Selanjutnya, brand akan mendapat kepercayaan berupa atensi melalui interaksi secara berkelanjutan.
Selain brand, individu di balik perusahaan, terutama pemimpin, juga memainkan peran penting dalam positioning. Bagaimanapun, individu adalah penggerak kampanye branding dan mereka membutuhkan kepemimpinan efektif dalam tim. Mereka membutuhkan perencanaan, eksekusi, dan evaluasi berkala dari setiap level pemimpin.
Leadership branding menjadi tren yang semakin kuat, di mana CEO atau eksekutif aktif membangun personal brand di media sosial. Ini menunjukkan bahwa positioning tidak hanya dibangun oleh brand, tetapi juga oleh orang-orang di dalamnya. Leadership branding yang kuat dapat meningkatkan kredibilitas, trust, dan diferensiasi perusahaan.
Social media positioning tidak boleh berdiri sendiri. Ia harus terintegrasi dengan strategi bisnis secara keseluruhan agar memberikan dampak yang signifikan.
Positioning yang efektif harus selaras dengan visi, misi, dan tujuan bisnis. Tanpa alignment, social media hanya akan menjadi aktivitas taktis yang tidak memberikan kontribusi strategis. Padahal, setiap aktivitas bernilai biaya yang harus terbayar ketika aktivitas tersebut berdampak positif pada business outcome.
Setiap aktivitas harus dijelaskan dengan pencapaian berdasarkan indikator yang memengaruhi bisnis. Ini berarti setiap aktivitas di media sosial harus memiliki tujuan yang jelas dan terukur, serta mendukung pencapaian business objectives. Jadi, secara keseluruhan ini harus selaras dengan strategi bisnis yang telah direncanakan.
Salah satu tantangan dalam social media positioning adalah mengukur dampaknya terhadap bisnis. Oleh karena itu, penting untuk memiliki KPI yang jelas dan tools yang tepat untuk mengukur performa. Dengan menggunakan tools analytics dan dashboard yang terintegrasi, perusahaan dapat mengukur metrik seperti brand awareness, engagement, conversion, hingga customer lifetime value.
“Without data, you’re just another person with an opinion,” ujar W. Edwards Deming. Ini menegaskan pentingnya data dalam pengambilan keputusan strategis. Sedangkan data harus menggunakan tools yang secara efektif menyajikan informasi yang akurat.
Social media positioning adalah strategi untuk membentuk persepsi audiens terhadap brand melalui konten, komunikasi, dan interaksi di media sosial.
Karena media sosial menjadi kanal utama dalam membentuk trust, engagement, dan keputusan pembelian konsumen.
Dengan memahami audiens, menggunakan data dan AI, membangun authenticity, serta mengintegrasikannya dengan strategi bisnis.
Tidak, tetapi marketer yang menggunakan AI akan memiliki keunggulan kompetitif dibandingkan yang tidak.
Mengukur ROI, menjaga konsistensi brand, serta membangun trust di tengah banyaknya informasi.
Menghadapi Trend Social Media Positioning 2026, perusahaan dituntut untuk tidak hanya adaptif, tetapi juga strategis. Positioning bukan lagi sekadar aktivitas marketing, melainkan bagian integral dari strategi bisnis yang menentukan daya saing perusahaan di era digital.
Jika Anda ingin memperdalam pemahaman dan mengembangkan strategi positioning yang efektif dan terintegrasi, Anda dapat mengikuti program pelatihan dari prasmul-eli melalui Strategic Brand Management. Program ini dirancang untuk membantu Anda membangun brand yang kuat, relevan, dan berkelanjutan di tengah dinamika pasar yang terus berubah.
Saatnya membawa strategi Anda ke level berikutnya bersama prasmul-eli.
WAWASAN DAN PENGETAHUAN
REKOMENDASI ARTIKEL